-->
UPDATE
Memuat UPDATE...

Guru yang Membekas

- 09.36
advertise here
Oleh: Salembasolo (Sekolah Lembah Manah Solo) Minggu, 1 November 2026,  09:35 WIB


Ilustrasi Guru Yang Membekas (Sumber:MetaAi)

Guru yang Paling Membekas Bukan yang Paling Pintar, tapi yang Paling Peduli 

Coba berhenti sebentar dan ingat-ingat: siapa guru yang paling membekas dalam ingatan kita?

Aku sudah mencoba menjawabnya berkali-kali. Yang muncul hampir selalu bukan guru dengan penjelasan paling rapi atau gelar paling tinggi. Yang muncul adalah guru yang pernah menoleh ketika aku sedang diam.

Aku ingat satu guru yang tidak bertanya "kenapa nilaimu turun?", tapi "kamu baik-baik saja?". Pertanyaan itu pendek, tapi hari itu terasa seperti ada yang membuka pintu. 

Rumus-rumus yang ia ajarkan sudah lama kabur dari ingatanku. Cara ia menatapku, seolah aku manusia dan bukan sekadar angka di buku nilai, tidak pernah hilang.

Dari situ aku mulai berfikir bahwa kita sering salah menaruh ukuran. Kita menilai guru dari kecerdasannya, dari materi yang tuntas, dari target kurikulum yang terkejar. Semua itu penting dan tidak boleh diremehkan. 

Ingatan murid ternyata bekerja dengan cara lain. Murid jarang menyimpan isi pelajaran selama puluhan tahun, tapi mereka menyimpan rasa. Rasa dihargai, rasa dipercaya, rasa bahwa ada orang dewasa yang melihat mereka.

Bapak/Ibu guru, kami tahu kepedulian itu tidak mudah di tengah administrasi, kelas penuh, dan lelah yang jarang ditanyakan. Mungkin karena itu ia begitu berharga. Tidak masuk rapor, tapi dibawa murid sampai dewasa.

Murid jarang kembali untuk berterima kasih. Namun di luar sana, ada yang bertahan karena pernah dipedulikan oleh guru yang bahkan sudah lupa pernah mengatakannya.

Bapak Ibu Guru pulang dengan tumpukan administrasi, kelas yang penuh, gaji yang belum sepadan, dan lelah yang jarang ditanyakan siapa pun. 

Peduli kadang terasa seperti kemewahan di tengah tuntutan yang tak habis. Mungkin karena itulah kepedulian yang tetap Bapak & Ibu berikan terasa begitu berharga. 

Ia tidak masuk rapor, tidak ada indikator kinerjanya, dan sering tidak ada yang menyadarinya.

Padahal, di bangku paling belakang itu mungkin ada anak yang sedang menahan sesuatu di rumah. Anak yang tiba-tiba pendiam mungkin bukan malas, tapi sedang kewalahan. 

Anak yang "nakal" mungkin sedang mencari satu orang yang mau bertahan menghadapinya. Kadang satu kalimat sederhana dari kita, "Bapak/Ibu percaya kamu bisa", menjadi kalimat yang ia bawa sampai dewasa.

Barangkali kita tidak pernah tahu dampak sebenarnya. Murid jarang kembali untuk bilang terima kasih. Tapi tanpa sepengetahuan kita, ada orang di luar sana yang bertahan karena pernah dipedulikan oleh seorang guru yang bahkan sudah lupa pernah mengatakannya.

Di Sekolah Lembah Manah Solo (@salembasolo), kita percaya bahwa pendidikan yang baik dimulai dari hubungan yang baik.

Maka, mari kita merenung bersama:

Siapa guru yang membekas di ingatan selama sekolah atau kuliah, dan apa yang sebenarnya ia berikan selain pelajaran?

Dan kalau hari ini ada murid yang kelak mengingat Bapak Ibu, kira-kira apa yang ingin ia ingat?

Terimakasih sudah memberikan masukan dan saran
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search

Catatan: