-->

Layar Yang Padam

- 17.38
advertise here

Oleh: Juhari, S.Pd (Guru SD Negeri 19 Toboali) Rabu 30 September 2026, 17:36 WIB 

Ilustrasi Penyesalan (Sumber: MetaAi)

Pukul tujuh malam, aroma sambal terasi dan ikan goreng memenuhi rumah kecil di Desa Harapan. Ibu Yulia sudah menata piring di meja makan. Pak Harya duduk menunggu, sesekali melirik jam dinding.

"Bayu! Makan dulu, Nak!" panggil Ibu Yulia untuk ketiga kalinya.

Dari kamar terdengar suara tombol ditekan cepat dan gumaman kasar. Tidak ada jawaban.

Pak Harya bangkit. Ia mengetuk pintu kamar, lalu membukanya. Kamar itu gelap, hanya diterangi cahaya biru dari layar ponsel. Bayu duduk membungkuk dengan mata merah, rambut kusut, dan kaus yang sama seperti kemarin. Bau badannya samar tercium.

"Bayu, makan malam."

"Sebentar, Yah. Tanggung, lagi rank."

"Sudah tiga kali Ibu memanggil."

"Lima menit lagi!" Suara Bayu meninggi tanpa menoleh.

Pak Harya menarik napas panjang. "Simpan ponselmu. Sekarang."

"Enggak bisa, Yah! Kalau keluar, timku kalah, aku kena penalti!"

Pak Harya melangkah dan mengambil ponsel itu dari tangan anaknya. Layarnya masih menyala, karakter di dalamnya berdiri diam.

"Kembalikan!" Bayu berdiri, wajahnya merah. "Ayah enggak ngerti apa-apa! Kembalikan!"

"Ayah tahu nilai rapormu. Ayah tahu wali kelasmu memanggil kami dua kali bulan ini. Kamu kelas sembilan, Bayu. Sebentar lagi ujian."

"Terus kenapa? Aku bosan dengar itu!" Bayu berteriak. "Cuma di gim aku dianggap hebat! Di sini aku cuma disuruh, dimarahi, disalahkan!"

Ibu Yulia muncul di ambang pintu dengan mata berkaca-kaca. "Nak, Ibu cuma minta kamu makan. Kamu sudah dua hari makan sambil pegang ponsel. Kemarin kamu bahkan tidak mandi."

"Ibu juga sama saja!" Bayu mendorong kursi, lalu membanting pintu kamar di depan wajah mereka.

Ibu Yulia menutup mulutnya. Pak Harya berdiri diam di lorong, ponsel anaknya masih di tangan, terasa lebih berat daripada yang ia kira.

Malam itu Bayu tidak makan. Setelah orang tuanya tertidur, ia mengendap-endap ke dapur dan membuka laci tempat ayahnya menyimpan ponsel. Ia sudah hafal kodenya, yaitu tanggal lahirnya sendiri. Dengan senyum puas, ia kembali ke kamar dan bermain sampai subuh.

Ini bukan kali pertama. Ia sudah pandai berbohong: bilang kerja kelompok padahal pergi ke warnet, bilang uang habis untuk buku padahal dipakai membeli paket data, mengubah alarm supaya orang tuanya mengira ia sudah tidur. Dulu Bayu gemar menggambar. Buku sketsanya kini tergeletak di bawah tumpukan baju kotor, berdebu, dan ia tak lagi ingat kapan terakhir menyentuhnya. Sahabatnya, Raka, berhenti mengajaknya bermain bola setelah berkali-kali ditolak. Di kelas, Bayu lebih sering menelungkup di meja. Bagi guru-gurunya, ia hanya anak pendiam yang mengantuk.

Yang tidak diketahui siapa pun, Bayu bermain bukan karena senang. Ia bermain karena hanya di sanalah suara-suara di kepalanya bisa berhenti: rasa malu karena nilai yang terus turun, takut mengecewakan ayahnya, dan kesepian yang tak tahu ia ceritakan kepada siapa.

Beberapa minggu kemudian, wali kelas memanggil orang tua Bayu lagi. Kali ini kabar dari sekolah lebih berat: jika nilai dan kehadiran tidak membaik, Bayu terancam tidak lulus.

Pak Harya pulang dengan bahu merosot. Malam itu ia dan Ibu Yulia duduk lama di ruang tamu. Untuk pertama kalinya, mereka tidak marah, hanya lelah dan takut.

"Kita sudah salah cara, Bu," kata Pak Harya pelan. "Kita hanya melarang. Kita tidak pernah bertanya kenapa dia begitu."

Ibu Yulia mengangguk sambil menyeka air mata. "Besok kita bicara baik-baik."

Namun, esok tidak datang seperti yang mereka rencanakan.

Sore itu Bayu pulang sekolah dengan kepala penuh. Di kelas tadi ia dipermalukan: guru membagikan hasil ulangan dan menyebut namanya sebagai nilai terendah. Teman-teman tertawa. Ia ingin segera sampai rumah dan menghilang ke dalam gim.

Sambil berjalan cepat, matanya terpaku pada layar ponsel yang menampilkan pemberitahuan acara khusus yang hampir berakhir. Ia tidak melihat jalan. Ia tidak mendengar apa pun.

Bruk!

Tubuhnya menabrak seseorang. Ponselnya terlempar, layarnya retak di aspal. Seorang lelaki berjubah putih dan berpeci, membawa kantong belanja, jatuh terduduk. Buah-buahan di kantongnya berserakan.

"Astagfirullah ...."

Bayu tidak minta maaf. Ia merangkak ke ponselnya, memungutnya dengan tangan gemetar. Layarnya hitam.

"Enggak ... enggak, enggak!" Ia menekan tombol daya berkali-kali. "Akunku! Semua perlengkapanku!"

Tanpa sadar air mata Bayu jatuh. Ia menangis di pinggir jalan, memeluk ponsel yang mati, seolah kehilangan seseorang.

Lelaki tua itu, Ustaz Salim, bangkit perlahan. Ia tidak marah. Ia memungut buahnya satu per satu, lalu duduk di samping Bayu di trotoar.

"Nak, kamu tidak apa-apa? Ada yang luka?"

Bayu tercengang. Ia baru saja menabrak orang tua, tetapi yang ditanya justru keadaannya. "Ma ... maaf, Pak. Saya enggak lihat."

"Tidak apa-apa. Yang penting kamu selamat." Ustaz Salim menatap ponsel itu. "Sepertinya benda itu berharga sekali buatmu."

"Di dalamnya semua yang saya punya, Pak," isak Bayu. "Cuma di situ saya jadi orang yang berarti."

Ustaz Salim terdiam sejenak, lalu berkata lembut, "Nak, Bapak sering melihat kamu lewat sini. Kepala menunduk, mata di layar. Sudah lama Bapak ingin menyapa. Kamu tahu apa yang hilang dari hidupmu kalau menunduk terus?"

Bayu menggeleng.

"Langit, wajah orang tua, dan suara orang yang menyayangimu. Gim itu bisa dibuat ulang, akun itu bisa dibuat lagi. Namun, waktu yang terbuang dan hati orang tua yang terluka tidak mudah dikembalikan." Ia menepuk bahu Bayu. "Pulanglah. Lihat wajah ayah dan ibumu baik-baik."

Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada semua bentakan yang pernah Bayu dengar.

Bayu berlari pulang. Dari kejauhan ia melihat kerumunan tetangga di depan rumahnya dan sebuah ambulans dengan lampu berputar.

Kakinya lemas. Ia menerobos masuk. Di ruang tamu, Ibu Yulia menangis dalam pelukan tetangga. Pak Harya tidak ada.

"Bu ... Ayah mana?"

Ibu Yulia menatapnya dengan mata sembap. "Ayahmu ... tadi siang dipanggil sekolah lagi, lalu ke bagian keuangan sekolah untuk memohon keringanan. Dalam perjalanan pulang, dia tak kuat, Nak. Jantungnya. Sudah beberapa minggu dia menahan sakit dan tidak bilang siapa-siapa. Dia takut menambah beban pikiranmu."

Dunia Bayu seakan berhenti. Dari dalam tas Pak Harya yang terletak di kursi, menyembul map berisi surat-surat sekolah, dan di atasnya terselip sebuah buku sketsa lama berdebu. Buku itu milik Bayu. Ayahnya diam-diam mengambilnya dari kamar. Di halaman terakhir terselip secarik kertas dengan tulisan tangan ayahnya:

"Bayu, Ayah rindu melihatmu menggambar. Kapan pun kamu siap pulang dari dunia itu, Ayah tunggu."

Bayu jatuh berlutut. Ponselnya yang retak terlepas dari genggaman dan terguling di lantai. Untuk pertama kalinya, ia tidak menoleh untuk memungutnya.

Tujuh hari setelah pemakaman, Bayu duduk di teras rumah bersama ibunya. Tidak ada ponsel di tangannya. Ia sudah mandi, makan bersama Ibu Yulia, dan untuk pertama kali dalam berbulan-bulan, ia menatap langit sore.

"Bu, maafkan Bayu."

Ibu Yulia memeluk anaknya erat. "Ibu tidak marah, Nak. Ibu hanya ingin kamu kembali."

Bayu mengangguk. Ia membuka buku sketsa itu dan mulai menggambar wajah ayahnya, perlahan, dengan tangan yang masih gemetar.

Esoknya, ia berjalan ke masjid dekat sekolah dan menemui Ustaz Salim. "Ustaz, saya ingin belajar berhenti," katanya lirih. "Tetapi saya tidak tahu mulai dari mana."

Ustaz Salim tersenyum. "Mulailah dengan bercerita. Kamu tidak harus sendirian."

Bayu juga menghubungi Raka dan meminta maaf. Ia mulai belajar mengejar ketertinggalan, dibantu wali kelasnya, dan ia berbicara dengan konselor sekolah tentang kesepian yang selama ini ia pendam. Prosesnya tidak mudah. Ada malam-malam ketika keinginan bermain kembali menyerang, dan ia harus menggenggam buku sketsanya erat-erat sampai keinginan itu reda. Namun, ia tidak lagi menghadapinya sendirian.

Bayu lulus dengan nilai pas-pasan, tetapi ia lulus. Di hari kelulusan, ia menempelkan gambar wajah ayahnya di dinding kamar, dengan tulisan kecil di bawahnya:

"Ayah, aku sudah pulang."

Terimakasih sudah memberikan masukan dan saran
EmoticonEmoticon

This Newest Prev Post
 

Start typing and press Enter to search

Catatan: