Oleh: Ummi Sulis (Guru SD Negeri 3 Pulau Besar) Sabtu, 3 Oktober 2026, 19:08 WIB
Kemarau begitu panjangnya. Sudah Oktober masih saja belum tampak tanda-tanda akan datang air made in langit. Adek sering kegerahan kalau pulang sekolah. Bahkan, bajunya setiap hari harus ganti karena laksana tersiram air, tapi air keringatnya sendiri.
Abang Zaki lebih parah lagi, dari atas hingga bawah berkeringat. Jadi semua pakaiannya sebagaimana orang kehujanan. Bisa jadi seragam sekolahnya dapat diperas karena keringat.
Kedua beradik itu tumben hari ini pulang bersama. Sesampai di rumah malah cepat-cepat keluar lagi. Ada plastik dan keranjang di tangan mereka.
"Bang, aku di bawah, ya, berjaga biar gak kabur lari si JJ-nya." Adek mengusulkan setelah berada di bawah pohon.
"Pakek apa larinya?" Abang mengernyitkan wajahnya gak ngerti maksud Adek.
"Siapa tau pas Abang memberikan JJ, dianya langsung jatuh, menggelinding, kemudian menjauh dari tanganku," ucap Adek.
"Apa sih, JJ." Abang tambah sewot. Kemudian Abang naik ke atas pohon.
"Tuh, di atasmu, Bang, udah merah item." Adek menunjuk benda di atas kepala Abangnya.
"Oalah, ini toh, akan kueksekusi kamu!" Abang pun mengambil yang ditunjukkan Adek. Puas hatinya ketika benda itu sudah berada di tangannya.
"Sini, Bang, biar kupegang!" Adek mengangkat wadah tempat JJ yang sedang diamati Abangnya.
"Entar, kayaknya udah banyak yang harus diselamatkan." Abang pun memasukkan JJ ke dalam kantong plastik dan mengambil lagi yang katanya harus segera diselamatkan.
"Tuh, kan, sudah banyak toh. Besok mereka pastilah sudah gak bisa diambil lagi. Udah pindah alam," ucap Adek.
"Tangkap, Dek, aku mau turun. Ada semut yang menggigit punggungku!" ucap Abang. Dia pun melemparkan JJ pada Adek. Untung saja si JJ pas jatuh di keranjangnya.
"Hadeh, untung tepat sasaran. Kalau enggak, pada kabur JJ nya." Adek memeriksa makhluk-makhluk menggemaskan dalam keranjang itu. "Punggungmu aman kan, Bang?" tanyanya.
"Aman," jawab Abang di sela menggaruk2 punggung dan membuang semut yang masih berusaha menggigitnya.
Abang memegang semut itu,
Sedangkan semut balas menatapnya. Mungkin semut itu berkata, " Ape loh, nengok-nengok gue." Sayangnya Abang dak bisa mendengar perkataannya. Jadi cengar-cengir saja sambil mengayunkan sang semut yang terombang-ambing.
"Bang, buang aja semut tu, mending megang JJ. Lebih bermanfaat." Adek memberikan hasil manjat Abang untuk dipegang sebagai pengganti semut.
"Garam, cabe, dan gula merah kemarin masih ada gak, ya?" tanya Abang.
"Masih, Bang." Adek masuk rumah untuk mencuci tangan dan JJ.
Tanpa terasa, mereka banyak menyantap rujak buah. Sampai tiba-tiba ...
"Perutku sakit," keluh Adek.
"Kepedasan, ya?" tanya Abang.
"Gak tau, rasanya seperti ditusuk, tuh kan, gimana, Bang?" keluh Adek lagi.
"Coba berbaring, Dek." Abang menyuruh Adek untuk berbaring biar sakitnya berkurang. "Ini minyak kayu putihnya." Abang memberikan minyak kayu putih pada Adek.
"Bang, aku alergi minyak kayu putih, cari minyak angin aja." Adek menolak minyak yang diberikan.
"Eh, iya. Ntar tak cari dulu." Abang pun berlalu dan memberikan minyak angin yang diminta. "Bagaimana sekarang?" tanya Abang.
"Masih sakit, Bang." Adek meringis.
"Kita tunggu Ummi. Bila sakit berlanjut, hubungi dokter," ucap Abang menirukan iklan obat.
"Assalamu'alaikum." Suara Ummi terdengar dari luar.
"Wa'alaikumussalam. Ummi pulang ...," teriak Abang.
"Kenapa teriak, Bang?" tanya Ummi.
"Adek sakit perut, Mi."
"Loh, kok bisa? Sudah makan belom?" tanya Ummi lagi.
"Sudah, Mi," ucap Adek sambil meringis.
"Kok masih sakit perut?" tanya Ummi.
"Makan JJ, Mi." Abang cengar cengir.
"Apa itu JJ?" penasaran Ummi.
"Tu yang di depan rumah," tunjuk Abang.
"Ya Allah, pantaslah sakit perut. Itu kan terlalu banyak vitamin C-nya. Sementara lambung Adek belum diisi nasi. Gak kuat sama yang asam." Ummi menggelengkan kepala melihat sisa JJ yang masih bergelimpangan di atas meja ruang tengah.
"Manis, Mi, kan musim kemarau. Rasa asmnya gak banyak" kilah Abang.
"Tetap saja, apalagi makannya sama sambal gitu. Perut adekmu gak kuat, Bang." Ummi ngomel sambil membersihkan sisa JJ yang bertebaran.
"Sekarang, Adek udah gak terlalu sakit lagi, kok, Mi," ringis Adek.
"Ya, udah, lain kali makan nasi dulu kalau pulang sekolah. Mungkin tadi Adek kelaparan langsung dihantam jambu dan sambal. Lambungnya kaget." Ummi berlalu mengambilkan nasi untuk dimakan Adek.
"Iya, Mi," jawab Adek. Anak itu berusaha duduk dan mulai makan nasi yang diambilkan Ummi.
"Lain kali Adek tu diajak makan nasi dulu, Bang." Ummi melirik Abang yang mengernyitkan wajahnya. "Tidak semua orang tahan terhadap asam vitamin C yang dikandung JJ, si jambu jamaika."
"Iya, Mi." Abang pun berlalu dan mengambil makan.
" Gimana, Dek, perutnya masih sakit?" tanya Ummi.
"Udah gak terlalu sakit lagi. Sudah mendingan, Mi."
"Syukurlah, lain kali jangan lupa makan nasi, ya." Ummi menyentuh pucuk kepala Adek diikuti anggukan kepala Adek.
Ternyata, makan rujak saat perut lapar kurang baik untuk lambung, karena unsur pedasnya cabe yang tidak semua orang bisa tahan, terutama lambung anak kecil. Jambu di musim kemarau bagaikan mantra menghipnotis mulut para penyuka rujak.
Terimakasih sudah memberikan masukan dan saran
EmoticonEmoticon