-->
UPDATE
Memuat UPDATE...

Sisi dan Rahasia di Bawah Pasir

- 05.32
advertise here
Oleh: Syahrial, S.T (Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Kelapa Kampit) Senin, 26 Oktober 2026,  05:32 WIB



Ilustrasi Rahasia Bawah Pasir (Sumber: ChatGpt)



Angin gurun pandai menyimpan rahasia. Ia menimbun jejak, menutup lubang, dan mengubur apa saja di bawah pasir tanpa suara. Sisi si kadal gurun sudah belajar dari angin sejak kecil. Sayangnya, ia belajar hal yang keliru: bahwa diam itu aman. 

***

Sisi tinggal di Oasis Sumur Tujuh, tempat para pengembara gurun singgah untuk minum. Setiap pagi ia berjemur di batu datar sambil memperhatikan siapa yang lewat. Karena tubuhnya kecil dan rendah, ia sering melihat hal-hal yang luput dari hewan lain: retakan halus di batu, jalur semut, dan pasir yang tampak bergeser pelan.

Suatu pagi, Sisi melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdebar. Di jalan pintas menuju oasis, tempat rombongan unta biasa lewat, pasirnya melesak sedikit demi sedikit. Di bawahnya ada lubang pasir hisap yang makin lebar. Dari kejauhan, permukaannya tampak rata dan kokoh.

"Harus ada yang memberi tahu," gumam Sisi.

Tapi siapa? Jalan pintas itu adalah kebanggaan Pak Gembala, pemimpin rombongan unta yang terkenal keras kepala. Dialah yang menemukan jalan itu dan menyombongkannya ke mana-mana. "Jalan ini lebih cepat setengah hari!" katanya setiap kali ada yang bertanya.

Sisi membayangkan dimarahi. Dibilang sok tahu. Ditertawakan karena badannya kecil. "Lagi pula," bisiknya, "aku tidak berbohong. Aku cuma tidak mengatakan apa-apa. Itu bukan kesalahan, kan?"

Ia pun menutup mulutnya rapat-rapat.

***

Keesokan paginya, Nara si anak unta datang menghampiri batu tempat Sisi berjemur. Nara adalah satu-satunya yang selalu menyapa Sisi, padahal tubuh mereka jauh berbeda ukuran.

"Sisi, lihat! Hari ini aku boleh berjalan di barisan depan!" serunya riang. "Kata Pak Gembala, kita lewat jalan pintas lagi!"

Sisi terdiam. Tenggorokannya terasa kering, seperti ada pasir yang tersangkut di sana. Ia ingin berteriak, jangan lewat sana! Tapi kata-kata itu tertahan.

"Hati-hati ya," hanya itu yang keluar dari mulutnya.

"Pasti!" jawab Nara sambil melompat-lompat pergi.

Sisi menyaksikan rombongan unta berbaris menuju jalan pintas. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Lalu terdengar suara pasir longsor dan jeritan yang membelah udara.

Kaki Nara terperosok. Dalam sekejap, tubuh kecilnya tenggelam sampai ke perut, dan pasir di sekelilingnya terus merayap menariknya ke bawah.

***

Sisi membeku di atas batu. Dadanya sesak oleh satu pikiran yang tak mau pergi: aku tahu. Aku sudah tahu sejak kemarin.

Rombongan unta panik. Mereka berlari ke sana kemari, saling menabrak, dan justru membuat pasir makin goyah. "Jangan mendekat terlalu rapat!" teriak Pak Gembala, tapi tak seorang pun tahu di mana pijakan yang aman.

Kecuali Sisi.

Entah dari mana datangnya keberanian itu, Sisi melompat turun dari batu dan berlari ke tengah kekacauan. "Jangan injak sebelah kanan, pasirnya kosong di bawahnya!" serunya sekeras mungkin, suaranya gemetar. "Ikuti aku! Lewat garis batu-batu kecil ini, tanahnya padat!"

Tak ada yang meremehkannya kali ini. Para unta mengikuti jalur yang ditunjukkan Sisi satu per satu. Bibi Jerboa, tikus gurun yang gesit, ikut membantu mengikatkan tali dari kulit kayu ke tubuh Nara. Pelan-pelan, dengan tarikan bersama, Nara akhirnya terangkat keluar dari lubang pasir, gemetar tapi selamat.

***

Sore itu, di tepi sumur, Bibi Jerboa duduk di samping Sisi yang masih tertunduk.

"Kamu tahu soal lubang itu sejak kapan?" tanyanya lembut, tanpa nada menghakimi.

Sisi menelan ludah. Ia ingin berbohong, tapi kali ini ia memilih jujur. "Sejak kemarin pagi. Aku diam karena takut dimarahi."

Bibi Jerboa mengangguk pelan. "Kamu mengira diam itu bukan kebohongan," katanya. "Tapi coba lihat pasir di jalan pintas tadi. Permukaannya rata, tampak aman. Padahal di bawahnya ada lubang. Diam padahal kamu tahu kebenarannya itu sama: kelihatannya tidak ada apa-apa, padahal ada bahaya yang disembunyikan."

Sisi tertunduk makin dalam. Lalu ia berjalan menghampiri Nara dan Pak Gembala yang sedang beristirahat.

"Aku minta maaf," katanya dengan suara kecil. "Aku sudah melihat lubang itu kemarin. Seharusnya aku bilang dari awal."

Pak Gembala terdiam lama. Keras kepalanya luruh, berganti rasa malu. "Aku terlalu bangga dengan jalan itu sampai tidak mau memeriksa ulang," akunya akhirnya. "Kamu salah karena diam, tapi aku salah karena tidak mau mendengar."

Nara tersenyum lemah. "Yang penting sekarang kamu sudah bicara, Sisi."

***

Sejak hari itu, Sisi menyusun batu-batu kecil di sepanjang tepi lubang pasir sebagai tanda bahaya. Setiap kali ada rombongan baru lewat, ia sendiri yang menghampiri dan memberi tahu, meski badannya kecil dan suaranya sering bergetar.

"Apa yang kita tahu benar," katanya kepada anak-anak kadal yang berjemur di sebelahnya, "harus kita katakan. Karena diam, padahal kita tahu, sama saja dengan menutup lubang dengan pasir."

 TAMAT

Terimakasih sudah memberikan masukan dan saran
EmoticonEmoticon

This Newest Prev Post
 

Start typing and press Enter to search

Catatan: