Oleh: Ummi Sulis (Guru SD Negeri 3 Pulau Besar) Sabtu, 17 Oktober 2026, 15:20 WIB
Jumat sore, selepas mendengar berita ada kebakaran areal hutan di dekat pemukiman warga Desa Batubetumpang Kecamatan Pulau Besar, Abang Adek semakin jarang bermain korek api. Biasanya mereka sangat senang membakar sampah.
"Abi, liburan Sabtu besok kita ke mana?" tanya Adek di sela kegiatan melihat-lihat buku LKS PJOK.
"Tumben, Dek, buka buku sore-sore di akhir jam santai." Abi balas bertanya.
"Abi, orang nanya malah balik nanya juga." Adek mencebik.
"Lupa,ya?" sambung Abang.
"Apanya yang lupa?" tanya Adek.
"Eih, jadi orang kok, gampang melupakan?" lanjut Abang.
"Apa, sih, kalau ngomong yang jelas, dong!" keluh Adek.
"Barusan tadi kan buka-buka buku PJOK?" tunjuk Abang pada buku yang masih dipegang Adek.
"Iya, emang ada apa?" tanya Adek bingung.
"Hadeeeh, usia boleh muda, kelakuan sudah tua. Gitu aja lupa, sih?" tanya Abang. Anak itu kemudian mengambil buku LKS PJOK di tangan Adek.
"Eh, sini, Bang, belum selesai aku bacanya." Adek merebut kembali.
"Sekarang sudah ingat belum mau baca apa?" tanya Abang.
"Eh, iya. Mau nyari beda lompat dan loncat." Adek cengengesan baru ingat.
"Ketemu gak?" tanya Abang lagi.
"Belum sampai situ bacanya," kilah Adek.
"Itu loh, ada di Bab atletik kalau di buku PJOK yang lama. Kalau di buku yang baru ada di gerak lokomotor." Abi ikutan bicara menengahi.
"Jelasin, Bi!" pinta Adek.
"Coba Abi tanya, lompat katak atau loncat katak?" tanya Abi.
"Lompat katak, Bi." Adek jumawa. Dia menepuk dadanya.
"Kok, tahu?" tanya Abi.
"Kan ada lagunya, Bi. Katak hai katak lompat, lompat ke dalam paya. Jangan terlalu cepat, nanti dapat bahaya." Adek nyanyi.
"Hmmm, kalau Abang?" tanya Abi.
"Bingung, Bi, kadang lompat kadang loncat." Abang garuk-garuk kepala yang tak gatal.
"Nah, tanya Ummi, coba," ujar Abi menunjuk Ummi yang lewat di depan mereka ngobrol. Sepertinya mau ke halaman.
"Loh, belum selesai, toh, diskusinya ...?" tanya Ummi.
"Belom," potong Adek cepat-cepat.
"Kalau katak meloncat, bukan melompat. Sebab katak menggunakan kedua kaki yang ada di belakangnya untuk bertumpu. Gak ada katak bertumpu kaki satu baru lompat?" jelas Ummi.
"Nah, kalau atletik itu lompat jauh, lompat galah, lompat tinggi, karena atletnya bertumpu kaki satu untuk melakukan lompat tinggi. Kalau kaki dua bertumpu, itu untuk loncat. Gimana kalau atletik loncat-loncat, kayak pocong dong, hahaha." Ummi tertawa membayangkan.
Lebih parah lagi, Abang langsung mempraktekkan loncat tinggi, tapi mistarnya setinggi lutut anak kecil. Itu pun langsung ganti gaya jadi lompat. Abang tertawa ditingkahi Adek yang ikut seperti loncat pocong.
Nah, ternyata kita selama ini sering salah konsep penggunaan kata loncat dan lompat. Apalagi bahasa Indonesia itu salah sedikit saja sudah beda arti.
Hari Sabtu mereka ke lapangan untuk mempraktekkan loncat dan lompat. Sebentar saja kemudian pulang. Kabar kebakaran di Desa Batubetumpang ternyata masih terjadi. Semoga tidak merambat ke permukiman warga. Doa terbaik untuk Pulau Besar.
Baru saja kegiatan KKG di SDN 1 Pulau Besar Jumat pagi hingga siang. Sore sudah terdengar kabar meresahkan. Ternyata kebakaran berlanjut hingga Sabtu ini. Mungkin karena lahan gambut. Abi, Ummi, Abang, juga Adek, pulang kembali ke rumah mengendarai sepeda. Adek terus berdoa karena masih teringat kejadian Dusun Serdang kemarin.
Terimakasih sudah memberikan masukan dan saran
EmoticonEmoticon