-->

Revolusi "Mental Tempe"

- 05.17
advertise here

Oleh: Yoga Hidayatullah, S.Pd (Guru PJOK SD Negeri 27 Toboali) Minggu 4 Oktober 2026, 05:12 WIB 

Ilustrasi Revolusi Mental Tempe (Sumber: MetaAi)

Keju Ya Keju, Tempe Ya Tempe, Singkong Ya Singkong, Gitu Aja Kok Repot!

‎Di sebuah pasar yang ramai, hiduplah tiga jenis makanan: Singkong, Tempe, dan Keju.

‎Keju selalu diletakkan di rak yang bagus. Harganya mahal, kemasannya menarik, dan banyak orang menganggapnya sebagai makanan istimewa.

‎Sementara itu, Singkong hanya berada di sudut pasar. Harganya murah dan sering dianggap makanan sederhana.

‎Tempe pun demikian. Ia hanya terbuat dari kedelai yang difermentasi. Sederhana, tidak mewah, dan sering dianggap makanan biasa.

‎Suatu hari Singkong berkata kepada Tempe,

‎“Mengapa kita selalu dianggap murah? Apakah karena kita sederhana, maka kita tidak boleh memiliki harga yang tinggi?”

‎Tempe tersenyum.

‎“Bukan kesederhanaan yang membuat kita murah. Yang menentukan nilai kita adalah bagaimana kita mengolah diri dan menunjukkan kualitas kita.”

‎Singkong mulai berpikir.

‎Ia melihat Keju. Keju memang mahal, tetapi Singkong menyadari bahwa harga bukan hanya tentang bahan dasar. Ada proses, kualitas, kebersihan, kemasan, kreativitas, dan bagaimana sebuah produk dihargai oleh orang lain.

‎“Kalau begitu,” kata Singkong, “aku ingin berubah. Aku ingin tetap menjadi singkong, tetapi menjadi singkong yang berkualitas.”

‎Tempe pun menjawab,

‎“Aku juga. Aku tidak ingin malu karena berasal dari kedelai sederhana. Aku ingin membuktikan bahwa sesuatu yang sederhana pun bisa menjadi luar biasa.”

‎Mereka mulai belajar.

‎Singkong diolah menjadi berbagai makanan: keripik berkualitas, tepung, kue, makanan modern, hingga produk yang dikemas dengan menarik.

‎Tempe juga terus berkembang. Dari makanan sederhana di meja makan, ia mulai hadir di restoran, pasar modern, bahkan dikenal oleh orang-orang dari berbagai negara.

‎Lama-kelamaan orang mulai melihat mereka dengan cara berbeda.

‎Bukan lagi sekadar “singkong murah” atau “tempe sederhana”, tetapi sebagai produk yang memiliki kualitas, nilai, kreativitas, dan cerita.

‎Keju tetap menjadi keju. Harganya boleh mahal.

‎Namun Singkong dan Tempe tidak lagi merasa rendah diri.

‎Mereka sadar bahwa mahal bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.

‎Yang lebih penting adalah menjadi sesuatu yang berkualitas dan bernilai.

‎Perumpamaan untuk Manusia

‎Singkong dan Tempe sebenarnya adalah gambaran manusia.

‎Ada manusia yang sejak lahir memiliki banyak kelebihan: keluarga berada, pendidikan bagus, fasilitas lengkap, dan kesempatan yang luas. Mereka seperti Keju yang sejak awal sudah memiliki nilai tinggi di mata pasar.

‎Namun ada pula manusia biasa.

‎Lahir dari keluarga sederhana. Hidup dengan keterbatasan. Tidak memiliki banyak fasilitas. Kadang dipandang sebelah mata.

‎Mereka seperti Singkong dan Tempe.

‎Tetapi jangan pernah berpikir bahwa sederhana berarti tidak berharga.

‎Singkong tidak harus menjadi Keju untuk memiliki nilai.

‎Tempe tidak perlu berubah menjadi makanan mewah untuk bisa mendunia.

‎Begitu pula manusia.

‎Kita tidak harus terlahir kaya untuk menjadi berharga. Kita tidak harus memiliki nama besar untuk menjadi berkualitas.

‎Yang diperlukan adalah belajar, bekerja keras, menjaga kualitas diri, memiliki karakter, terus berkembang, dan memberikan manfaat bagi orang lain.

‎Karena pada akhirnya, harga diri manusia bukan ditentukan dari bagaimana ia dilahirkan, tetapi dari bagaimana ia mengolah dirinya.

‎Singkong bisa menjadi makanan bernilai tinggi.

‎Tempe yang sederhana bisa dikenal sampai ke berbagai penjuru dunia.

‎Maka manusia biasa pun bisa menjadi luar biasa.

‎Jangan malu menjadi sederhana.

‎Yang harus kita takutkan bukanlah memulai dari bawah, tetapi berhenti berkembang.

‎Sebab sesuatu yang sederhana, jika diolah dengan sungguh-sungguh, dapat menjadi sesuatu yang bernilai.    

Terimakasih sudah memberikan masukan dan saran
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search

Catatan: