Oleh: Syahrial, S.T (Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Kelapa Kampit) Selasa, 3 November 2026, 16:46 WIB
| Ilustrasi Satu Kerang Cukup (Sumber: Chatgpt) |
Daftar belanja Pino minggu ini panjang sekali: satu syal bulu
berwarna jingga, tiga kerang berkilau untuk dipajang di depan sarang, ikan asap
kemasan dari toko Pak Tuska, dan seluncuran es baru yang katanya paling licin
se-Tanjung Es Putih.
Pino, penguin kecil yang periang, memang gemar berbelanja. Setiap kali melihat sesuatu berkilau di Pasar Es, ia merasa harus memilikinya. Alat tukar di Tanjung Es Putih adalah keping kerang, hasil menukar ikan tangkapan setiap hari. Dan hampir setiap sore, keping kerang di kantong Pino habis tak bersisa.
***
Suatu pagi, Pak Tuska si walrus tua mengumumkan kabar dengan
suara beratnya.
"Perhatian, semuanya! Es laut tahun ini menebal lebih cepat. Ikan menjauh ke perairan dalam, harganya akan naik. Para sesepuh bilang musim badai kali ini bakal panjang."
Para penguin berbisik cemas. Tapi tak lama kemudian, Kiko, sahabat Pino, datang sambil memamerkan syal bulu barunya yang berkilau.
"Bagus, kan? Aku beli dua!" serunya bangga. "Ayo, Pino, hari ini ada kerang edisi terbatas di toko!"
Pino ingin sekali ikut. Kakinya
bahkan sudah melangkah dua kali ke arah toko. Tapi di dalam kantongnya, hanya
tersisa lima keping kerang, dan ia tiba-tiba sadar ia tidak punya persediaan
ikan sama sekali di sarangnya. Kalau badai panjang benar-benar datang, apa yang
akan ia makan?
***
Sore itu, Pino bertemu Mina, anjing laut yang tinggal di
lubang es sebelah. Mina memandang kantong Pino yang tipis lalu tersenyum.
"Kamu khawatir soal badai, ya?"
Pino mengangguk lesu. "Aku tidak punya simpanan
apa-apa."
"Aku dulu juga begitu," kata Mina. "Lalu aku
mulai mengubah kebiasaan. Dengar, aku tidak menyuruhmu berhenti
bersenang-senang. Aku hanya menyarankan: pilih dulu mana yang penting."
Mina menunjukkan caranya. Daripada membeli ikan asap kemasan,
ia menangkap ikan sendiri di lubang es dan membawanya sebagai bekal. Daripada
naik kereta luncur anjing yang berbayar, ia meluncur dengan perutnya sendiri ke
pasar. Setiap hari, ia menyisihkan beberapa keping kerang ke Gudang Es, lubang
kecil di balik batu yang ia isi dengan ikan beku dan tabungan.
"Aku tetap membeli satu kerang cantik sebulan
sekali," tambah Mina sambil tertawa. "Hidup tetap perlu hiburan. Tapi
kebutuhan dulu, keinginan belakangan."
***
Pino mencoba mengikuti saran itu. Pagi-pagi, ia belajar
menangkap ikan sendiri di lubang es, yang awalnya selalu gagal dan membuatnya
basah kuyup. Tiga hari pertama, ia pulang hanya dengan satu ikan kecil dan
badan menggigil. Tapi pada hari keempat, ia mulai paham cara menunggu dengan
sabar di tepi lubang, dan hasilnya pun bertambah.
Ia meluncur ke pasar dengan perut, bukan naik kereta luncur.
Ia mengurangi kebiasaan membeli kerang pajangan, dan hanya menyalakan lampu
minyak ikan pada malam yang benar-benar gelap. Ia menyisihkan separuh kepingnya
setiap hari, dan menaruhnya di Gudang Es kecil miliknya sendiri.
Tentu saja, tidak mudah. Setiap kali melewati toko Pak Tuska,
matanya melirik seluncuran es baru yang berkilau itu. Setiap kali Kiko
memamerkan barang barunya, ada rasa iri yang menusuk.
"Kamu sekarang jadi pelit, Pino," ejek Kiko suatu
hari.
Pino menunduk, ragu. Ia bertanya pada Mina malam itu.
"Menghemat bukan berarti
pelit," jawab Mina. "Pelit itu tidak mau berbagi. Menghemat itu
memilih dengan sadar."
Pino merenung lama, lalu mengangguk. Besok pagi, ia akan
melanjutkan lagi.
***
Badai akhirnya datang. Angin menderu berminggu-minggu, laut
membeku, dan tak seekor ikan pun terlihat di lubang es. Harga ikan di toko Pak
Tuska melambung tinggi, sampai banyak penguin tak sanggup membelinya.
Kiko adalah salah satunya. Syal bulu barunya tak cukup
menghangatkan badannya, kerang berkilaunya tak bisa dimakan, dan kantongnya
kosong melompong. Ia sempat mencoba menukar kerang-kerang pajangannya dengan
ikan, tapi tak seorang pun mau menerimanya, sebab semua penguin sedang sibuk
mencari makan.
Suatu malam yang membeku, Kiko mengetuk pintu sarang Pino
dengan gigi bergemeletuk.
"Pino... aku lapar. Aku tidak punya apa-apa."
Pino tidak tertawa dan tidak mengejek. Ia membuka Gudang Es
kecilnya dan mengeluarkan beberapa ikan beku, lalu membaginya dengan Kiko.
Mereka makan bersama di dalam sarang yang hangat, sementara badai mengamuk di
luar.
"Maaf aku dulu mengejekmu," kata Kiko pelan.
"Kamu ternyata menyiapkan semuanya sejak awal."
"Aku juga hampir tidak kuat," jawab Pino jujur.
"Tapi sekarang aku sadar, yang kuturunkan bukan kebahagiaanku. Cuma
keinginan yang tidak terlalu penting."
***
Ketika badai reda, Kiko minta diajari menangkap ikan di
lubang es dan menyisihkan keping kerang setiap hari. Pino dan Mina dengan
senang hati mengajarinya.
Sebulan kemudian, Pino akhirnya membeli satu kerang kecil
yang berkilau, untuk dipajang di depan sarangnya. Rasanya jauh lebih
membahagiakan dibanding saat ia membeli tiga sekaligus dulu.
"Bukan hidup yang kita turunkan," kata Pino kepada
Kiko sambil memandang kerang itu. "Yang kita takar adalah keinginan,
supaya saat badai datang, kita masih punya yang cukup."
TAMAT
Terimakasih sudah memberikan masukan dan saran
EmoticonEmoticon