-->

Petualangan Dunia Mancing

- 20.23
advertise here
Oleh: Fahmi (Siswa SMPN 1 Pulau Besar/Alumni SDN 3 Pulau Besar) Senin 28 September 2026, 20:17 WIB 

Ilustrasi Aktifitas Memancing (Sumber:MetaAi)


Perkenalkan nama saya Fahmi. Saya murid SDN 3 Pulau Besar. Hobi saya berpetualang, di antarnya adalah berpetualang dalam hobi memancing. Karena sukanya, pesan saya untuk teman-teman yang sehobi adalah untuk berhati-hati dalam berpetualang. Periksa kelengkapan jangan sampai kehilangan waktu.

Inilah sebagian kisah usil saya dan teman saya. 

Pada pagi yang cerah, saya dan Idil berencana untuk mancing. Kami pun merencanakan mancing di suatu tempat yang terkenal banyak ikannya.

“Dil, jadi gak mancingnya? Ada sungai yang banyak ikannya,” ajak saya.

“Ya, ayok. Kita nyari umpan dulu. Mumpung kita jadi manusia bebas,” balas Idil.

Saya mencari umpan bersama Idil, tak lama menggali tanah, Idil menemukan guci emas yang langka.

 “Mi, aku nemu guci emas kayaknya.” Idil berteriak memanggil saya.

“Hmm, Cuma warna saja, bukan emas beneran,” cibirku.

Setelah itu saya menemukan sarang tawon yang berada di atas pohon sawit, jiwa usil saya yang meronta-ronta membuat sarang tawon itu saya lempar. Tawon yang sakit hati menyerbu membuat saya lari kocar-kacir.

“Dasar _koclok_, tawon mbok lempar, yo, marahlah!” Idil marah, saya senyum-senyum cengengesan.

Setelah menunggu sampai sore, saya dan Idil menuju spot mancing, tiba-tiba di tengah perjalanan, “Loh, Dil, mogok, ki, motor e”. 

“Ya, gek ndang, dijampi-jampi dulu, kono,” perintah Idil.

Saya pun mengotak-atik motor, Eh, hidup lagi. Alhamdulillah, kami berdua Idil pun melanjutkan perjalanan. Akhirnya sampai juga ke tempat mancing yang membuat mata menjadi bunder, sebab lokasinya penuh ikan.
Tak sabaran rasanya ingin mancing. Kami pun mengeluarkan alat untuk mancing. 

Saat melihat perlengkapan mancing kami, ternyata ada yang terlupa, yaitu umpan! Bagaimana mau mancing kalau umpannya tidak ada. Kenapa bisa ketinggalan di rumah, hadeeeh. 

“Kok, bisa Mi, umpanmu _mbok_ tinggal?” keluh Idil.

“Hehe, namanya lupa, ya, ketinggalan.” Saya pun pulang lagi untuk mengambil umpannya, kemudian balik lagi ke spot mancing tadi.

Saya berpisah dengan Idil dan saya membagi umpannya sama rata. Saya dan Idil senang, kami memancing sambil berkelakar, sangat seru kata Idil. Jarak berapa menit saya mendapatkan ikan cukup besar dan saya pamer sama Idil. 

“Dil, tengoklah, besar gak ikanku?” pamer saya. Eh, Idil iri dan dia marah.

“Bajigur, kenapa kamu yang dapat ikan besarnya? Aku dari tadi belum ada yang tertarik mendekati!” omel Idil. 

Lalu Idil dapat ikan kecil, dia pamer, saya tertawa. Karena banyaklah umpan yang dimakan tanpa terperangkap kail, makanya umpan Idil cepat habis. Umpan saya masih cukup, akhirnya saya bagikan lagi untuk Idil. Dia senang dan lanjut mancing lagi.

Karena hari beranjak surup, Idil mengajak pulang. “Ayok balik, Mi!”

Di tengah perjalanan, motornya mogok, dan saya cek habis bensin. “Sesuailah mogok, lah bensinnya kering e,” ujar saya sambil cengengesan karena pasti kami berdua akan mendorong motor hingga menemukan warung yang menjual bensin. 

Saya dan Idil belum juga sampai, masih di sawah. Napas kami jadi ngos-ngosan karena mendorong motor. Alhamdulillah, jarak berapa menit saya sampai di warung Mbah Saekan dan saya membeli bensin. Saat motor hidup, kami langsung pulang karena hari sudah surup.  

Bionarasi:Nama: FAHMI ANDRIAN. TTL: Bangka Selatan, 07 Oktober 2012 Merupakan alumni SDN 3 Pulau Besar tahun 2026, saat ini sekolah di SMPN 1 Pulau Besar. cerpen ini dibuat untuk memenuhi tugas Ujian Praktek Bahasa Indonesia Kelas VI tahun 2026.

Terimakasih sudah memberikan masukan dan saran
EmoticonEmoticon

This Newest Prev Post
 

Start typing and press Enter to search

Catatan: