-->
UPDATE
Memuat UPDATE...

Menunggu Dua Centang Biru

- 09.06
advertise here
Oleh: Syabaharza (Kepala Sekolah MTs Al-Hidayah Toboali) Minggu, 1 November 2026,  09:06 WIB

Syabaharza (Sumber: Dokpri)

“Selamat pagi pak!, Selamat datang di sekolah kami! Silakan masuk”

Seorang wanita berpakaian putih menyambutku dengan senyum manisnya.

Wanita itu kemudian mengantarku ke ruang kepala sekolah yang cukup mewah. Ruang itu seakan menceritakan prestasi luar biasa yang diraih siswanya, itu dapat dibuktikan dengan berjibunnya tropi juara di lemari kaca yang berada di samping meja kepala sekolah.

“Mohon tunggu sebentar ya pak!”

Wanita berpakaian putih itu kembali menyapaku dengan lemah lembut. Sambil ia menyodorkan beberapa gelas air mineral.

Aku hanya mengangguk sambil membalas dengan senyuman yang kuanggap paling manis. Setelah itu keheningan menguasaiku, karena sekarang aku tinggal sendiri di ruang kepala yang mulai dingin dengan pendingin ruangan yang cukup besar.

Wanita berpakaian putih itu sudah berlalu dari hadapanku setelah tadi berpamitan hendak memanggil sang kepala sekolah yang masih ada tugas di ruang kelas. Sambil menunggu kehadiran sang kepala sekolah, mataku liar menatap seluruh bagian ruang berarsitektur modern tersebut.

Selain deretan tropi juara yang ada di lemari. Mataku juga tertuju kepada beberapa plakat arkrilik dengan berbagai warna dan tulisan. Namun yang membuat aku kagum, di antara barisan plakat itu ada suatu yang nyentrik menurutku. Bentuknya seperti bulu ayam tapi ada mata penanya. Dan yang membuatku semakin kagum adalah tulisan di bawahnya.

“JUARA 1 LOMBA MENULIS CERPEN TINGKAT NASIONAL”

Begitulah tulisan yang terpahat dengan rapi di plakat itu.

Setelah puas dengan berbagai plakat yang menakjubkan tadi, sekarang mataku tertuju di bagian sudut ruangan bercat putih itu. Di sana tampak tertata rapi sebuah lukisan kaligrafi yang sangat menawan. Sebuah tulisan kalimat toyyibah dengan jenis kaligrafi diwani. Jika diamati dengan seksama karya kaligrafi tersebut dibuat oleh tangan yang benar-benar ahli. Terlihat sekali tarikan huruf per hurufnya. Tebal tipisnya, tegak miringnya sungguh sangat aduhai. Jika boleh meminjam istilah kepolisian sungguh sangat presisi. Ditambah pemilihan warna catnya yang harmonis, menambah semakin tidak bosan memandang lukisan tersebut.

“Assalamu’alaikum”

Tiba-tiba terdengar suara salam bersamaan dengan terbukanya pintu ruangan tempatku berada.

“Wa’alaikumussalam”

Dengan setengah kaget aku menjawab salam lelaki yang langsung masuk ke ruangan yang membuatku terkagum-kagum tadi.

“Mohon maaf pak Wawan, sudah lama menunggu ya?”

Sebuah basa-basi yang bertujuan untuk mencairkan suasana.

“Silakan duduk pak!”

Lelaki itu kembali berbicara tanpa menuntut jawaban dari pertanyaannya tadi.

Mungkin karena melihatku masih berdiri di depan lukisan kaligrafi yang kukagumi tadi.

“o..ya pak, terima kasih”

Aku duduk di kursi jati berwarna merah. Sebenarnya aku sedikit malu dan gugup, tapi berusaha ku tutupi dengan memberikan senyuman kepada lelaki itu.

“Kenalkan! Saya kepala sekolah di sini”

Sambil mengulurkan tangannya, lelaki itu menyebutkan namanya. Dengan refleks aku pun menyambut uluran tanganku tanpa menyebutkan namaku. Kupikir lelaki itu sudah mengetahui namaku dari gurunya yang menjadi perantara hadirnya aku di sekolah ini.

Pasca perkenalan tersebut, obrolan kami mengalir laksana air laut yang sedang pasang. Berbagai omongan sudah keluar dari bibir kami, mulai dari obrolan serius sampai kepada obrolan yang terkesan basa-basi.

Aku kagum dengan lelaki yang berbadan tinggi besar itu. Selain wajahnya yang tampan, cara berkomunikasinya juga membuatku semakin resfect. Beliau orangya sangat supel sehingga dalam hitungan menit saja kami sudah sangat akrab. Jika orang tidak mengetahuinya pasti sudah menebak bahwa kami adalah sahabat lama. Pakaian warna putih yang dikenakannya menambah wibawanya. Walau pakaian sama putih dengan wanita yang menyambutku tadi, tetapi aksesori di pakaiannya yang membuatnya sangat berbeda.

“Sebentar ya pak, saya cek dulu tempatnya”

Setelah selesai mengucapkan kata-kata itu, sang kepala sekolah kembali keluar ruangan dan seperti biasa tanpa menunggu jawaban dariku.

Aku kembali hanya bisa membisu dan menunggu.

