Oleh: Juhari, S.Pd (Guru SD Negeri 19 Toboali) Senin 12 Oktober 2026, 05:05 WIB
![]() |
| Ilustrasi Penyesalan Seorang Anak (Sumber: MetaAi) |
Matahari pagi
menyelinap di sela-sela pohon karet di belakang rumah. Di Desa Harapan,
pengumuman kelulusan sudah terpampang di papan sekolah sejak kemarin. Bayu
dinyatakan lulus dari sekolah menengah pertama dengan nilai yang cukup untuk
standar kelulusan. Namun, pagi itu ia tidak ingin merayakan apa pun. Ia duduk
sendirian di beranda sambil memandangi sajadah tua berwarna hijau yang terlipat
rapi di atas kursi bambu. Sajadah itu milik ayahnya.
“Bayu, sarapan
dulu, Nak,” panggil Bu Yulia dari dapur.
“Iya, Bu.
Sebentar,” jawab Bayu pelan.
Suaranya
serak. Sudah tiga bulan Pak Harya berpulang, dan sejak hari itu rumah mereka
terasa jauh lebih sunyi. Setiap kali Bayu menyentuh sajadah itu, ingatannya
terlempar ke dua tahun silam, ke sebuah malam ketika ia bertengkar hebat dengan
ayahnya.
Waktu itu Bayu
duduk di kelas VIII. Hampir setiap malam ia begadang bermain gim daring bersama
teman-temannya. Ketika baterai ponselnya habis, ia memasangnya pada pengisi
daya, lalu terus bermain tanpa peduli waktu. Akibatnya, salat subuh sering
terlewat. Salat zuhur dan asar ia tunda sampai lupa. Pekerjaan rumah pun ia
kerjakan seadanya, bahkan sering hanya menyalin milik temannya di sekolah.
Suatu malam,
ponsel itu memanas. Layarnya berkedip beberapa kali, lalu mati dan tidak mau
menyala lagi. Bayu panik. Ia berlari ke ruang tengah, tempat ayahnya sedang
menghitung hasil sadapan karet hari itu.
“Yah, ponselku
rusak! Mati total!” serunya.
“Mungkin
karena terlalu lama dipakai, Nak. Besok kita bawa ke tukang servis di pasar,”
jawab Pak Harya tenang.
“Percuma, Yah.
Kata Rio, ponsel itu sudah ketinggalan zaman. Aku mau yang baru, yang paling
baru, yang bisa dipakai main gim tanpa tersendat.”
Pak Harya
meletakkan pensilnya. “Berapa harganya?”
“Sekitar enam
juta rupiah.”
“Enam juta
rupiah?” Pak Harya menarik napas panjang. “Itu hampir sama dengan hasil kebun
kita selama tiga bulan, Nak. Lagi pula, ponselmu rusak karena kamu pakai
bermain sampai lupa waktu. Untuk saat ini, Ayah belum bisa membelikannya.”
“Ayah pelit!”
bentak Bayu. “Teman-temanku semua punya. Cuma aku yang tidak!”
“Jaga
bicaramu, Bayu.”
“Ayah tidak
pernah mengerti aku! Ayah cuma tahu karet, karet, dan karet!”
“Bayu!” Bu
Yulia muncul dari dapur dengan wajah terkejut. “Minta maaf pada ayahmu sekarang
juga!”
Bayu tidak
menjawab. Ia berbalik, masuk ke kamar, dan membanting pintu sekeras-kerasnya.
Dari balik pintu, ia masih sempat mendengar Bu Yulia berbisik lembut kepada
suaminya, “Sabar, Pak. Dia masih anak-anak.”
Malam semakin
larut. Bayu berbaring menghadap dinding dengan dada yang masih panas. Tiba-tiba
pintu kamarnya diketuk pelan. Pak Harya masuk dan duduk di tepi dipan.
“Ayah tidak
marah, Nak,” katanya. “Ayah hanya takut. Ayah takut kamu kehilangan arah.”
Bayu diam,
tetapi telinganya mendengarkan.
“Ayah ingin
kamu ingat satu hal,” lanjut Pak Harya. “Nak, nasibmu ada pada salatmu.
Jika salatmu
tidak dijaga, duniamu gelisah dan akhiratmu susah. Akan tetapi, jika salatmu
dijaga, duniamu tenang dan akhiratmu juga aman.”
Ia mengusap
punggung anaknya dengan tangannya yang kasar dan penuh getah karet. “Ponsel
yang rusak masih bisa diganti, Nak. Namun, kalau salatmu yang rusak, apa lagi
yang akan menopang hidupmu? Jangan lupa pula untuk terus berbakti kepada orang
tuamu dan hormati gurumu. Tadi sore Ayah bertemu Pak Darmawan, wali kelasmu.
Katanya, kamu sering mengantuk di kelas dan pernah menjawab beliau dengan
ketus. Ilmu tidak akan berkah jika hati gurunya kamu lukai.”
“Iya, Yah,”
jawab Bayu singkat tanpa menoleh. Hatinya masih keras. Ia hanya ingin percakapan
itu cepat selesai.
Pak Harya
mengusap kepala anaknya sekali lagi, lalu keluar tanpa berkata apa-apa.
Beberapa pekan
kemudian, Pak Harya membelikan sebuah ponsel baru. Bukan yang paling baru
seperti keinginan Bayu, melainkan ponsel sederhana yang masih layak pakai. Bayu
menerimanya dengan wajah cemberut dan tanpa ucapan terima kasih.
“Cuma ini,
Yah?” gumamnya.
Pak Harya
hanya tersenyum. “Pakailah dengan bijak, Nak.”
Nasihat itu
kembali masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan. Bayu tetap bermain gim sampai
larut, meski tidak separah dahulu. Subuhnya masih sering terlambat. Ketika Pak
Darmawan menegurnya, ia menunduk dengan wajah kesal, bukan karena menyesal,
melainkan karena merasa dipermalukan.
Yang tidak
Bayu sadari, ayahnya kini berangkat ke kebun lebih pagi dan pulang lebih malam.
Batuknya semakin sering terdengar. Setiap kali Bu Yulia memintanya berobat, Pak
Harya hanya menggeleng sambil tersenyum. “Nanti saja, Bu. Hanya batuk biasa.”
Memasuki kelas
IX, batuk itu berubah menjadi sakit yang tidak lagi bisa disembunyikan. Pak
Harya akhirnya dibawa ke puskesmas, kemudian dirujuk ke rumah sakit di kota.
Namun, semuanya sudah terlambat. Pada suatu subuh yang dingin, Pak Harya
berpulang selepas menunaikan salat di surau, dalam keadaan tenang, seperti orang
yang sudah berdamai dengan segalanya.
Bayu berdiri
kaku di samping jenazah ayahnya. Ia tidak menangis. Ia hanya merasa ada sesuatu
yang runtuh di dalam dadanya.
Kini, di
beranda yang sama, Bayu menggenggam sajadah ayahnya erat-erat. Bu Yulia keluar
dan duduk di sampingnya.
“Kamu melamun
lagi,” ujar Bu Yulia lembut.
“Bu, Bayu
ingin bertanya,” katanya lirih. “Dulu, uang untuk membeli ponsel Bayu itu dari
mana? Ayah kan bilang tidak punya uang.”
Bu Yulia
terdiam cukup lama. Matanya berkaca-kaca. “Ayahmu tidak pernah ingin kamu tahu,
Nak. Setiap malam setelah salat isya, ia pergi menyadap karet lagi untuk
mendapat tambahan penghasilan. Ia juga menunda berobat karena uangnya ia
sisihkan untuk ponselmu. Ibu sudah melarang, tetapi katanya, ‘Biar saja, Bu.
Kalau itu bisa membuat Bayu bahagia dan mau belajar lagi, Ayah rela.’”
Dada Bayu
seperti ditikam. Kata-kata ayahnya malam itu kembali terngiang jelas di
kepalanya: nasibmu ada pada salatmu, berbaktilah kepada orang tuamu, dan
hormatilah gurumu. Selama ini ia mengira ayahnya pelit dan tidak mengerti
dirinya. Ternyata, justru dirinyalah yang tidak pernah mengerti betapa besar
pengorbanan ayahnya.
“Ayah tidak
pelit, Bu,” bisik Bayu dengan suara bergetar. “Bayu yang durhaka. Bayu
membentak Ayah, membanting pintu di depan Ayah, dan tidak pernah mengucapkan
terima kasih.”
Air matanya
tumpah juga, tanpa bisa ia tahan lagi. Bu Yulia memeluknya erat. Untuk pertama
kalinya sejak kepergian ayahnya, Bayu menangis sepuas-puasnya.
Setelah
tangisnya reda, Bayu berdiri. Ia mengambil air wudu, menggelar sajadah hijau
milik ayahnya, lalu menunaikan salat duha dengan khusyuk. Dalam sujud
terakhirnya, ia berdoa, “Ya Allah, ampunilah Ayah dan lapangkanlah kuburnya.
Ampunilah juga kesalahan hamba yang terlambat menyadari semuanya.”
Usai salat, ia
mencium tangan ibunya. “Bu, maafkan Bayu. Mulai hari ini, Bayu akan menjaga
salat Bayu, menjaga Ibu, dan menghormati guru-guru Bayu. Nanti sore Bayu ingin
ke makam Ayah, lalu menemui Pak Darmawan untuk meminta maaf dan berterima
kasih.”
Bu Yulia tersenyum di antara air matanya. “Ayahmu pasti bahagia mendengarnya, Nak.”
Bayu menatap langit di atas pohon-pohon karet yang bergoyang pelan. Ia sadar, penyesalan memang selalu datang terlambat. Namun, ia bertekad bahwa penyesalan itu tidak akan sia-sia, melainkan menjadi awal baru baginya untuk menjadi anak yang saleh, seperti yang selalu diharapkan Pak Harya.
Terimakasih sudah memberikan masukan dan saran
EmoticonEmoticon