Oleh: Nurhabibah, S.Kom, M.Pd (Guru SMKN 4 Pekanbaru) Selasa 29 September 2026, 18:35 WIB
![]() |
| Ilustrasi Merdeka Belajar dan Literasi Bermakna (Sumber: MetaAi) |
Guru
merupakan agen perubahan karena seorang guru dapat
mengubah keadaan menjadi
lebih berkualitas, tak terkecuali peran guru sebagai agen perubahan pada tema
Merdeka belajar dalam Literasi bermakna. Bagian tersulit dalam pendidikan
adalah bagaimana melakukan perubahan untuk menuju tujuan pendidikan. hal itu karena pendidikan merupakan jembatan untuk menghantarkan murid menuju
masa depan dengan kompetensi yang dimilikinya.
Kendati
begitu tujuannya sulit untuk kita prediksi, karena perubahan zaman yang begitu
cepat sehingga dapat mengubah perilaku terhadap lingkungan. Lingkungan sangat
mempengaruhi tumbuh kembang seseorang, maka seseorang harus mempunyai kebebasan dan kemerdekaan
dahulu. Hal itu karena Kebebasan merupakan suatu hal fundamental dalam tumbuh kembang seseorang sehingga akan dapat mengubah perilaku.
Gerakan iterasi mempunyai misi yang sama dengan tujuan pendidikan Indonesia, namun masih banyak sekolah dan guru yang belum memahami apa yang sebenarnya menjadi tujuan literasi sehingga dalam prakteknya di lapangan program literasi
belum menuju sasaran dan tujuan yang sebenarnya.
Kegiatan
literasi hanya sekedar menjalankan program literasi sekolah misalnya, hanya
melakukan kegiatan lima belas menit sebelum proses pembelajaran dimulai dan itu
bersifat tradisi, karena siswa hanya diwajibkan untuk membaca. Kemudian dari bacaan tersebut siswa akan menjawab
pertanyaan bacaan. Sehingga
siswa tidak memahami
makna literasi tersebut secara hakikinya.
Selaian itu juga banyak
timbul pertanyaan dan tafsiran tentang literasi, tafsiran dan pertanyaan itu
kemudian mengaburkan tujuan penerapan literasi yang sesungguhnya, yaitu membuat
seseorang dapat berpikir dan beraksi
nyata dalam multidimensi sehingga menghasilkan inovasi melalui kreatifitas yang
dimilikinya. Oleh karena itu bersama dengan sekolah guru harus memperbaiki miskonsepsi terhadap tujuan
dari literasi tersebut.
Hal itu dapat dilakukan guru dan sekolah dengan meningkatkan kemampuan literasi yang dimilikinya sehingga dapat menunjang prestasi dalam mengantarkan siswa menuju masa depannya. Guru dan sekolah juga harus dapat memberi ruang untuk mengembangkan pengetahuan serta keterampilan murid dalam berpikir inovatif dan kreatif. Hal itu dapat dilakukan melalui penyesuaian situasi kondisi dalam memahami perkembangan zaman sehingga literasi dapat menjembatani murid untuk meraih kesuksesan di masa depan.
Lebih dari itu, Coba lihat bagaimana sarana sekolah!, salah satunya adalah perpustakaan yang sepetinya mati suri, antara ada dan tiada. Bagaimana murid mau menumbuh kembangkan minat literasi negeri ini?. Masih banyak sekolah menganggap perpustakaan itu merupakan sarana objek penderita sekolah.
Buku-bukunya sangat minim, hanya buku-buku yang usang di pajang di sana. Sarana yang minim membuat para siswa tidak dapat menumbuhkan minat baca.
Seorang siswa butuh interaksi dalam mengekspresikan, kritik, interpretasi sehingga dapat mengkreasikan apa yang dibacanya dalam sebuah media. Kesalahan kita selama ini hanya menjalankan kebijakan dengan membaca lima belas menit apa yang harus dapat di analisis siswa.
Sekolah harus dapat memberdayakan dan memotivasi siswa dengan membuktikan apa yang di dapat mereka dari membaca. Tidak menutupi khusus untuk guru, harus siap menjadi motivator inovasi literasi dalam kegiatan membaca, menganalisis yang berkaitan program literasi sehingga antara siswa dan guru dapat menjalankan program secara bersama.
Sebenarnya program literasi ditujukan untuk siapa? Siapa yang harus memahami secara utuh dalam melaksanakannya. Berdasarkan tahapan membudayakan literasi pada murid. Tahapan yang harus dikembangkan mulai dari pemahaman, minat dan keterampilan murid terhadap literasi sehingga akan menanamkan minat bakat yang dapat dilaksanakan sebagai budaya. Ketik telah menjadi budaya murid pengembangannya akan mudah sehingga akan berorientasi pada kegiatan yang bermakna.
Dari situ kemudian kegiatan literasi akan lahir secara sendiri dengan berbagai variasi sesuai dengan tantangan belajar dalam menyesuaikan perkembangan serta keterampilan untuk mencapai tujuan literasi itu sendiri.
Bagaimana agar literasi yang kita lakukan lebih bermakna bagi siswa dan guru?. Semua itu tergantung pengelolaan program literasi itu sendiri, dan dikembalikan pada sekolah masing-masing. Kendati begitu semua itu butuh seorang guru yang merdeka belajar dalam menggerakkan dan memberikan inisiatif agar semua program tersebut dapat berjalan dengan baik.
Seorang guru yang merdeka belajar dapat merancang bagaimana pelaksanaan program literasi bagi siswa untuk menggali, minat, keterampilan, pengetahuan sehingga dapat memodifikasi serta menerapkanya dalam proses pembelajaran di kelas.
Mulai dari tahapan yang sangat rendah, memahami, membiasakan, menjalankan hingga menjadi sebuah kebudayaan atau dapat disebut kebutuhan utama. Sehingga siswa akan dapat melakukan kegiatan literasi yang bermakna.
Tahapan demi tahap jika setelah menjadi budaya, maka dengan sendirinya akan berdampak pada kemampuan literasi siswa dan guru secara pesat. Sehingga kegiatan literasi yang bermakna itu akan menghasilkan sumber belajar dan semangat dalam meningkatkan minat bakat dalam perkembangan siswa dalam proses belajar.
Jika siswa dan guru sudah semangat akan lebih termotivasi sehingga tumbuh kembang siswa akan menjadi hal menyenangkan.
Literasi dapat membangun kepercayaan diri pada siswa. Bagaimana agar daya minat baca menulis kita kembangkan dengan selalu memotivasi agar terus untuk terus membaca dan menulis. Seperti anak-anak yang umur 3-6 tahun, begitu antusiasnya untuk belajar membaca dan menulis tanpa kenal waktu, sehingga setelah ia memahami akan tumbuh sendirinya kepercayaan dalam membaca dan menulis.
Tahap inilah yang harus kita pupuk sehingga akan menghasilkan literasi yang bermakna dalam membangun kepercayaan diri seorang siswa. Disinila fungsi guru bertugas sebagai memberi semangat atau motivator agar tingkat kepercayaan siswa terus termotivasi agar dapat menghasilkan karya dan mencapai tujuan literasi yang sebenarnya.
Seorang guru harus dapat membuat suasana kenyamanan, menyenangkan dan terus memotivasi tanpa batas.
Banyak hal yang harus dilakukan pada kegiatan program literasi yang bermakna. Guru harus dapat mengenalkan berbagai bentuk cerita, mulai dari cerita karakter, binatang-binatang, tumbuhan dan cerita tentang lingkungan kehidupan sehari-hari.
Mulai dari hal inilah siswa mulai menuangkan apa yang dibaca, dirasakannya, diungkapkannya kembali dalam bentuk tulisan yang bermakna. Sehingga apa yang dilakukannya dalam gerakan literasi akan lebih bermakna dan tepat sasaran.
Hal yang terakhir yang harus dilakukan adalah merefleksi apa yang mereka dapatkan dari pelaksanaan literasi tersebut. Misalnya setelah mereka membaca buku maka kita meminta siswa-siswi untuk dapat merefleksi apa yang mereka baca dalam bentuk cerita atau narasi, puisi yang berhubungan dengan apa yang mereka baca.
Hingga tulisan mereka berbagai bentuk karya akan dapat tertuang kembali dengan kata-kata yang sangat sederhana. Kegiatan ini memang membutuhkan waktu bagaimana agar kita dapat membuat program literasi yang bermakna.
Kolaborasi antara guru dengan siswa sangat dibutuhkan, dan memerlukan waktu yang panjang, sehingga literasi dan guru yang merdeka mampu menghantarkan siswa pada tujuan pendidikan yaitu mencapai masa depan yang mandiri dan bisa berdiri sendiri untuk dirinya sendiri, lingkungan keluarga dan masyarakat luas.
Terimakasih sudah memberikan masukan dan saran
EmoticonEmoticon