-->

Nasihat Terakhir Ayah

- 05.05
advertise here

Oleh: Juhari, S.Pd (Guru SD Negeri 19 Toboali) Senin 12 Oktober 2026, 05:05 WIB

Ilustrasi Penyesalan Seorang Anak (Sumber: MetaAi)

Matahari pagi menyelinap di sela-sela pohon karet di belakang rumah. Di Desa Harapan, pengumuman kelulusan sudah terpampang di papan sekolah sejak kemarin. Bayu dinyatakan lulus dari sekolah menengah pertama dengan nilai yang cukup untuk standar kelulusan. Namun, pagi itu ia tidak ingin merayakan apa pun. Ia duduk sendirian di beranda sambil memandangi sajadah tua berwarna hijau yang terlipat rapi di atas kursi bambu. Sajadah itu milik ayahnya.

“Bayu, sarapan dulu, Nak,” panggil Bu Yulia dari dapur.

“Iya, Bu. Sebentar,” jawab Bayu pelan.

Suaranya serak. Sudah tiga bulan Pak Harya berpulang, dan sejak hari itu rumah mereka terasa jauh lebih sunyi. Setiap kali Bayu menyentuh sajadah itu, ingatannya terlempar ke dua tahun silam, ke sebuah malam ketika ia bertengkar hebat dengan ayahnya.

Waktu itu Bayu duduk di kelas VIII. Hampir setiap malam ia begadang bermain gim daring bersama teman-temannya. Ketika baterai ponselnya habis, ia memasangnya pada pengisi daya, lalu terus bermain tanpa peduli waktu. Akibatnya, salat subuh sering terlewat. Salat zuhur dan asar ia tunda sampai lupa. Pekerjaan rumah pun ia kerjakan seadanya, bahkan sering hanya menyalin milik temannya di sekolah.

Suatu malam, ponsel itu memanas. Layarnya berkedip beberapa kali, lalu mati dan tidak mau menyala lagi. Bayu panik. Ia berlari ke ruang tengah, tempat ayahnya sedang menghitung hasil sadapan karet hari itu.

“Yah, ponselku rusak! Mati total!” serunya.

“Mungkin karena terlalu lama dipakai, Nak. Besok kita bawa ke tukang servis di pasar,” jawab Pak Harya tenang.

“Percuma, Yah. Kata Rio, ponsel itu sudah ketinggalan zaman. Aku mau yang baru, yang paling baru, yang bisa dipakai main gim tanpa tersendat.”

Pak Harya meletakkan pensilnya. “Berapa harganya?”

“Sekitar enam juta rupiah.”

“Enam juta rupiah?” Pak Harya menarik napas panjang. “Itu hampir sama dengan hasil kebun kita selama tiga bulan, Nak. Lagi pula, ponselmu rusak karena kamu pakai bermain sampai lupa waktu. Untuk saat ini, Ayah belum bisa membelikannya.”

“Ayah pelit!” bentak Bayu. “Teman-temanku semua punya. Cuma aku yang tidak!”

“Jaga bicaramu, Bayu.”

“Ayah tidak pernah mengerti aku! Ayah cuma tahu karet, karet, dan karet!”

“Bayu!” Bu Yulia muncul dari dapur dengan wajah terkejut. “Minta maaf pada ayahmu sekarang juga!”

Bayu tidak menjawab. Ia berbalik, masuk ke kamar, dan membanting pintu sekeras-kerasnya. Dari balik pintu, ia masih sempat mendengar Bu Yulia berbisik lembut kepada suaminya, “Sabar, Pak. Dia masih anak-anak.”

Malam semakin larut. Bayu berbaring menghadap dinding dengan dada yang masih panas. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk pelan. Pak Harya masuk dan duduk di tepi dipan.

“Ayah tidak marah, Nak,” katanya. “Ayah hanya takut. Ayah takut kamu kehilangan arah.”

Bayu diam, tetapi telinganya mendengarkan.

“Ayah ingin kamu ingat satu hal,” lanjut Pak Harya. “Nak, nasibmu ada pada salatmu.

Jika salatmu tidak dijaga, duniamu gelisah dan akhiratmu susah. Akan tetapi, jika salatmu dijaga, duniamu tenang dan akhiratmu juga aman.”

Ia mengusap punggung anaknya dengan tangannya yang kasar dan penuh getah karet. “Ponsel yang rusak masih bisa diganti, Nak. Namun, kalau salatmu yang rusak, apa lagi yang akan menopang hidupmu? Jangan lupa pula untuk terus berbakti kepada orang tuamu dan hormati gurumu. Tadi sore Ayah bertemu Pak Darmawan, wali kelasmu. Katanya, kamu sering mengantuk di kelas dan pernah menjawab beliau dengan ketus. Ilmu tidak akan berkah jika hati gurunya kamu lukai.”

“Iya, Yah,” jawab Bayu singkat tanpa menoleh. Hatinya masih keras. Ia hanya ingin percakapan itu cepat selesai.

Pak Harya mengusap kepala anaknya sekali lagi, lalu keluar tanpa berkata apa-apa.

Beberapa pekan kemudian, Pak Harya membelikan sebuah ponsel baru. Bukan yang paling baru seperti keinginan Bayu, melainkan ponsel sederhana yang masih layak pakai. Bayu menerimanya dengan wajah cemberut dan tanpa ucapan terima kasih.

“Cuma ini, Yah?” gumamnya.

Pak Harya hanya tersenyum. “Pakailah dengan bijak, Nak.”

Nasihat itu kembali masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan. Bayu tetap bermain gim sampai larut, meski tidak separah dahulu. Subuhnya masih sering terlambat. Ketika Pak Darmawan menegurnya, ia menunduk dengan wajah kesal, bukan karena menyesal, melainkan karena merasa dipermalukan.

Yang tidak Bayu sadari, ayahnya kini berangkat ke kebun lebih pagi dan pulang lebih malam. Batuknya semakin sering terdengar. Setiap kali Bu Yulia memintanya berobat, Pak Harya hanya menggeleng sambil tersenyum. “Nanti saja, Bu. Hanya batuk biasa.”

Memasuki kelas IX, batuk itu berubah menjadi sakit yang tidak lagi bisa disembunyikan. Pak Harya akhirnya dibawa ke puskesmas, kemudian dirujuk ke rumah sakit di kota. Namun, semuanya sudah terlambat. Pada suatu subuh yang dingin, Pak Harya berpulang selepas menunaikan salat di surau, dalam keadaan tenang, seperti orang yang sudah berdamai dengan segalanya.

Bayu berdiri kaku di samping jenazah ayahnya. Ia tidak menangis. Ia hanya merasa ada sesuatu yang runtuh di dalam dadanya.

Kini, di beranda yang sama, Bayu menggenggam sajadah ayahnya erat-erat. Bu Yulia keluar dan duduk di sampingnya.

“Kamu melamun lagi,” ujar Bu Yulia lembut.

“Bu, Bayu ingin bertanya,” katanya lirih. “Dulu, uang untuk membeli ponsel Bayu itu dari mana? Ayah kan bilang tidak punya uang.”

Bu Yulia terdiam cukup lama. Matanya berkaca-kaca. “Ayahmu tidak pernah ingin kamu tahu, Nak. Setiap malam setelah salat isya, ia pergi menyadap karet lagi untuk mendapat tambahan penghasilan. Ia juga menunda berobat karena uangnya ia sisihkan untuk ponselmu. Ibu sudah melarang, tetapi katanya, ‘Biar saja, Bu. Kalau itu bisa membuat Bayu bahagia dan mau belajar lagi, Ayah rela.’”

Dada Bayu seperti ditikam. Kata-kata ayahnya malam itu kembali terngiang jelas di kepalanya: nasibmu ada pada salatmu, berbaktilah kepada orang tuamu, dan hormatilah gurumu. Selama ini ia mengira ayahnya pelit dan tidak mengerti dirinya. Ternyata, justru dirinyalah yang tidak pernah mengerti betapa besar pengorbanan ayahnya.

“Ayah tidak pelit, Bu,” bisik Bayu dengan suara bergetar. “Bayu yang durhaka. Bayu membentak Ayah, membanting pintu di depan Ayah, dan tidak pernah mengucapkan terima kasih.”

Air matanya tumpah juga, tanpa bisa ia tahan lagi. Bu Yulia memeluknya erat. Untuk pertama kalinya sejak kepergian ayahnya, Bayu menangis sepuas-puasnya.

Setelah tangisnya reda, Bayu berdiri. Ia mengambil air wudu, menggelar sajadah hijau milik ayahnya, lalu menunaikan salat duha dengan khusyuk. Dalam sujud terakhirnya, ia berdoa, “Ya Allah, ampunilah Ayah dan lapangkanlah kuburnya. Ampunilah juga kesalahan hamba yang terlambat menyadari semuanya.”

Usai salat, ia mencium tangan ibunya. “Bu, maafkan Bayu. Mulai hari ini, Bayu akan menjaga salat Bayu, menjaga Ibu, dan menghormati guru-guru Bayu. Nanti sore Bayu ingin ke makam Ayah, lalu menemui Pak Darmawan untuk meminta maaf dan berterima kasih.”

Bu Yulia tersenyum di antara air matanya. “Ayahmu pasti bahagia mendengarnya, Nak.”

Bayu menatap langit di atas pohon-pohon karet yang bergoyang pelan. Ia sadar, penyesalan memang selalu datang terlambat. Namun, ia bertekad bahwa penyesalan itu tidak akan sia-sia, melainkan menjadi awal baru baginya untuk menjadi anak yang saleh, seperti yang selalu diharapkan Pak Harya. 

Terimakasih sudah memberikan masukan dan saran
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search

Catatan: