Oleh: Yoga Hidayatullah, S.Pd (Guru PJOK SD Negeri 27 Toboali) Minggu 4 Oktober 2026, 05:12 WIB
![]() |
| Ilustrasi Revolusi Mental Tempe (Sumber: MetaAi) |
Keju Ya Keju, Tempe Ya Tempe, Singkong Ya Singkong, Gitu Aja Kok Repot!
Di sebuah pasar yang ramai, hiduplah tiga jenis makanan: Singkong, Tempe, dan Keju.
Keju selalu diletakkan di rak yang bagus. Harganya mahal, kemasannya menarik, dan banyak orang menganggapnya sebagai makanan istimewa.
Sementara itu, Singkong hanya berada di sudut pasar. Harganya murah dan sering dianggap makanan sederhana.
Tempe pun demikian. Ia hanya terbuat dari kedelai yang difermentasi. Sederhana, tidak mewah, dan sering dianggap makanan biasa.
Suatu hari Singkong berkata kepada Tempe,
“Mengapa kita selalu dianggap murah? Apakah karena kita sederhana, maka kita tidak boleh memiliki harga yang tinggi?”
Tempe tersenyum.
“Bukan kesederhanaan yang membuat kita murah. Yang menentukan nilai kita adalah bagaimana kita mengolah diri dan menunjukkan kualitas kita.”
Singkong mulai berpikir.
Ia melihat Keju. Keju memang mahal, tetapi Singkong menyadari bahwa harga bukan hanya tentang bahan dasar. Ada proses, kualitas, kebersihan, kemasan, kreativitas, dan bagaimana sebuah produk dihargai oleh orang lain.
“Kalau begitu,” kata Singkong, “aku ingin berubah. Aku ingin tetap menjadi singkong, tetapi menjadi singkong yang berkualitas.”
Tempe pun menjawab,
“Aku juga. Aku tidak ingin malu karena berasal dari kedelai sederhana. Aku ingin membuktikan bahwa sesuatu yang sederhana pun bisa menjadi luar biasa.”
Mereka mulai belajar.
Singkong diolah menjadi berbagai makanan: keripik berkualitas, tepung, kue, makanan modern, hingga produk yang dikemas dengan menarik.
Tempe juga terus berkembang. Dari makanan sederhana di meja makan, ia mulai hadir di restoran, pasar modern, bahkan dikenal oleh orang-orang dari berbagai negara.
Lama-kelamaan orang mulai melihat mereka dengan cara berbeda.
Bukan lagi sekadar “singkong murah” atau “tempe sederhana”, tetapi sebagai produk yang memiliki kualitas, nilai, kreativitas, dan cerita.
Keju tetap menjadi keju. Harganya boleh mahal.
Namun Singkong dan Tempe tidak lagi merasa rendah diri.
Mereka sadar bahwa mahal bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.
Yang lebih penting adalah menjadi sesuatu yang berkualitas dan bernilai.
Perumpamaan untuk Manusia
Singkong dan Tempe sebenarnya adalah gambaran manusia.
Ada manusia yang sejak lahir memiliki banyak kelebihan: keluarga berada, pendidikan bagus, fasilitas lengkap, dan kesempatan yang luas. Mereka seperti Keju yang sejak awal sudah memiliki nilai tinggi di mata pasar.
Namun ada pula manusia biasa.
Lahir dari keluarga sederhana. Hidup dengan keterbatasan. Tidak memiliki banyak fasilitas. Kadang dipandang sebelah mata.
Mereka seperti Singkong dan Tempe.
Tetapi jangan pernah berpikir bahwa sederhana berarti tidak berharga.
Singkong tidak harus menjadi Keju untuk memiliki nilai.
Tempe tidak perlu berubah menjadi makanan mewah untuk bisa mendunia.
Begitu pula manusia.
Kita tidak harus terlahir kaya untuk menjadi berharga. Kita tidak harus memiliki nama besar untuk menjadi berkualitas.
Yang diperlukan adalah belajar, bekerja keras, menjaga kualitas diri, memiliki karakter, terus berkembang, dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Karena pada akhirnya, harga diri manusia bukan ditentukan dari bagaimana ia dilahirkan, tetapi dari bagaimana ia mengolah dirinya.
Singkong bisa menjadi makanan bernilai tinggi.
Tempe yang sederhana bisa dikenal sampai ke berbagai penjuru dunia.
Maka manusia biasa pun bisa menjadi luar biasa.
Jangan malu menjadi sederhana.
Yang harus kita takutkan bukanlah memulai dari bawah, tetapi berhenti berkembang.
Sebab sesuatu yang sederhana, jika diolah dengan sungguh-sungguh, dapat menjadi sesuatu yang bernilai.
Terimakasih sudah memberikan masukan dan saran
EmoticonEmoticon