Angin
gurun pandai menyimpan rahasia. Ia menimbun jejak, menutup lubang, dan mengubur
apa saja di bawah pasir tanpa suara. Sisi si kadal gurun sudah belajar dari
angin sejak kecil. Sayangnya, ia belajar hal yang keliru: bahwa diam itu aman.
***
Sisi
tinggal di Oasis Sumur Tujuh, tempat para pengembara gurun singgah untuk minum.
Setiap pagi ia berjemur di batu datar sambil memperhatikan siapa yang lewat.
Karena tubuhnya kecil dan rendah, ia sering melihat hal-hal yang luput dari
hewan lain: retakan halus di batu, jalur semut, dan pasir yang tampak bergeser
pelan.
Suatu
pagi, Sisi melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdebar. Di jalan pintas
menuju oasis, tempat rombongan unta biasa lewat, pasirnya melesak sedikit demi
sedikit. Di bawahnya ada lubang pasir hisap yang makin lebar. Dari kejauhan,
permukaannya tampak rata dan kokoh.
"Harus
ada yang memberi tahu," gumam Sisi.
Tapi siapa? Jalan pintas itu adalah kebanggaan Pak Gembala, pemimpin rombongan unta yang terkenal keras kepala. Dialah yang menemukan jalan itu dan menyombongkannya ke mana-mana. "Jalan ini lebih cepat setengah hari!" katanya setiap kali ada yang bertanya.
Sisi
membayangkan dimarahi. Dibilang sok tahu. Ditertawakan karena badannya kecil.
"Lagi pula," bisiknya, "aku tidak berbohong. Aku cuma tidak
mengatakan apa-apa. Itu bukan kesalahan, kan?"
Ia
pun menutup mulutnya rapat-rapat.
***
Keesokan
paginya, Nara si anak unta datang menghampiri batu tempat Sisi berjemur. Nara
adalah satu-satunya yang selalu menyapa Sisi, padahal tubuh mereka jauh berbeda
ukuran.
"Sisi,
lihat! Hari ini aku boleh berjalan di barisan depan!" serunya riang.
"Kata Pak Gembala, kita lewat jalan pintas lagi!"
Sisi
terdiam. Tenggorokannya terasa kering, seperti ada pasir yang tersangkut di
sana. Ia ingin berteriak, jangan lewat sana! Tapi kata-kata itu tertahan.
"Hati-hati
ya," hanya itu yang keluar dari mulutnya.
"Pasti!"
jawab Nara sambil melompat-lompat pergi.
Sisi
menyaksikan rombongan unta berbaris menuju jalan pintas. Satu langkah. Dua
langkah. Tiga langkah. Lalu terdengar suara pasir longsor dan jeritan yang
membelah udara.
Kaki
Nara terperosok. Dalam sekejap, tubuh kecilnya tenggelam sampai ke perut, dan
pasir di sekelilingnya terus merayap menariknya ke bawah.
***
Sisi
membeku di atas batu. Dadanya sesak oleh satu pikiran yang tak mau pergi: aku
tahu. Aku sudah tahu sejak kemarin.
Rombongan
unta panik. Mereka berlari ke sana kemari, saling menabrak, dan justru membuat
pasir makin goyah. "Jangan mendekat terlalu rapat!" teriak Pak
Gembala, tapi tak seorang pun tahu di mana pijakan yang aman.
Kecuali
Sisi.
Entah dari mana datangnya keberanian itu, Sisi melompat turun
dari batu dan berlari ke tengah kekacauan. "Jangan injak sebelah kanan,
pasirnya kosong di bawahnya!" serunya sekeras mungkin, suaranya gemetar.
"Ikuti aku! Lewat garis batu-batu kecil ini, tanahnya padat!"
Tak ada yang
meremehkannya kali ini. Para unta mengikuti jalur yang ditunjukkan Sisi satu
per satu. Bibi Jerboa, tikus gurun yang gesit, ikut membantu mengikatkan tali
dari kulit kayu ke tubuh Nara. Pelan-pelan, dengan tarikan bersama, Nara
akhirnya terangkat keluar dari lubang pasir, gemetar tapi selamat.
***
Sore itu, di
tepi sumur, Bibi Jerboa duduk di samping Sisi yang masih tertunduk.
"Kamu
tahu soal lubang itu sejak kapan?" tanyanya lembut, tanpa nada menghakimi.
Sisi menelan
ludah. Ia ingin berbohong, tapi kali ini ia memilih jujur. "Sejak kemarin
pagi. Aku diam karena takut dimarahi."
Bibi Jerboa
mengangguk pelan. "Kamu mengira diam itu bukan kebohongan," katanya.
"Tapi coba lihat pasir di jalan pintas tadi. Permukaannya rata, tampak
aman. Padahal di bawahnya ada lubang. Diam padahal kamu tahu kebenarannya itu
sama: kelihatannya tidak ada apa-apa, padahal ada bahaya yang
disembunyikan."
Sisi tertunduk
makin dalam. Lalu ia berjalan menghampiri Nara dan Pak Gembala yang sedang
beristirahat.
"Aku
minta maaf," katanya dengan suara kecil. "Aku sudah melihat lubang
itu kemarin. Seharusnya aku bilang dari awal."
Pak Gembala
terdiam lama. Keras kepalanya luruh, berganti rasa malu. "Aku terlalu
bangga dengan jalan itu sampai tidak mau memeriksa ulang," akunya
akhirnya. "Kamu salah karena diam, tapi aku salah karena tidak mau
mendengar."
Nara tersenyum
lemah. "Yang penting sekarang kamu sudah bicara, Sisi."
***
Sejak hari
itu, Sisi menyusun batu-batu kecil di sepanjang tepi lubang pasir sebagai tanda
bahaya. Setiap kali ada rombongan baru lewat, ia sendiri yang menghampiri dan
memberi tahu, meski badannya kecil dan suaranya sering bergetar.
"Apa yang
kita tahu benar," katanya kepada anak-anak kadal yang berjemur di sebelahnya,
"harus kita katakan. Karena diam, padahal kita tahu, sama saja dengan
menutup lubang dengan pasir."
Terimakasih sudah memberikan masukan dan saran
EmoticonEmoticon