-->

Ketika Guru Bersembunyi di Balik Kata "Saya Gaptek"

- 05.10
advertise here

Oleh: Rapi., S.Pd (Plt. Kepala Sekolah SD Negeri 4 Lepar) Selasa 13 Oktober 2026, 05:10 WIB

Ilustrasi Guru Saya Gaptek (Sumber: MetaAi)

Ada yang mengaku gagap teknologi, tetapi tak pernah gagap ketika notifikasi diskon berbunyi. Ada yang kesulitan membuka platform pembelajaran, namun begitu lihai menata etalase daring, menautkan keranjang belanja, dan menyapa penonton dalam siaran langsung berjam-jam lamanya.

Di ruang-ruang pendidikan, fenomena ini bukan hal asing. Ia hadir diam-diam, bersembunyi di balik kalimat yang terdengar sederhana sekaligus aman. “Saya gaptek.”

Namun, benarkah ketidaktahuan itu mutlak?

Ketika teknologi hanya dianggap rumit saat menyentuh urusan profesional, tetapi menjadi akrab saat menyangkut kenyamanan personal, di situlah muncul pertanyaan penting, apakah ini soal kemampuan, atau soal pilihan?

Banyak yang merasa tidak pernah dilibatkan. Padahal undangan pelatihan dibagikan. Grup percakapan aktif. Informasi tersedia. Tetapi setiap kali ruang belajar dibuka, kursi-kursi tertentu selalu kosong. Bukan karena tak sempat, melainkan karena memilih tak hadir. Menghindar dengan rapi, lalu kembali mengeluh dengan percaya diri.

Ketidakhadiran yang berulang bukan lagi kebetulan. Ia adalah sikap.

Mengaku tidak tahu sering kali menjadi tameng paling aman. Dengan label gaptek, seseorang terbebas dari tuntutan untuk belajar. Dengan dalih tidak paham, tanggung jawab perlahan dialihkan kepada mereka yang bersedia mencoba. Pada akhirnya, yang bekerja adalah yang mau belajar, dan yang bersembunyi tetap merasa benar.

Ironisnya, dunia pendidikan menuntut keteladanan. Guru bukan sekadar penyampai materi, melainkan penunjuk arah. Ketika guru memilih berpura-pura tertinggal, maka yang diwariskan kepada peserta didik bukan kerendahan hati, melainkan pembenaran untuk berhenti bertumbuh.

Perubahan memang tidak selalu nyaman. Belajar ulang di usia matang membutuhkan keberanian. Mengakui ketertinggalan jauh lebih jujur daripada berpura-pura tidak mampu. Sebab tidak tahu itu manusiawi, tetapi memelihara ketidaktahuan adalah pilihan.

Teknologi tidak menuntut semua orang menjadi ahli. Ia hanya meminta satu hal sederhana, kemauan. Hadir, mencoba, dan belajar. Gagal tidak apa-apa. Tidak paham juga wajar. Yang berbahaya adalah ketika ketidakpahaman dijadikan identitas, dan ketidakhadiran dianggap hak.

Pendidikan tidak runtuh karena keterbatasan. Ia runtuh ketika kepura-puraan dibiarkan tumbuh. Ketika bodoh bukan lagi kondisi sementara, melainkan peran yang sengaja dimainkan.

Menjadi guru berarti menerima satu kenyataan sederhana, bahwa belajar tidak pernah selesai. Ada masa ketika kita tertinggal, ada saat kita harus mengejar, dan ada waktu kita perlu mengakui bahwa kita belum mampu. Semua itu wajar, selama kejujuran tetap dijaga.

Yang perlu dihindari bukanlah ketidaktahuan, melainkan kepura-puraan. Karena dari sanalah jarak antara guru dan zaman mulai melebar, pelan namun pasti.

“Belajar adalah bentuk paling sunyi dari tanggung jawab seorang pendidik.”

Kita semua adalah pembelajar yang sedang berjalan. Ada yang melangkah cepat, ada yang tertatih, dan ada yang sesekali berhenti karena lelah. Semoga kita tidak memilih diam hanya karena takut tertinggal, dan tidak memilih berpura-pura karena enggan berubah.

Semoga setiap keterbatasan menjadi pintu untuk rendah hati, bukan alasan untuk menutup diri. Semoga setiap undangan belajar kita sambut dengan keberanian, bukan kita tinggalkan dengan dalih.

Dan semoga, ketika kelak ilmu yang kita ajarkan menjadi cahaya bagi murid-murid kita, kita tidak lupa memastikan bahwa cahaya itu juga masih menyala di dalam diri kita sendiri.

Aamiin.

Terimakasih sudah memberikan masukan dan saran
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search

Catatan: