-->

Ori, Wawa, dan Hutan yang Menyempit

- 05.16
advertise here

Oleh: Syahrial, S.T (Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Kelapa Kampit) Sabtu, 3 Oktober 2026, 05:07 WIB


Ilustrasi Hutan yang Menyempit (Sumber: ChatGPT)

Ori, Wawa, dan Hutan yang Menyempit

Dulu, pohon ara raksasa itu adalah rumah paling ramai di hutan. Cabang-cabangnya menjulur ke segala arah, cukup luas untuk Ori si anak orangutan bergelantungan sambil bermain sepanjang hari, lalu tidur nyenyak di sarang daun yang dibuatkan ibunya setiap malam.

Sekarang, yang tersisa hanya batang hitam yang masih mengepulkan asap tipis.

Kebakaran datang begitu cepat. Ori masih ingat suara ibunya berteriak memanggilnya di tengah kepulan asap, menariknya berpindah dari dahan ke dahan sejauh mungkin dari api. Mereka berhasil selamat. Tapi ketika akhirnya berani menoleh ke belakang, rumah mereka sudah tidak ada lagi.

***

"Kita cari rumah baru," kata ibu Ori, suaranya berusaha terdengar tenang meski matanya masih memerah karena asap.

Mereka berjalan berhari-hari, melewati bagian hutan yang selamat dari api. Tapi setiap kali menemukan area hutan yang rimbun, mereka juga menemukan sesuatu yang mengejutkan: hutan itu terputus-putus. Ada bentangan pohon sawit yang berbaris rapi menggantikan pohon-pohon tinggi tempat orangutan biasa berayun. Ada jalan tanah lebar yang memisahkan satu petak hutan dengan petak hutan lainnya.

"Kenapa hutannya terpotong-potong begini, Bu?" tanya Ori.

"Sebagian ditebang untuk kebun," jawab ibunya pelan. "Rumah kita sekarang bukan cuma kalah dari api. Rumah kita juga makin sempit, bahkan sebelum api datang."

Di tengah perjalanan itu, mereka bertemu Wawa, seekor owa muda yang juga kehilangan rumahnya karena kebakaran yang sama. Wawa duduk sendirian di dahan rendah, terlalu lelah untuk berayun lebih jauh.

"Aku sudah dua hari tidak menemukan pohon buah," kata Wawa lirih. "Yang ada cuma pohon-pohon sawit itu. Buahnya bukan untuk kami."

"Kenapa tidak coba minta tolong hewan-hewan di sekitar sini?" tanya Ori.

Wawa menggeleng pelan. "Sudah kucoba. Tapi hewan-hewan di sini juga kekurangan makanan sejak hutannya menyempit. Mereka tidak punya cukup untuk dibagi."

Ibu Ori terdiam mendengar itu. Ia mulai sadar, masalahnya bukan sekadar mencari satu pohon kosong untuk ditinggali. Setiap petak hutan yang tersisa sudah penuh sesak oleh hewan-hewan yang bernasib sama—kehilangan rumah, berebut ruang yang makin sempit.

Ori, ibunya, dan Wawa akhirnya melanjutkan perjalanan bersama. Di setiap petak hutan yang tersisa, mereka menemukan hal yang sama: sedikit pohon tinggi, sedikit tempat berlindung, dan jarak yang semakin jauh untuk mencapai petak hutan berikutnya. Beberapa kali mereka harus turun ke tanah dan berjalan melintasi ladang terbuka, sesuatu yang sangat jarang dilakukan orangutan, karena tidak ada lagi jalur pepohonan yang tersambung.

"Dulu, kita bisa berpindah dari satu ujung hutan ke ujung lain hanya dengan berayun dari dahan ke dahan," kata ibu Ori sambil menatap ladang kosong di depan mereka. "Sekarang, kita harus berjalan di tanah seperti ini, di tempat terbuka, di mana bahaya bisa datang dari mana saja."

***

Suatu sore, mereka sampai di petak hutan yang dijaga oleh sekumpulan hewan tua—burung enggang, beruang madu, dan seekor orangutan tertua di kawasan itu bernama Datuk. Datuk mengizinkan Ori sekeluarga dan Wawa beristirahat, tapi wajahnya tampak khawatir.

"Kalian bukan yang pertama datang minggu ini," kata Datuk. "Sudah banyak yang kehilangan rumah. Masalahnya, petak hutan yang tersisa ini juga tidak bisa menampung semua orangutan dan owa yang kehilangan tempat tinggal."

"Lalu bagaimana, Datuk?" tanya ibu Ori.

Datuk terdiam lama, lalu berkata, "Menyelamatkan yang terjebak di tengah api itu penting. Tapi kalau kita hanya menunggu sampai api datang baru bertindak, setiap tahun kita akan kehilangan rumah lagi. Yang sebenarnya paling penting adalah menjaga hutan yang masih tersisa ini sekarang, sebelum kebakaran berikutnya datang—bukan sesudahnya."

Malam itu, Datuk mengumpulkan seluruh hewan yang tinggal di petak hutan itu. Ada tupai, burung-burung kecil, dan beberapa keluarga owa yang juga baru mengungsi. Semua duduk melingkar mendengarkan Datuk.

"Kalau kita hanya sibuk mencari tempat baru setiap kali hutan terbakar, kita akan terus berlari tanpa henti," kata Datuk kepada semua yang hadir. "Petak hutan ini yang tersisa untuk kita semua. Kalau kita tidak menjaganya sekarang, suatu hari nanti tidak akan ada lagi tempat untuk berlari."

Mereka sepakat membuat aturan bersama: tidak membiarkan ranting kering menumpuk terlalu tinggi, saling memberi tanda kalau melihat asap dari kejauhan, dan menjaga agar bagian hutan yang tersisa tidak ditebang lagi sedikit pun. Beruang madu bertugas memeriksa tanda-tanda asap setiap pagi. Burung enggang, yang bisa terbang tinggi, akan berkeliling mengawasi dari udara. Ori dan Wawa, meski masih muda, diberi tugas mengingatkan hewan-hewan lain agar tidak meninggalkan sisa makanan yang mudah terbakar di dekat semak kering.

"Satu pohon yang kita jaga hari ini," kata Datuk, "bisa jadi rumah untuk anak-anak seperti kalian bertahun-tahun ke depan."

***

Ori tumbuh besar di petak hutan itu, bersama Wawa yang menjadi sahabat dekatnya. Ia tidak pernah lupa pohon ara raksasa yang dulu jadi rumahnya, dan tidak pernah lupa perjalanan panjang mencari rumah baru yang ternyata juga terancam.

Suatu hari, ketika Ori sudah dewasa dan punya anak sendiri, ia mengajarkan hal yang sama seperti yang diajarkan Datuk dulu. "Kita tidak menunggu sampai rumah kita terbakar baru sibuk menjaganya," katanya kepada anaknya sambil menunjuk hamparan hutan hijau yang masih tersisa. "Rumah yang ingin kita tinggali besok, harus mulai kita jaga hari ini."

TAMAT

Terimakasih sudah memberikan masukan dan saran
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search

Catatan: