-->

BATAS

- 19.05
advertise here
Oleh: Windu Budiarta, S.Pd (Guru SMP Negeri 2 Tukak Sadai) Kamis 1 Oktober 2026, 19:03 WIB 


Ilustrasi Kampung di Hutan (Sunber: MetaAi)

Aku selalu menganggap cerita tentang Orang Bunian hanya dongeng lama, cerita pengantar tidur dari mulut ke mulut yang sengaja dibesar-besarkan agar anak-anak kampung tidak sembarangan masuk hutan.

Tapi, semua logika itu hancur berantakan pas aku benar-benar menembus batas dunia yang tak kasat mata.

Namaku Rafi. Hidupku lagi berantakan, kacau parah. Kuliah di Pangkalpinang kandas di tengah jalan. Pernah mencoba melamar kerja di perusahaan dan diterima. Namun, pekerjaanku tak bertahan lama. Aku terkena PHK dengan alasan perusahaan sedang efisiensi anggaran. Uang tabungan habis, otak macet, dan akhirnya aku pulang sebagai seorang bujang yang gagal. Pulang ke rumah bukan berarti disambut hangat. Setiap langkahku di desa ini rasanya kayak sedang dihakimi. Di warung kopi, orang-orang melirik dengan tatapan kasihan yang lebih menyakitkan daripada makian. Adikku sudah mapan, Ia ASN di salah satu sekolah di Bangka Selatan, sudah punya motor sendiri. Sementara aku? Cuma jadi beban pikiran Emak yang tiap hari menghela napas panjang tiap melihatku di ruang tamu. Setiap tatapan mereka rasanya seperti pertanyaan yang tak diucapkan: “Kapan kau cari kerja, Fi?”

Kepalaku penuh. Dada sesak. Rasanya aku ingin lari sejauh mungkin dari ekspektasi orang-orang.

Sore itu, mungkin karena sudah terlalu muak, kakiku melangkah sendiri ke Hutan Namang. Hutan yang sudah ribuan kali kulewati, tapi kali ini terasa berbeda.

Tanahnya lembap, sisa hujan semalam. Bau tanah basah bercampur aroma yang aneh, bukan wangi bunga biasa, tapi wangi yang bikin pusing, manis yang menusuk. Hutan ini sunyi sekali. Nggak ada suara burung, nggak ada bunyi jangkrik yang biasanya ramai. Cuma ada suara napasku sendiri yang memburu, dan bunyi ranting kering yang patah di bawah sepatuku.

“Fi…”

Langkahku terhenti. Aku menoleh. Kosong. Cuma semak-semak yang bergoyang pelan tertiup angin yang entah datang dari mana.

“Fi… Mari ke sini!”

Suara itu datang lagi. Perempuan. Lembut, tapi bukan jenis suara yang minta dipatuhi. Suara yang bikin otot-ototku rileks seketika. Aku, yang tadinya gelisah setengah mati, tiba-tiba merasa tenang. Seperti ada tangan yang membelai saraf-saraf kepalaku yang tegang. Aku berjalan, mengikuti suara itu tanpa sadar. Rasanya seperti ada magnet yang menarik dadaku.

Lalu, di depan mataku, hutan itu terbuka.

Ada kampung. Bukan kampung yang biasa kulihat di daerah Bangka. Rumah-rumahnya kayu tua, tertata rapi, seperti desa yang tersembunyi dari zaman. Orang-orang di sana, mereka beda. Gerak-gerik mereka terlalu tenang, seolah waktu bagi mereka nggak pernah berjalan cepat. Mereka tidak menatapku. Mereka tidak menghakimiku.

Seorang perempuan berdiri di depan sana. Rambutnya panjang, wajahnya teduh, dan tatapannya dalam, kayak dia bisa baca isi kepalaku yang lagi semrawut.

“Kamek nunggu kau, Fi.”

Aku menelan ludah. Suaraku tercekat. “Siape… kau ni?”

Dia tersenyum tipis. “Orang yang dak terlihat oleh duniamu.”

Di situlah aku sadar. Aku sudah nggak di dunia yang sama lagi.

Hari-hari berikutnya terasa sangat ganjil. Mungkin hitungannya bukan hari, aku nggak tahu. Di sini, aku nggak lapar. Aku nggak capek. Rasa gagal, rasa malu, rasa minder, semuanya menguap begitu saja. Aku sering duduk di bawah pohon besar yang daunnya berwarna perak, memperhatikan orang-orang itu melakukan aktivitas mereka. Tidak ada yang terburu-buru. Tidak ada yang sibuk mengejar setoran atau memikirkan masa depan.

Namanya Naila. Dia yang sering nemenin aku. Dia tidak pernah bertanya kenapa aku datang, atau apa masalahku.

“Di duniamu, kau itu terlalu banyak mikir,” kata Naila suatu malam. Kami duduk di dekat sungai yang airnya bening seperti kristal.

Aku ketawa getir, suara ketawaku terdengar aneh di keheningan itu. “Ya gimana nggak mikir, hidupku amburadul. Zaman sekarang cari kerja susah? Mau jadi apa, aku ini?”

“Di sini, pikiran itu beban yang bisa ditinggal,” jawabnya tenang. Dia memetik sehelai daun dan meletakkannya di air. Daun itu tidak hanyut, tapi malah melayang. “Manusia di duniamu terlalu sibuk dengan apa yang belum terjadi, sampai lupa kalau mereka sedang hidup di detik ini.”

Aku terdiam. Kalimatnya menghantamku telak. Aku mulai terbuai. Memang senikmat itu hidup tanpa tuntutan. Nggak ada yang nanya kapan aku kerja, nggak ada yang bandingin aku sama adikku. Aku mulai lupa kenapa aku dulu merasa seburuk itu. Aku mulai lupa wajah Emak.

“Banyak orang kayak kau ke sini,” ucap Naila tiba-tiba, memecah lamunanku.

“Manusia?”

Dia mengangguk. “Yang lelah sama hidupnya. Yang pengen lari.”

“Lalu? Mereka balik?” tanyaku penasaran.

Naila menatapku lama, pandangannya bikin aku merinding. “Sebagian memilih tinggal. Di sini, kau tidak perlu jadi apa-apa. Kau cukup ada.”

***

Malam itu, aku bermimpi. Aku lihat Emak di dapur, sedang masak. Wajahnya lebih keriput, matanya sembab. Dia sedang memegang piring nasiku yang tak pernah kusentuh.

“Rafi… Pulanglah…”

Suara Emak kedengaran jauh banget, kayak lagi manggil dari balik sumur. Itu suara yang paling aku kenal, suara yang selama ini aku hindari karena membawa beban rasa bersalah.

Aku terbangun dengan keringat dingin. Naila sudah di sampingku.

“Waktumu hampir habis,” katanya dingin.

“Berapa lama aku di sini, Nai?”

“Bagi kau… Mungkin baru beberapa hari.”

Jantungku rasanya mau copot. “Dan di kampung?”

“Sebulan lebih.”

Aku diam. Sebulan. Emak pasti sudah kelimpungan. Dunia terasa runtuh lagi. Aku sadar, senyaman apa pun di sini, ini bukan tempatku. Naila benar, di sini aku memang tidak perlu jadi apa-apa. Tapi kalau aku tidak jadi apa-apa, aku pun tidak akan pernah bisa jadi seseorang bagi orang lain.

“Aku harus pulang.”

Naila menatapku, tatapannya tidak kaget, tapi ada kecewa tipis di sana. “Kau masih ingin jadi manusia yang menderita itu?”

Aku terdiam lama. Membayangkan hidupku yang penuh masalah itu lagi. Ya, itu menyakitkan. Itu melelahkan. Tapi itu nyata. Itu hidupku. “Iya,” kataku tegas. “Meski berantakan.”

Kami berjalan sampai ke batas hutan. Bau tanah basah yang menyengat itu balik lagi.

“Kalau kau keluar, kau dak bisa balik lagi, Fi,” Naila memperingatkan. “Sekali kau memilih jalan manusia, kau harus menanggung beban manusia.”

“Aku tahu.”

Saat aku menyeberang batas, udara dunia nyata langsung terasa beda. Pengap. Kotor. Tapi… Ini rumahku.

Sampai di kampung, orang-orang memandangku aneh. Aku terlihat kusut, bajuku kotor, tapi ada sesuatu di mataku yang beda. Emak langsung lari, memelukku sambil nangis sejadi-jadinya. Dia tidak bertanya ke mana aku pergi, dia cuma memelukku seolah aku adalah satu-satunya hal yang dia punya.

“Ka kemane bae, Fi? Sebulan kau dak balik.”

Aku meluk Emak kencang-kencang. Dunia ini memang berat. Hidup ini memang sering kali tidak adil. Tapi setidaknya, di dunia ini, ada orang yang menungguku pulang.

Sekarang, aku nggak pernah berani masuk ke Hutan Namang itu lagi. Tapi, sesekali kalau sore hari angin membawa wangi aneh itu, aku kadang masih dengar bisikan itu.

“Fi…”

Aku cuma tersenyum kecil.

Karena aku tahu … 

Di balik hutan itu, masih ada dunia lain yang berjalan berdampingan dengan dunia kita.

Dan aku… pernah hilang di dalamnya.

***


Terimakasih sudah memberikan masukan dan saran
EmoticonEmoticon

This Newest Prev Post
 

Start typing and press Enter to search

Catatan: