Aku
selalu menganggap cerita tentang Orang Bunian hanya dongeng lama, cerita
pengantar tidur dari mulut ke mulut yang sengaja dibesar-besarkan agar
anak-anak kampung tidak sembarangan masuk hutan.
Tapi,
semua logika itu hancur berantakan pas aku benar-benar menembus batas dunia
yang tak kasat mata.
Namaku
Rafi. Hidupku lagi berantakan, kacau parah. Kuliah di Pangkalpinang kandas di
tengah jalan. Pernah mencoba melamar kerja di perusahaan dan diterima. Namun,
pekerjaanku tak bertahan lama. Aku terkena PHK dengan alasan perusahaan sedang
efisiensi anggaran. Uang tabungan habis, otak macet, dan akhirnya aku pulang
sebagai seorang bujang yang gagal. Pulang ke rumah bukan berarti disambut
hangat. Setiap langkahku di desa ini rasanya kayak sedang dihakimi. Di warung
kopi, orang-orang melirik dengan tatapan kasihan yang lebih menyakitkan
daripada makian. Adikku sudah mapan, Ia ASN di salah satu sekolah di Bangka
Selatan, sudah punya motor sendiri. Sementara aku? Cuma jadi beban pikiran Emak
yang tiap hari menghela napas panjang tiap melihatku di ruang tamu. Setiap
tatapan mereka rasanya seperti pertanyaan yang tak diucapkan: “Kapan kau cari
kerja, Fi?”
Kepalaku
penuh. Dada sesak. Rasanya aku ingin lari sejauh mungkin dari ekspektasi
orang-orang.
Sore
itu, mungkin karena sudah terlalu muak, kakiku melangkah sendiri ke Hutan
Namang. Hutan yang sudah ribuan kali kulewati, tapi kali ini terasa berbeda.
Tanahnya
lembap, sisa hujan semalam. Bau tanah basah bercampur aroma yang aneh, bukan
wangi bunga biasa, tapi wangi yang bikin pusing, manis yang menusuk. Hutan ini
sunyi sekali. Nggak ada suara burung, nggak ada bunyi jangkrik yang biasanya
ramai. Cuma ada suara napasku sendiri yang memburu, dan bunyi ranting kering
yang patah di bawah sepatuku.
“Fi…”
Langkahku
terhenti. Aku menoleh. Kosong. Cuma semak-semak yang bergoyang pelan tertiup
angin yang entah datang dari mana.
“Fi…
Mari ke sini!”
Suara
itu datang lagi. Perempuan. Lembut, tapi bukan jenis suara yang minta dipatuhi.
Suara yang bikin otot-ototku rileks seketika. Aku, yang tadinya gelisah
setengah mati, tiba-tiba merasa tenang. Seperti ada tangan yang membelai
saraf-saraf kepalaku yang tegang. Aku berjalan, mengikuti suara itu tanpa
sadar. Rasanya seperti ada magnet yang menarik dadaku.
Lalu,
di depan mataku, hutan itu terbuka.
Ada
kampung. Bukan kampung yang biasa kulihat di daerah Bangka. Rumah-rumahnya kayu
tua, tertata rapi, seperti desa yang tersembunyi dari zaman. Orang-orang di sana,
mereka beda. Gerak-gerik mereka terlalu tenang, seolah waktu bagi mereka nggak
pernah berjalan cepat. Mereka tidak menatapku. Mereka tidak menghakimiku.
Seorang
perempuan berdiri di depan sana. Rambutnya panjang, wajahnya teduh, dan
tatapannya dalam, kayak dia bisa baca isi kepalaku yang lagi semrawut.
“Kamek
nunggu kau, Fi.”
Aku
menelan ludah. Suaraku tercekat. “Siape… kau ni?”
Dia
tersenyum tipis. “Orang yang dak terlihat oleh duniamu.”
Di
situlah aku sadar. Aku sudah nggak di dunia yang sama lagi.
Hari-hari
berikutnya terasa sangat ganjil. Mungkin hitungannya bukan hari, aku nggak
tahu. Di sini, aku nggak lapar. Aku nggak capek. Rasa gagal, rasa malu, rasa
minder, semuanya menguap begitu saja. Aku sering duduk di bawah pohon besar
yang daunnya berwarna perak, memperhatikan orang-orang itu melakukan aktivitas
mereka. Tidak ada yang terburu-buru. Tidak ada yang sibuk mengejar setoran atau
memikirkan masa depan.
Namanya
Naila. Dia yang sering nemenin aku. Dia tidak pernah bertanya kenapa aku
datang, atau apa masalahku.
“Di
duniamu, kau itu terlalu banyak mikir,” kata Naila suatu malam. Kami duduk di
dekat sungai yang airnya bening seperti kristal.
Aku
ketawa getir, suara ketawaku terdengar aneh di keheningan itu. “Ya gimana nggak
mikir, hidupku amburadul. Zaman sekarang cari kerja susah? Mau jadi apa, aku
ini?”
“Di
sini, pikiran itu beban yang bisa ditinggal,” jawabnya tenang. Dia memetik
sehelai daun dan meletakkannya di air. Daun itu tidak hanyut, tapi malah
melayang. “Manusia di duniamu terlalu sibuk dengan apa yang belum terjadi,
sampai lupa kalau mereka sedang hidup di detik ini.”
Aku
terdiam. Kalimatnya menghantamku telak. Aku mulai terbuai. Memang senikmat itu
hidup tanpa tuntutan. Nggak ada yang nanya kapan aku kerja, nggak ada yang
bandingin aku sama adikku. Aku mulai lupa kenapa aku dulu merasa seburuk itu.
Aku mulai lupa wajah Emak.
“Banyak
orang kayak kau ke sini,” ucap Naila tiba-tiba, memecah lamunanku.
“Manusia?”
Dia
mengangguk. “Yang lelah sama hidupnya. Yang pengen lari.”
“Lalu?
Mereka balik?” tanyaku penasaran.
Naila
menatapku lama, pandangannya bikin aku merinding. “Sebagian memilih tinggal. Di
sini, kau tidak perlu jadi apa-apa. Kau cukup ada.”
***
Malam
itu, aku bermimpi. Aku lihat Emak di dapur, sedang masak. Wajahnya lebih
keriput, matanya sembab. Dia sedang memegang piring nasiku yang tak pernah
kusentuh.
“Rafi…
Pulanglah…”
Suara
Emak kedengaran jauh banget, kayak lagi manggil dari balik sumur. Itu suara
yang paling aku kenal, suara yang selama ini aku hindari karena membawa beban
rasa bersalah.
Aku
terbangun dengan keringat dingin. Naila sudah di sampingku.
“Waktumu
hampir habis,” katanya dingin.
“Berapa
lama aku di sini, Nai?”
“Bagi
kau… Mungkin baru beberapa hari.”
Jantungku
rasanya mau copot. “Dan di kampung?”
“Sebulan
lebih.”
Aku
diam. Sebulan. Emak pasti sudah kelimpungan. Dunia terasa runtuh lagi. Aku
sadar, senyaman apa pun di sini, ini bukan tempatku. Naila benar, di sini aku
memang tidak perlu jadi apa-apa. Tapi kalau aku tidak jadi apa-apa, aku pun
tidak akan pernah bisa jadi seseorang bagi orang lain.
“Aku
harus pulang.”
Naila
menatapku, tatapannya tidak kaget, tapi ada kecewa tipis di sana. “Kau masih
ingin jadi manusia yang menderita itu?”
Aku
terdiam lama. Membayangkan hidupku yang penuh masalah itu lagi. Ya, itu
menyakitkan. Itu melelahkan. Tapi itu nyata. Itu hidupku. “Iya,” kataku tegas.
“Meski berantakan.”
Kami
berjalan sampai ke batas hutan. Bau tanah basah yang menyengat itu balik lagi.
“Kalau
kau keluar, kau dak bisa balik lagi, Fi,” Naila memperingatkan. “Sekali kau
memilih jalan manusia, kau harus menanggung beban manusia.”
“Aku
tahu.”
Saat
aku menyeberang batas, udara dunia nyata langsung terasa beda. Pengap. Kotor.
Tapi… Ini rumahku.
Sampai
di kampung, orang-orang memandangku aneh. Aku terlihat kusut, bajuku kotor,
tapi ada sesuatu di mataku yang beda. Emak langsung lari, memelukku sambil
nangis sejadi-jadinya. Dia tidak bertanya ke mana aku pergi, dia cuma memelukku
seolah aku adalah satu-satunya hal yang dia punya.
“Ka
kemane bae, Fi? Sebulan kau dak balik.”
Aku
meluk Emak kencang-kencang. Dunia ini memang berat. Hidup ini memang sering
kali tidak adil. Tapi setidaknya, di dunia ini, ada orang yang menungguku
pulang.
Sekarang,
aku nggak pernah berani masuk ke Hutan Namang itu lagi. Tapi, sesekali kalau
sore hari angin membawa wangi aneh itu, aku kadang masih dengar bisikan itu.
“Fi…”
Aku
cuma tersenyum kecil.
Karena
aku tahu …
Di
balik hutan itu, masih ada dunia lain yang berjalan berdampingan dengan dunia
kita.
Dan
aku… pernah hilang di dalamnya.
***
Terimakasih sudah memberikan masukan dan saran
EmoticonEmoticon