“Selamat pagi pak!, Selamat datang di sekolah kami!
Silakan masuk”
Seorang wanita berpakaian putih menyambutku dengan
senyum manisnya.
Wanita itu kemudian mengantarku ke ruang kepala
sekolah yang cukup mewah. Ruang itu seakan menceritakan prestasi luar biasa
yang diraih siswanya, itu dapat dibuktikan dengan berjibunnya tropi juara di
lemari kaca yang berada di samping meja kepala sekolah.
“Mohon tunggu sebentar ya pak!”
Wanita berpakaian putih itu kembali menyapaku dengan lemah
lembut. Sambil ia menyodorkan beberapa gelas air mineral.
Aku hanya mengangguk sambil membalas dengan senyuman
yang kuanggap paling manis. Setelah itu keheningan menguasaiku, karena sekarang
aku tinggal sendiri di ruang kepala yang mulai dingin dengan pendingin ruangan
yang cukup besar.
Wanita berpakaian putih itu sudah berlalu dari
hadapanku setelah tadi berpamitan hendak memanggil sang kepala sekolah yang
masih ada tugas di ruang kelas. Sambil menunggu kehadiran sang kepala sekolah,
mataku liar menatap seluruh bagian ruang berarsitektur modern tersebut.
Selain deretan tropi juara yang ada di lemari. Mataku juga
tertuju kepada beberapa plakat arkrilik dengan berbagai warna dan tulisan. Namun
yang membuat aku kagum, di antara barisan plakat itu ada suatu yang nyentrik
menurutku. Bentuknya seperti bulu ayam tapi ada mata penanya. Dan yang
membuatku semakin kagum adalah tulisan di bawahnya.
“JUARA 1 LOMBA MENULIS CERPEN TINGKAT NASIONAL”
Begitulah tulisan yang terpahat dengan rapi di plakat
itu.
Setelah puas dengan berbagai plakat yang menakjubkan
tadi, sekarang mataku tertuju di bagian sudut ruangan bercat putih itu. Di sana
tampak tertata rapi sebuah lukisan kaligrafi yang sangat menawan. Sebuah tulisan
kalimat toyyibah dengan jenis kaligrafi diwani. Jika diamati dengan seksama
karya kaligrafi tersebut dibuat oleh tangan yang benar-benar ahli. Terlihat sekali
tarikan huruf per hurufnya. Tebal tipisnya, tegak miringnya sungguh sangat
aduhai. Jika boleh meminjam istilah kepolisian sungguh sangat presisi. Ditambah
pemilihan warna catnya yang harmonis, menambah semakin tidak bosan memandang
lukisan tersebut.
“Assalamu’alaikum”
Tiba-tiba terdengar suara salam bersamaan dengan
terbukanya pintu ruangan tempatku berada.
“Wa’alaikumussalam”
Dengan setengah kaget aku menjawab salam lelaki yang
langsung masuk ke ruangan yang membuatku terkagum-kagum tadi.
“Mohon maaf pak Wawan, sudah lama menunggu ya?”
Sebuah basa-basi yang bertujuan untuk mencairkan
suasana.
“Silakan duduk pak!”
Lelaki itu kembali berbicara tanpa menuntut jawaban
dari pertanyaannya tadi.
Mungkin karena melihatku masih berdiri di depan
lukisan kaligrafi yang kukagumi tadi.
“o..ya pak, terima kasih”
Aku duduk di kursi jati berwarna merah. Sebenarnya aku
sedikit malu dan gugup, tapi berusaha ku tutupi dengan memberikan senyuman
kepada lelaki itu.
“Kenalkan! Saya kepala sekolah di sini”
Sambil mengulurkan tangannya, lelaki itu menyebutkan
namanya. Dengan refleks aku pun menyambut uluran tanganku tanpa menyebutkan
namaku. Kupikir lelaki itu sudah mengetahui namaku dari gurunya yang menjadi
perantara hadirnya aku di sekolah ini.
Pasca perkenalan tersebut, obrolan kami mengalir laksana
air laut yang sedang pasang. Berbagai omongan sudah keluar dari bibir kami,
mulai dari obrolan serius sampai kepada obrolan yang terkesan basa-basi.
Aku kagum dengan lelaki yang berbadan tinggi besar
itu. Selain wajahnya yang tampan, cara berkomunikasinya juga membuatku semakin resfect.
Beliau orangya sangat supel sehingga dalam hitungan menit saja kami sudah
sangat akrab. Jika orang tidak mengetahuinya pasti sudah menebak bahwa kami
adalah sahabat lama. Pakaian warna putih yang dikenakannya menambah wibawanya. Walau
pakaian sama putih dengan wanita yang menyambutku tadi, tetapi aksesori di
pakaiannya yang membuatnya sangat berbeda.
“Sebentar ya pak, saya cek dulu tempatnya”
Setelah selesai mengucapkan kata-kata itu, sang kepala
sekolah kembali keluar ruangan dan seperti biasa tanpa menunggu jawaban dariku.
Aku kembali hanya bisa membisu dan menunggu.
*****
“Ting”
Tiba-tiba gawayku berbunyi dan sebuah notifikasi pesan
WhatsApp terlihat dengan jelas.
“Wan….Bapak lagi sakit, cepat kau pulang”
Isi pesan yang baru saja terbuka di gawayku. Ternyata pesan
itu datang dari kakakku.
Aku galau mendapat info tersebut, karena sebentar lagi
aku akan mengisi sebuah acara di sekolah ini. Sedangkan di tempat lain orang
tuaku sedang mengalami sakit. Perasaanku campur aduk, antara berbakti kepada
orang tua atau melaksanakan tugas secara professional.
“Ting”
Kembali handphoneku menerima pesan dari dari kakakku. Kali
ini pesannya bertambah gawat. Ia mengabarkan bahwa orang tua kami sudah sekarat.
Perasaanku semakin tidak karuan.
Jika aku bisa membelah tubuhku, tentu akan aku bagi. Belahan
pertama akan kuletakkan di sekolah ini dan mengisi acara belahan satunya akan
kukirim untuk menjenguk orang tuaku. Tapi itu semua mustahil, aku hanya manusia
biasa yang memiliki keterbatasan. Dan aku pun masih tidak percaya jika ada
manusia yang mampu membelah diri seperti dalam komik-komik yang sering kubaca.
Kupegang erat-erat handphone berwarna hitam yang kaca
depannya sudah retak itu. Kubuka lagi pesan yang barusan masuk, kubaca
berulang-ulang takutnya aku keliru dalam membaca. Pesan yang hanya mampu kubaca
tanpa mampu kubalas. Namun setiap kuulang membaca pesannya tetap sama. Bahkan semakin
sering aku membacanya, perasaan galau semakin menyerang hatiku tanpa bisa
kuhalau.
Akhirnya dengan sedikit keberanian, kubalas pesan dari
saudara kandungku itu.
“Bagaimana keadaan orang tua kita?”
Pesanku sudah terkirim, namun tidak langsung dibaca. Centang
dua warna hitam itu bagiku pertanda bahwa pesanku belum dibaca, karena
begitulah umumnya yang sering terjadi pada pesan WhatsApp, walaupun terkadang
ada juga yang menyetel pesannya seperti itu tapi sesungguhnya mereka sudah
membacanya.
Sudah hampir lima menit belum juga ada balasan dari
saudara kandungku. Kubuka kembali handphone bermerk Sumsang itu, tapi tetap
saja tandanya tidak berubah menjadi biru. Perasaanku bertambah kalut. Perasaanku
bercabang. Perasaanku sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Perasaanku menjadi
tegang. Aku menjadi orang yang panik. Aku pun melamun.
“Pak Wawan, pesertanya sudah siap”
Aku sedikit terkejut dan sadar dari lamunanku.
“Baik pak”
Jawabku sekenanya.
Aku keluar dari ruangan kepala sekolah itu menuju
ruang kegiatan dengan perasaan campur aduk.
*****
“Alhamdulillah. Terima kasih pak atas transfer ilmunya”
Sang kepala sekolah menjabat tanganku sambil
tersenyum. Aku pun hanya bisa tersenyum.
“Sama-sama pak”
Aku menjawab sambil berjalan beriringan dengan sang
kepala sekolah menuju ruangannya kembali.
Ucapan kepala sekolah itu membuatku bertambah galau. Aku
bingung harus bahagia atau bersedih. Di satu sisi aku sudah menjalankan tugas
dengan sukses, di sisi lain aku harus rela tidak bisa menjenguk orang tua yang
sedang terbaring di rumah sakit.
“Bagaimana antusias guru-guru kami pak”
Sang kepala sekolah kembali mengajukan pertanyaan. Namun
kali ini tampaknya ia membutuhkan jawaban dariku, tidak seperti pertanyaan-pertanyaan
sebelumnya.
“Luar biasa pak, mereka sangat welcome”
Aku menjawab dengan hati yang masih bercabang, walau
demikian jawabanku itu memang benar. Sebab selama kegiatan guru-guru di sekolah
itu tidak berhenti bertanya tentang hal-hal yang teknis. Terlihat sekali jika
mereka ingin mengubah diri menjadi orang yang bertumbuh.
Pengaruh pesanku yang belum dibaca tadi membuatku
sedikit seperti orang linglung, sehingga aku tidak sadar jika sudah berada di
depan pintu ruang kepala sekolah, bahkan hampir saja aku menabrak pintunya. Kulihat
sang kepala sekolah mau tertawa tapi ditahannya, mungkin takut jika aku
tersinggng.
Aku hanya bisa mesem-mesem saja meperhatikan sang
kepala sekolah yang berusaha menahan tawanya. Sambil mataku kembali tertuju ke layar
gawayku, aku ingin memastikan jawaban dari saudaraku tentang kabar orang tua
ku. Tetapi hasilnya tetap sama, centang dua warna hitam.
Dalam hatiku bertanya-tanya
“Apa kabar saudaraku, sehingga tidak sempat membaca
pesanku?”
“Apa kabar orang tuaku?”
*****
BIONARASI PENULIS
Syabaharza adalah nama pena dari Penulis. Ia adalah Putra asli Pelabuhan Dalam Pemulutan ini sekarang berdiam di Desa Keposang Kecamatan Toboali Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Ia bisa dihubungi di syamsulpemulutan81@gmail.com
Terimakasih sudah memberikan masukan dan saran
EmoticonEmoticon