Oleh: Andi Zulkarnain (Guru SMP Negeri 1 Prambanan) Rabu, 14 Oktober 2026, 04:59 WIB
![]() |
| Andi Zulkarnain (Sumber: Dokpri) |
Sepenggal pengalaman pribadi
Ketika siang ini melewati kantor pos kota. Memori ini serasa menyeruak dan lalu menggambarkan sebuah perasaan sekaligus kenangan yang mengalir dalam benakku.
Dulu,..... cinta hadir dalam lembaran-lembaran kertas. Kata-kata yang ditulis dengan hati-hati, dengan tinta yang kadang luntur oleh air mata atau peluh rindu.
Surat cinta bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi perjalanan emosi yang disimpan dalam amplop, diantar oleh tukang pos, dan dinanti dengan debar tak menentu. Di balik setiap hurufnya, ada usaha, keberanian, dan kesungguhan.
Kini, semuanya berubah. Surat cinta tergantikan oleh pesan singkat di WhatsApp. Cinta hadir dalam bentuk notifikasi “Typing…” lalu hilang, atau centang biru yang ditatap terlalu lama.
Rindu tak lagi sabar menunggu sepekan, cukup dalam hitungan detik atau menit. Emoji menggantikan peluk yang tak terucap, dan stiker lucu menggantikan bait-bait puitis yang dulu ditulis tangan.
Perubahan ini membawa kemudahan, tapi juga kehilangan. Tak ada lagi aroma wangi kertas berwarna pink, merk harvest... yang mengabarkan kerinduan. Tak ada lagi tulisan tangan yang membuat kita merasa benar-benar dekat dengan dia yang jauh. Segalanya kini serba instan, bahkan cinta.....
Namun, mungkin begitulah waktu bekerja. Ia menggeser kebiasaan, menyisihkan yang lama, dan menghadirkan cara baru untuk mencinta. Bukan berarti cinta kini tak setulus dulu, hanya saja bentuknya berbeda.
Surat cinta mungkin telah tergantikan, tapi perasaan yang ingin disampaikan tetaplah sama: rindu, sayang, dan harap agar hati tak pernah berpaling.
Sebuah perubahan, dari surat cinta ke WhatsApp, adalah potret zaman yang tak bisa kita tolak. Tapi sesekali, tak ada salahnya menulis lagi, di atas kertas, untuk mengingatkan bahwa cinta sejati, tak pernah kadaluarsa.
Terimakasih sudah memberikan masukan dan saran
EmoticonEmoticon