“RIDHOOO… Anakku…! RIDHOOO…. Anakku..! RIDHOOO…!”
Suara yang terpendam dalam duka itu baru meledak saat
jenazah akan diberangkatkan ke pemakanan. Aku meronta dan akhirnya jatuh
pingsan.
Sehari sebelumnya,
“Ma, Ridho berangkat, ya!” ia melambaikan tangan dan
tersenyum. Itu adalah senyuman termanis yang pernah aku nikmati.
“Hati-hati di jalan ya, Nak! Selamat
bersenang-senang!” aku membalas lambaiannya.
Aku mengantarnya sampai ke dermaga desa kami pagi-pagi
sekali. Anakku hari ini pamit untuk pergi jalan-jalan ke rumah seniornya dalam
gerakan pramuka. Ini adalah pengalaman pertamanya keluar dari pulau. Ia
terlihat sangat bahagia dan tak henti-hentinya tersenyum.
Rombongan kecil berjumlah 7 anak pramuka seusia penegak
itu mesti menempuh perjalanan darat dan laut lebih dari 250 KM. Butuh setengah
hari mereka baru tiba di rumah Kak Eddy, senior yang mereka banggakan. Selain
bersilahturahmi, mereka akan mengikuti Pawai Ta’aruf di Desa Zed, Mendo Barat,
Kabupaten Bangka dalam rangka perayaan Maulid Nabi.
Selewat waktu Asar, anakku dan teman-temannya baru
tiba di tempat tujuan. Mereka disambut hangat oleh Kak Eddy.
“Ayo dicicip kuenya!” kata Kak Eddy sambil menyodorkan
sepiring kue bolu kuci, penganan enak khas Bangka.
“Wahh, terima kasih, Kak!” anak-anak pun tanpa segan
menyerbu piring itu dan habis dalam hitungan detik.
“Bagaimana perjalanannya tadi?” tanya Kak Eddy.
“Seru, Kak! Apalagi si Ridho baru pertama kali keluar
dari Pongok. Anak Mama sih.. Hahaha...” guyon si Dimas, teman sepermainan Ridho
sejak kecil.
“Oh.. yang mana yang namanya Ridho?” tanya Kak Eddy
lagi.
“Siap! Saya, Kak!” sahut Ridho dengan suara lantang
khas anak pramuka. Dia memang sangat bangga menjadi seorang praja muda karana.
Anakku anak yang tampan. Matanya indah, hidungnya
mancung, rambutnya hitam sedikit ikal, dan postur tubuhnya yang gagah lagi
tegap. Perilakunya sopan, mudah bergaul, namun sedikit malu-malu. Dia terbilang
cukup cerdas dan selalu ranking 1 di sekolah. Dia anak yang dicintai keluarga
dan teman-temannya.
“Istirahat saja sebentar! Nanti malam kita ikut pawai
obor ya! Kita meriahkan perayaan Maulid Nabi,” Kak Eddy memberi arahan.
“Asyikkkk…! Pasti seru banget tuh!” anak-anak itu
sangat antusias.
“Ridho, katanya pintar main gitar, nyanyi dong! Itu
ada gitarnya Kak Eddy!” pinta Safei, sang ketua kelompok.
Ridho pun meraih gitar yang disandarkan di pojok
ruangan. Dipetiknya tipis-tipis untuk mengambil nada sebuah lagu.
“Bagai bintang di surga, dan seluruh warna, dan kasih
yang setia, dan cahaya nyata….”
Lirik lagu Bintang di Surga karya Peterpan mengalun
manis dengan suara merdunya Ridho. Teman-temannya pun ikut bernyanyi bersama.
Siapa kira suasana yang demikian indah, sekejab saja
berubah menjadi sebuah kepiluan. Lagu Bintang di Surga itu seolah menjadi
pertanda bahwa Ridho akan menuju ke Keabadian. Menuju Bintang di Surga.
Saat pulang dari masjid menunaikan ibadah magrib,
Safei berjalan berdampingi dengan Dimas, sedangkan Ridho berjalan sendiri di
depan mereka. Tiba-tiba, punggung kanan Safei terbentur benda keras, dan…
“BRAK…!”
“RIDHO…! Astagfirullah! Cepat panggil Kak Eddy! YA
ALLAH…RIDHOOO…!” jerit Safei.
Sebuah kendaraan roda dua dengan kecepatan tinggi
menabrak Ridho dari belakang setelah sempat menyenggol Safei. Ridho pun
terpental beberapa meter dan mendarat dengan kepala membentur aspal dengan
keras. Kepalanya mengeluarkan banyak darah segar. Dimas berlari kencang
memanggil Kak Eddy yang sedang berada di rumah.
“KAK EDDY…! TOLONG KAK…! Ridho ditabrak, Kak,” suara
Dimas bergetar. Bahkan ujung jari tangan hingga lututnya ikut berguncang seakan
terkena gempa maha dasyat.
Kak Eddy berlari tanpa alas kaki menuju tempat
kejadian. Dilihatnya Ridho berlumuran darah dipeluk Safei yang sudah pucat pasi
dan menangis meraung-raung. Teman-teman berhamburan dan berteriak histeris
melihat tubuh Ridho yang tidak bergerak.
“Astagfirullah, Nak!” teriak Kak Eddy.
Sebuah mobil warga yang melintas berhenti.
“Naikkan saja ke mobilku! Kita bawa ke rumah sakit!” tubuh
Ridho pun dibopong ke dalam mobil bapak yang baik hati itu.
Apa mau dikata, takdir berkehendak lain. Nyawa Ridho,
anakku satu-satunya, tidak terselamatkan.
“PRANGGG….!”
Mangkok yang aku cuci tiba-tiba jatuh dan hancur berkeping-keping.
Hatiku terasa gelisah dan terpikir anakku yang sedang berada jauh.
“Apa yang sedang terjadi sebenarnya?” gumamku dalam
kekalutan yang tak bisa dijelaskan.
Tidak berapa lama, teleponku berdering. Aku menerima
kabar dari Kak Eddy bahwa anakku telah tiada. Seketika duniaku runtuh dan
gulita pandanganku. Sekian detik aku mematung, sulit otakku mencerna kalimat
yang tersampai lewat gendang telingaku. Ketika tersadar bahwa ini adalah sebuah
kenyataan pahit, aku pun tersungkur. Tangisanku pecah, tubuhku meronta,
meluapkan segenap sakit yang menyesakkan relung hatiku. Begitu sakit dirasakan
seorang ibu yang harus kehilangan buah hati yang teramat dicinta. Sejuta
sembilu rasanya menghunjam ulu hatiku secara bersamaan. Tak terperikan!
Begitu banyak kenangan bersama anakku melintas silih
berganti di benakku. Puluhan tahun hidup bersama, mulai dari mengandungnya,
melahirkannya, menyusuinya, dan membesarkannya. Entah sudah berapa ribu kali
menyuapinya makan, memandikannya, mengajarinya melangkah, sampai mampu berlari
sambil memanggilku…...
“Mama…. aku ranking satu!” teriak anakku dari kejauhan
sambil berlari kecil. “Ini rapor Ridho, Ma! Ridho juga dapat bingkisan dan
piagam!” Senyumnya semanis kala di dermaga pagi kemarin.
“Wahhh…anak mama hebat! Ayo, kita makan dulu! Mama
sudah masakkan sayur kesukaanmu!”
“Pasti lempah darat, ya, Ma?” Tebakannya tentu benar
karena aroma masakan tradisional Bangka Belitung itu menyeruak dari arah dapur.
Semerbak memenuhi indera penciuman.
“Iya, dong! Tapi lempah darat kali ini sangat
istimewa!”
“Asyikkk…. Makasih Mama! Tapi Ridho mau disuapin sama
Mama!” godanya padauk tanpa malu-malu.
“Lahh…Ridho kan sudah besar!”
“Biarin….! Anggap aja hadiah ranking satu buat Ridho!”
Aku tak kuasa menolak matanya yang berbinar bagai purnama di atas telaga.
“Iya, deh! Dasar anak manja!” Kucubit pipinya yang
menggemaskan.
“Kan manjanya sama Mama sendiri! Hehehe…!”
Kini tiada lagi suara merdu itu. Tiada lagi yang
menyapaku setiap hari dengan begitu manja. Tiada lagi yang memijatku saat lelah
seharian bekerja. Anak yang demikian kusayang kini terbujur kaku di hadapanku.
Bahkan memanggilku “mama” untuk terakhir kali pun sudah tak mungkin lagi.
Kak Eddy mendekatiku dan memberi salam. Namun, aku
tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Aku hanya diam menahan rasa perih
yang tak terlukiskan oleh sembilu duka yang menghunjam terlalu dalam. Luka itu
mengoyak hati dan jiwaku hingga tercabik-cabik. Tiada duka yang lebih pedih
bagi seorang ibu yang kehilangan putra tercinta.
“RIDHOOO… Anakku…! RIDHOOOO… Anakku..! RIDHOOOO...!”
Suara yang terpendam dalam duka itu baru meledak saat
jenazah akan diberangkatkan ke pemakanan. Aku meronta dan akhirnya jatuh
pingsan.
Empat puluh hari berlalu, Kak Eddy dan teman-teman
anakku mendatangi kembali rumahku.
“Ibu, kami mohon maaf tidak kuasa melindungi Ridho.
Dia meninggal sehabis sholat magrib di hari suci Nabi. Insya Allah, husnul
khotimah!”
“Kak Eddy, terima kasih sudah ikut mendidik anak saya.
Dia begitu bangga menjadi seorang pramuka. Tuhan lebih sayang dengan dia.
Wajahnya masih tersenyum saat jenazahnya tiba di rumah. Aku sudah ikhlaskan.”
Ridho pergi dengan ribuan doa yang mengiringi. Kepedihan yang ditinggalkan masih terasa sampai kini. Ridho, anakku! Kau bagai “Bintang di Surga”! Ibu menyayangimu!
Terimakasih sudah memberikan masukan dan saran
EmoticonEmoticon