*****

“Ting”

Tiba-tiba gawayku berbunyi dan sebuah notifikasi pesan WhatsApp terlihat dengan jelas.

“Wan….Bapak lagi sakit, cepat kau pulang”

Isi pesan yang baru saja terbuka di gawayku. Ternyata pesan itu datang dari kakakku.

Aku galau mendapat info tersebut, karena sebentar lagi aku akan mengisi sebuah acara di sekolah ini. Sedangkan di tempat lain orang tuaku sedang mengalami sakit. Perasaanku campur aduk, antara berbakti kepada orang tua atau melaksanakan tugas secara professional.

“Ting”

Kembali handphoneku menerima pesan dari dari kakakku. Kali ini pesannya bertambah gawat. Ia mengabarkan bahwa orang tua kami sudah sekarat. Perasaanku semakin tidak karuan.

Jika aku bisa membelah tubuhku, tentu akan aku bagi. Belahan pertama akan kuletakkan di sekolah ini dan mengisi acara belahan satunya akan kukirim untuk menjenguk orang tuaku. Tapi itu semua mustahil, aku hanya manusia biasa yang memiliki keterbatasan. Dan aku pun masih tidak percaya jika ada manusia yang mampu membelah diri seperti dalam komik-komik yang sering kubaca.

Kupegang erat-erat handphone berwarna hitam yang kaca depannya sudah retak itu. Kubuka lagi pesan yang barusan masuk, kubaca berulang-ulang takutnya aku keliru dalam membaca. Pesan yang hanya mampu kubaca tanpa mampu kubalas. Namun setiap kuulang membaca pesannya tetap sama. Bahkan semakin sering aku membacanya, perasaan galau semakin menyerang hatiku tanpa bisa kuhalau.  

Akhirnya dengan sedikit keberanian, kubalas pesan dari saudara kandungku itu.

“Bagaimana keadaan orang tua kita?”

Pesanku sudah terkirim, namun tidak langsung dibaca. Centang dua warna hitam itu bagiku pertanda bahwa pesanku belum dibaca, karena begitulah umumnya yang sering terjadi pada pesan WhatsApp, walaupun terkadang ada juga yang menyetel pesannya seperti itu tapi sesungguhnya mereka sudah membacanya.

Sudah hampir lima menit belum juga ada balasan dari saudara kandungku. Kubuka kembali handphone bermerk Sumsang itu, tapi tetap saja tandanya tidak berubah menjadi biru. Perasaanku bertambah kalut. Perasaanku bercabang. Perasaanku sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Perasaanku menjadi tegang. Aku menjadi orang yang panik. Aku pun melamun.

“Pak Wawan, pesertanya sudah siap”

Aku sedikit terkejut dan sadar dari lamunanku.

“Baik pak”

Jawabku sekenanya.

Aku keluar dari ruangan kepala sekolah itu menuju ruang kegiatan dengan perasaan campur aduk.

*****

“Alhamdulillah. Terima kasih pak atas transfer ilmunya”

Sang kepala sekolah menjabat tanganku sambil tersenyum. Aku pun hanya bisa tersenyum.

“Sama-sama pak”

Aku menjawab sambil berjalan beriringan dengan sang kepala sekolah menuju ruangannya kembali.

Ucapan kepala sekolah itu membuatku bertambah galau. Aku bingung harus bahagia atau bersedih. Di satu sisi aku sudah menjalankan tugas dengan sukses, di sisi lain aku harus rela tidak bisa menjenguk orang tua yang sedang terbaring di rumah sakit.

“Bagaimana antusias guru-guru kami pak”

Sang kepala sekolah kembali mengajukan pertanyaan. Namun kali ini tampaknya ia membutuhkan jawaban dariku, tidak seperti pertanyaan-pertanyaan sebelumnya.

“Luar biasa pak, mereka sangat welcome”

Aku menjawab dengan hati yang masih bercabang, walau demikian jawabanku itu memang benar. Sebab selama kegiatan guru-guru di sekolah itu tidak berhenti bertanya tentang hal-hal yang teknis. Terlihat sekali jika mereka ingin mengubah diri menjadi orang yang bertumbuh.

Pengaruh pesanku yang belum dibaca tadi membuatku sedikit seperti orang linglung, sehingga aku tidak sadar jika sudah berada di depan pintu ruang kepala sekolah, bahkan hampir saja aku menabrak pintunya. Kulihat sang kepala sekolah mau tertawa tapi ditahannya, mungkin takut jika aku tersinggng.

Aku hanya bisa mesem-mesem saja meperhatikan sang kepala sekolah yang berusaha menahan tawanya. Sambil mataku kembali tertuju ke layar gawayku, aku ingin memastikan jawaban dari saudaraku tentang kabar orang tua ku. Tetapi hasilnya tetap sama, centang dua warna hitam.

Dalam hatiku bertanya-tanya

“Apa kabar saudaraku, sehingga tidak sempat membaca pesanku?”

“Apa kabar orang tuaku?”

*****

BIONARASI PENULIS

Syabaharza adalah nama pena dari Penulis. Ia adalah Putra asli Pelabuhan Dalam Pemulutan ini sekarang berdiam di Desa Keposang Kecamatan Toboali Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Ia bisa dihubungi di syamsulpemulutan81@gmail.com

Terimakasih sudah memberikan masukan dan saran
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search

Catatan: