Oleh: Ummi Sulis (Guru SD Negeri 3 Pulau Besar) Sabtu, 31 Oktober 2026, 04:52 WIB
Hore, hujan telah turun, hujan telah turun, hore ... hore ... hore. Begitulah nyanyian Adek Senin sore ini. Abang malah mencebikkan mulutnya dan bergumam; 'lebay'! Padahal mengekspresikan perasaan adalah bagian dari bahagia. Namun, kedua beradik itu seperti kutub yang sama bila bertemu, tolak menolak. Mungkin maksud Abang hanya menggoda saja.
Hujan, walau gerimis, lumayan menyegarkan udara yang terkontaminasi zat karbon, baik monoksida maupun dioksida. Keduanya membuat kabut setiap pagi dan sore menambah jumlah penderita sesak dan batuk.
Hari Senin hujan lagi. Untungnya pas pulang sekolah hujan sudah reda. Ramai perbincangan di antara anak-anak itu kalau ada petir, pasti Kulat tumbuh. Kulat adalah jamur dalam bahasa Bangka. Berbagai kulat itu akan tumbuh bersemi bagaimana bunga yang bermekaran, putih, cokelat, merah, dan kuning warnanya. Mereka yang terbiasa mencari kulat pun menggambarkan euforia bila jamur-jamur itu bermunculan.
"Kamu pernah nyari kulat, belum, Cen?" tanya teman Abang saat berjalan pulang sekolah.
"Belum pernah," ujar Abang.
Enak, loh, pas nemu, bahagia rasanya. Makanya aku berdoa semoga ada petir. Biar di awal hujan ini kulat pada tumbuh." Pian, teman Abang menjelaskan bahagianya nyari kulat.
"Hmmm, di mana biasanya?" tanya Abang penasaran.
"Di kebun karet, atau di bekas Bakaran tu," tunjuk Pian di bekas hutan dan semak yang terbakar.
"Iya, Bang, kalau yang terkenal tu kulat pelawan." Adek yang ada di belakang mereka ikut nimbrung.
"Di kita gak ada hutan pelawan. Jadi gak bakalan ada kulat pelawan di sini. Kulat kukur, kulat tiung, kulat sawit, itu akan menjamur," tambah Abang.
"Menjamur? Mengulatlah. Kan jamur sama kulat sinonim." Adek protes.
"Akan aneh kalimatnya kalau diubah. Kulat- kulat itu akan mengulat sebentar lagi. Tuh, kan aneh." Abang mengernyit.
"Emang menjamur dan mengulat tu gak sama?" tanya Adek.
"Gak umum. Kulat kan bahasa daerah kita. Kalau jamur sudah bahasa nasional. Kata-kata tertentu terdengar lucu kalau diganti. Coba jamur kulit, jamur kuku, diganti jadi kulat kulit, kulat kuku." Mereka tertawa.
"Iya, ya. Kulat kulit tu kedengerannya lucu. Padahal kalau jamur kulit itu alias panu." Pian tertawa.
"Hei, rumah kita sudah sampai." Pian, Abang dan Adek pun menuju rumah.
Sesampainya di rumah, Abang dan Adek melakukan ritual pulang sekolah, Mulai dari mengganti pakaian sekolah dengan pakaian santai, salat Zuhur, dan makan siang. Selanjutnya kedua beradik itu akan menunggu Ummi dan Abi untuk membantu pekerjaan rumah mereka atau sekadar menagih janji, bila Abi berjanji.
"Bang, aku penasaran, deh, kenapa kulat akan cepat tumbuh setelah hujan dan petir. Apa hubungannya, ya? Apakah ada bibit kulat yang dibawa petir?"
"Mulai ngawur. Mana ada petir bawa bibit kulat?" Abang menoyor kepala adeknya.
"Ih, gak boleh noyor kepala, kata Ummi." Adek memegang kepalanya.
"Habis, petir kok, bawa bibit kulat. Kan, kayak kisah di negeri dongeng aja." Abang mencebik.
"Ya, kan namanya aja dugaan." Adek mencebik juga.
Tiba-tiba terdengar suara motor dari arah depan. Kedua beradik itu melongokkan kepala mereka ke luar jendela yang terbuka. Ternyata ummi pulang.
"Asyeek, Ummi pulang. Bisa nanya ke Ummi." Adek bersorak senang.
"Uluh, uluh ... kayak dapet harta karun aja," sindir Abang.
"Biarin!" Adek meleletkan lidah.
"Assalamu'alaikum," salam Ummi.
"Wa'alaikumussalam," jawab kedua beradik itu serentak.
"Tumben, anteng," goda Ummi.
"Mi, cepetanlah Ummi ganti baju dan lain-lainnya, keburu gak sabaran!" ujar Adek.
"Ngapa, sih, gak sabaran amat," ujar Ummi.
"Ada yang mau ditanya," jawab Adek.
"Dia tu kepo sama hujan dan petir, Mi. Soalnya kalau hujan petir, kulat biasanya tumbuh." Abang menjelaskan sambil mengunyah kacang. Entahlah, anak itu kalau sama kacang hobi minta ampun.
"Oh, itu, ya?" Ummi pun berlalu ke kamar mengganti baju, setelah sebelumnya dari dapur mengambil sepiring nasi. Abi belum tampak pulang karena ada kegiatan di K3S.
"Iya, Mi, semua orang ramai membicarakannya," ujar Adek.
"Mitos atau fakta?" tanya Ummi lagi.
"Apanya, Mi?" tanya Abang balik.
"Hujan, petir, dan kulat." Ummi menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya
"Fakta!" jawab Abang jumawa membusungkan dada.
"Halah, jawab fakta aja sampai segitunya!" Adek mencibir.
"Iri, ya, gak bisa jawab." Abang nyolot.
"Eh ... udah, iya bener fakta, karena kalau ditinjau dari segi sains ada keterkaitan antara hujan, petir, dan kulat." Ummi menengahi.
"Assalamu'alaikum ...." Terdengar salam. Dari suaranya, sih, itu Abi.
"Wa'alaikumussalam, kok, baru pulang, Bi?" Adek menjawab buru-buru.
"Biasalah, ada pertemuan. Tumben pada konferensi di ruang tengah. Lagi bahas beli jajanan, ya?" tanya Abi random.
"Abi juga tumben, kok, nyenggol kata jajan? Biasanya gak berani." Adek tertawa. Kacang tanah yang ada di depan Abang langsung dijauhkan. Khawatir dihabisin Abi.
"Ya ampun, segitunya sama kacang." Abang kembali meletakkan mangkuk kacang tanah di depannya dan kembali membuka kulit kacang serta memakan isinya. "Ayok, Mi, dijawab. Keburu penasaran," rengek Abang.
Abi malah duduk, ikut konferensi juga. Eh, bukan konferensi, ya, tetapi ngobrol. Tas sekolah diletakkan di kursi, ganti baju yang diambilkan Ummi barusan, lanjut makan kacang.
"Iya, Mi. Ada apa di dalam petir, kok bisa cepat menumbuhkan kulat?" Adek sekarang yang mendesak Ummi agar lekas menjawab.
"Hmmm, pada kepo semua, ternyata." Ummi malah belum menjawab pertanyaan kedua anak yang penasaran itu.
"Ayo, toh, Mi," rengek Adek.
Ummi dan Abi tertawa, malah mengunyah kacang dahulu. Sedangkan kedua anak itu malah setengah kesal pad Ummi yang menggoda mereka.
"Oke, oke, nih dengerin penjelasannya. Petir tu kan punya energi listrik sangat besar. Nah, energi tersebut memecah molekul nitrogen di udara dan menyatukannya dengan oksigen, lalu terbawa oleh air hujan ke dalam tanah dalam bentuk senyawa nitrat. Kita tahu kalau Nitrat ini berfungsi sebagai pupuk alami yang memperkaya tanah dan memacu pertumbuhan tanaman, juga jamur."
"Kok, terus tumbuh jamur tu, gimana, Mi?" Abang bertanya sambil kembali memasukkan butir- butir kacang ke mulutnya.
"Di dalam tanah atau kayu itu, jamur sebenarnya sudah hidup lama dalam bentuk jaringan halus yang disebut miselium, Bang. Nah, kondisi tanah yang basah, hangat, serta adanya tambahan nutrisi dari air hujan dan petir bertindak sebagai sinyal bagi miselium untuk segera menghasilkan tubuh buah (jamur yang biasa kita lihat) dalam waktu singkat," tambah Abi
"Oh, pantesan kalau ada hujan petir jamur cepat tumbuh. Semoga hujan petirnya ada lagi dan jangan kenceng-kenceng petirnya. Bikin takut, hehe." Abang berdoa tapi request permintaan sama Allah.
Mereka pun tidak penasaran lagi mengapa jamur cepat tumbuh kalau ada hujan petir. Seiring dengan habisnya kacang yang sebagian besar masuk ke mulut Abang, Adek cuma memandang mangkuk kosong itu dengan mata yang menyiratkan kesal karena cuma kebagian sedikit. Untunglah di dapur masih ada lagi kacang rebusnya. Adek jadi mengurungkan niat kesalnya. Ada-ada saja.
Terimakasih sudah memberikan masukan dan saran
EmoticonEmoticon