-->

Tulisan Sebatang Kapur di Papan Tulis Kehidupan

- 05.10
advertise here

Oleh: Rusmin Sopian (Penggiat Literasi Kab. Bangka Selatan) Minggu, 18 Oktober 2026, 05:10 WIB

Ilustrasi Sebatang Kapur di Papan Tulis Kehidupan (Sumber: MetaAi)

Keindahan cahaya rembulan mulai menipis. Orang-orang mulai meninggalkan Masjid. Derap langkah kaki mereka seirama menuju ruang kebahagiaan bersama keluarga.

Kesibukan mulai terlihat. Seiring matahari yang mulai memanjat langit. Lalu lalang kendaraan mulai meramaikan alam. Suara knalpot kendaraan saling bersahutan. 

Umar Bakri sudah mulai bersiap. Tas berisikan peralatan mengajar sudah tersangkut di motor. 

Kendaraan roda dua yang dibelinya saat masih bujangan. Dan terus menemaninya hingga kini.

"Belum ada niat untuk mengganti motor tahun terbaru," pertanyaan itu selalu didengar kupingnya.

Dan tawa, senyum dan jawaban lucu diberikannya kepada para penanya yang terkadang ikut tertawa saat dirinya memberikan jawaban.

Motor tua Umar Bakri terus melaju. Melewati jalanan Kampung yang membuat motornya kadang terbatuk-batuk. 

Maklumlah jalanan di Kampung belum sebagus jalanan di Kota. Walaupun tiap tahun dana Kampung terdengar selalu bertambah dan bertambah. Walaupun setiap musim pemilihan tiba, narasi jalan akan mulus selalu menggema di telinga warga.

Perjalanan enam puluh menit menuju rumah pengetahuan, terasa ringan bagi dirinya. Setidaknya sudah puluhan tahun, perjalanan itu dilahapnya. 

Umar Bakri sudah hapal betul lekuk anatomi jalan menuju tempatnya memberi pengetahuan sehingga dengan mudah perjalanan itu dapat ditaklukkannya.

Biasanya, usai memarkir kendaraan roda dua di tempat parkir sekolahan yang kayu penyangganya mulai rapuh di makan usia, Umar Bakri langsung menuju pintu gerbang sekolah. 

Menunggu para pengejar pengetahuan datang dengan sejuta keceriaan. Dan para pewaris masa depan negeri itu biasanya akan mengucapkan frasa Selamat pagi Pak kepada dirinya.

Dan Umar Bakri pun sebagaimana biasanya menanyakan kepada muridnya berbagai macam pertanyaan sebelum pengejar mimpi itu masuk ke dalam klas masing-masing.

"Apakah kamu sudah sarapan?,"

"Apakah kamu sudah mengerjakan PR?,"

"Apakah ibu dan ayahmu sehat?,"

Dimata para muridnya, Umar Bakri adalah guru tempat mereka bercerita. Ruang hidup bagi pelajarnya berkeluh-kesah. Menyampaikan uneg-uneg. 

"Ayah saya sering pulang malam Pak Guru," cerita seorang murid.

"Ayahku banyak di rumah, Pak," keluh seorang pelajar.

"Bapakku bangunnya siang, Pak," kisah seorang murid yang lain. Dan tentunya sederet kisah yang lainnya yang berjejer panjang menghampiri telinganya.

Biasanya usai mendengar kisah dan cerita dari para muridnya, Umar Bakri datang berkunjung ke rumah orang tua para  muridnya.  Bersilaturahmi. Saling bertukar pikiran. Terkadang pulangnya dioleh-olehi para wali murid berbagai macam produk pertanian. Mulai dari singkong, hingga kelapa.

Tak heran bila, Umar Bakri selalu pulang telat ke rumah.

Beberapa tenaga pendidik di sekolahnya pun terkadang bertanya soal pulangnya yang selalu telat.

"Cari pekerjaan saja kawan kita itu," ujar seorang temannya.

"Demikianlah," sahut yang lainnya.

"Harusnya kita bisa belajar dari Pak Umar Bakri tentang pengabdian," bela temannya yang lain.

Pertanyaan dari sang istri pun tak terbendung saat dirinya tiba di rumah.

"Kok lama pulangnya, Pak?," tanya sang istri.

"Ada tugas tambahan di sekolah,ya?," pertanyaan susulan dari sang istri terus menghujani telinganya.

Umar Bakri hanya menarik nafas panjang. Sepanjang pengabdiannya sebagai pendidik. Sebuah profesi yang amat dicita-citakannya saat masih kecil.

"Jadi guru?," tanya seorang temannya saat dirinya mengabarkan bahwa dirinya ingin melanjutkan pendidikan di Universitas Pendidikan.

"Padahal kamu di terima di fakultas ekonomi," ujar temannya.

"Setiap orang punya cita-cita. Dan setiap impian itu adalah pilihan terbaik bagi masing-masing individu," bela seorang temannya yang lain.

Lulus sekolah tinggi pendidikan guru, Umar Bakri di tempatkan di kawasan ini. Sebuah kawasan yang jauh dari Kota. 

Penempatan dirinya jauh dari kawasan Kota, tak menyurutkan semangatnya untuk mengabdi sebagai pendidik. Sebagai pemberi pengetahuan kepada para anak-anak pewaris masa depan negeri.

Padahal kalau dia mau, penempatan dirinya bisa saja di kawasan Kota dekat tempat dirinya tinggal. Ada keluarganya yang menjadi pejabat tinggi di Kabupaten.

"Kamu ini bagaimana. Kok tidak protes soal penempatan mu?," tanya seorang temannya.

"Di kota atau di sini sama saja. Profesi saya sebagai guru. Lagi pula kalau semua guru mengabdi di Kota, siapa yang memberi pendidikan untuk anak-anak di Kampung? Mereka yang tinggal di pelosok berhak pula mendapat pendidikan. Itu hak azasi. Di atur dalam konstitusi negara," jelas Umar Bakri.

"Beda kalau ditempat di Kota, saya tiba-tiba diangkat sebagai pejabat," guyonnya.

Temannya cuma mengusap dada mendengar jawaban Umar Bakri. Sementara temannya yang lain terbahak-bahak mendengar sahutan dari Umar Bakri.

Melalui sebatang Kapur yang dituliskannya di papan tulis, telah menjadi sebuah saksi perjalanan hidupnya sebagai pendidik. 

Banyak orang yang membaca tulisan yang ditulisnya di papan tulis lewat sebatang kapur telah menjadi manusia seutuhnya. 

Sejuta kebahagian mengalir dalam nuraninya saat bertemu dengan orang yang pernah di didiknya.

"Saya telah seorang menjadi dokter, Pak," cerita seorang anak didiknya.

"Cita-cita saya sebagai akuntan tercapai, Pak," ungkap anak didiknya yang lain.

"Alhamdulillah Pak. Saya bekerja sebagai pengacara," Seorang anak didiknya menjelaskannya pekerjaannya kepada dirinya.

Dan itu yang membahagiakannya. Membanggakannya sebagai seorang guru. Sebagai seorang pendidik. Keberhasilan para anak didiknya menjadi manusia seutuhnya.

Dikejauhan terdengar koor suara para murid bersenandung. Menggetarkan sanubarinya. 

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru

Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku

Semua baktimu akan ku ukir di dalam hatiku

S'bagai prasasti t'rima kasihku 'tuk pengabdianmu

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan

Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan

Engkau patriot pahlawan bangsa

Pembangun insan cendekia

Toboali, 2026

Rusmin Sopian adalah penulis dan penggiat literasi Bangka Selatan.  Saat ini kakek dua orang cucu yang bernama Nayyara Aghnia Yuna dan Muhammad Arkhana Nafiandy tinggal di Toboali. Cerpennya termuat di berbagai media lokal dan nasional. Cerpen ini didedikasikan untuk  para  guru yang berkehidupan di Miangas hingga Pulau Rote.

Terimakasih sudah memberikan masukan dan saran
EmoticonEmoticon

This Newest Prev Post
 

Start typing and press Enter to search

Catatan: