-->
.
UPDATE
Memuat berita terbaru...
Memuat slideshow...

Bintang di Surga

- 07.48
advertise here
Oleh: Toni Pratama (Penulis Buku Cinta Di Bawah Tudung Saji Terbitan Gramedia) Minggu, 25 Oktober, 2026 07:48WIB


Ilustrasi Bintang di Surga (Sumber:MetaAi)

“RIDHOOO… Anakku…! RIDHOOO…. Anakku..! RIDHOOO…!”

Suara yang terpendam dalam duka itu baru meledak saat jenazah akan diberangkatkan ke pemakanan. Aku meronta dan akhirnya jatuh pingsan.

Sehari sebelumnya,

“Ma, Ridho berangkat, ya!” ia melambaikan tangan dan tersenyum. Itu adalah senyuman termanis yang pernah aku nikmati.

“Hati-hati di jalan ya, Nak! Selamat bersenang-senang!” aku membalas lambaiannya.

Aku mengantarnya sampai ke dermaga desa kami pagi-pagi sekali. Anakku hari ini pamit untuk pergi jalan-jalan ke rumah seniornya dalam gerakan pramuka. Ini adalah pengalaman pertamanya keluar dari pulau. Ia terlihat sangat bahagia dan tak henti-hentinya tersenyum.

Rombongan kecil berjumlah 7 anak pramuka seusia penegak itu mesti menempuh perjalanan darat dan laut lebih dari 250 KM. Butuh setengah hari mereka baru tiba di rumah Kak Eddy, senior yang mereka banggakan. Selain bersilahturahmi, mereka akan mengikuti Pawai Ta’aruf di Desa Zed, Mendo Barat, Kabupaten Bangka dalam rangka perayaan Maulid Nabi.

Selewat waktu Asar, anakku dan teman-temannya baru tiba di tempat tujuan. Mereka disambut hangat oleh Kak Eddy.

“Ayo dicicip kuenya!” kata Kak Eddy sambil menyodorkan sepiring kue bolu kuci, penganan enak khas Bangka.

“Wahh, terima kasih, Kak!” anak-anak pun tanpa segan menyerbu piring itu dan habis dalam hitungan detik.

“Bagaimana perjalanannya tadi?” tanya Kak Eddy.

“Seru, Kak! Apalagi si Ridho baru pertama kali keluar dari Pongok. Anak Mama sih.. Hahaha...” guyon si Dimas, teman sepermainan Ridho sejak kecil.

“Oh.. yang mana yang namanya Ridho?” tanya Kak Eddy lagi.

“Siap! Saya, Kak!” sahut Ridho dengan suara lantang khas anak pramuka. Dia memang sangat bangga menjadi seorang praja muda karana.

Anakku anak yang tampan. Matanya indah, hidungnya mancung, rambutnya hitam sedikit ikal, dan postur tubuhnya yang gagah lagi tegap. Perilakunya sopan, mudah bergaul, namun sedikit malu-malu. Dia terbilang cukup cerdas dan selalu ranking 1 di sekolah. Dia anak yang dicintai keluarga dan teman-temannya.

“Istirahat saja sebentar! Nanti malam kita ikut pawai obor ya! Kita meriahkan perayaan Maulid Nabi,” Kak Eddy memberi arahan.

“Asyikkkk…! Pasti seru banget tuh!” anak-anak itu sangat antusias.

“Ridho, katanya pintar main gitar, nyanyi dong! Itu ada gitarnya Kak Eddy!” pinta Safei, sang ketua kelompok.

Ridho pun meraih gitar yang disandarkan di pojok ruangan. Dipetiknya tipis-tipis untuk mengambil nada sebuah lagu.

“Bagai bintang di surga, dan seluruh warna, dan kasih yang setia, dan cahaya nyata….”

Lirik lagu Bintang di Surga karya Peterpan mengalun manis dengan suara merdunya Ridho. Teman-temannya pun ikut bernyanyi bersama.

Siapa kira suasana yang demikian indah, sekejab saja berubah menjadi sebuah kepiluan. Lagu Bintang di Surga itu seolah menjadi pertanda bahwa Ridho akan menuju ke Keabadian. Menuju Bintang di Surga.

Saat pulang dari masjid menunaikan ibadah magrib, Safei berjalan berdampingi dengan Dimas, sedangkan Ridho berjalan sendiri di depan mereka. Tiba-tiba, punggung kanan Safei terbentur benda keras, dan…

“BRAK…!”

“RIDHO…! Astagfirullah! Cepat panggil Kak Eddy! YA ALLAH…RIDHOOO…!” jerit Safei.

Sebuah kendaraan roda dua dengan kecepatan tinggi menabrak Ridho dari belakang setelah sempat menyenggol Safei. Ridho pun terpental beberapa meter dan mendarat dengan kepala membentur aspal dengan keras. Kepalanya mengeluarkan banyak darah segar. Dimas berlari kencang memanggil Kak Eddy yang sedang berada di rumah.

“KAK EDDY…! TOLONG KAK…! Ridho ditabrak, Kak,” suara Dimas bergetar. Bahkan ujung jari tangan hingga lututnya ikut berguncang seakan terkena gempa maha dasyat.

Kak Eddy berlari tanpa alas kaki menuju tempat kejadian. Dilihatnya Ridho berlumuran darah dipeluk Safei yang sudah pucat pasi dan menangis meraung-raung. Teman-teman berhamburan dan berteriak histeris melihat tubuh Ridho yang tidak bergerak.

“Astagfirullah, Nak!” teriak Kak Eddy.

Sebuah mobil warga yang melintas berhenti.

“Naikkan saja ke mobilku! Kita bawa ke rumah sakit!” tubuh Ridho pun dibopong ke dalam mobil bapak yang baik hati itu.

Apa mau dikata, takdir berkehendak lain. Nyawa Ridho, anakku satu-satunya, tidak terselamatkan.

“PRANGGG….!”

Mangkok yang aku cuci tiba-tiba jatuh dan hancur berkeping-keping. Hatiku terasa gelisah dan terpikir anakku yang sedang berada jauh.

“Apa yang sedang terjadi sebenarnya?” gumamku dalam kekalutan yang tak bisa dijelaskan.

Tidak berapa lama, teleponku berdering. Aku menerima kabar dari Kak Eddy bahwa anakku telah tiada. Seketika duniaku runtuh dan gulita pandanganku. Sekian detik aku mematung, sulit otakku mencerna kalimat yang tersampai lewat gendang telingaku. Ketika tersadar bahwa ini adalah sebuah kenyataan pahit, aku pun tersungkur. Tangisanku pecah, tubuhku meronta, meluapkan segenap sakit yang menyesakkan relung hatiku. Begitu sakit dirasakan seorang ibu yang harus kehilangan buah hati yang teramat dicinta. Sejuta sembilu rasanya menghunjam ulu hatiku secara bersamaan. Tak terperikan!

Begitu banyak kenangan bersama anakku melintas silih berganti di benakku. Puluhan tahun hidup bersama, mulai dari mengandungnya, melahirkannya, menyusuinya, dan membesarkannya. Entah sudah berapa ribu kali menyuapinya makan, memandikannya, mengajarinya melangkah, sampai mampu berlari sambil memanggilku…...

“Mama…. aku ranking satu!” teriak anakku dari kejauhan sambil berlari kecil. “Ini rapor Ridho, Ma! Ridho juga dapat bingkisan dan piagam!” Senyumnya semanis kala di dermaga pagi kemarin.

“Wahhh…anak mama hebat! Ayo, kita makan dulu! Mama sudah masakkan sayur kesukaanmu!”

“Pasti lempah darat, ya, Ma?” Tebakannya tentu benar karena aroma masakan tradisional Bangka Belitung itu menyeruak dari arah dapur. Semerbak memenuhi indera penciuman.

“Iya, dong! Tapi lempah darat kali ini sangat istimewa!”

“Asyikkk…. Makasih Mama! Tapi Ridho mau disuapin sama Mama!” godanya padauk tanpa malu-malu.

“Lahh…Ridho kan sudah besar!”

“Biarin….! Anggap aja hadiah ranking satu buat Ridho!” Aku tak kuasa menolak matanya yang berbinar bagai purnama di atas telaga.

“Iya, deh! Dasar anak manja!” Kucubit pipinya yang menggemaskan.

“Kan manjanya sama Mama sendiri! Hehehe…!”

Kini tiada lagi suara merdu itu. Tiada lagi yang menyapaku setiap hari dengan begitu manja. Tiada lagi yang memijatku saat lelah seharian bekerja. Anak yang demikian kusayang kini terbujur kaku di hadapanku. Bahkan memanggilku “mama” untuk terakhir kali pun sudah tak mungkin lagi.

Kak Eddy mendekatiku dan memberi salam. Namun, aku tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Aku hanya diam menahan rasa perih yang tak terlukiskan oleh sembilu duka yang menghunjam terlalu dalam. Luka itu mengoyak hati dan jiwaku hingga tercabik-cabik. Tiada duka yang lebih pedih bagi seorang ibu yang kehilangan putra tercinta.

“RIDHOOO… Anakku…! RIDHOOOO… Anakku..! RIDHOOOO...!”

Suara yang terpendam dalam duka itu baru meledak saat jenazah akan diberangkatkan ke pemakanan. Aku meronta dan akhirnya jatuh pingsan.

Empat puluh hari berlalu, Kak Eddy dan teman-teman anakku mendatangi kembali rumahku.

“Ibu, kami mohon maaf tidak kuasa melindungi Ridho. Dia meninggal sehabis sholat magrib di hari suci Nabi. Insya Allah, husnul khotimah!”

“Kak Eddy, terima kasih sudah ikut mendidik anak saya. Dia begitu bangga menjadi seorang pramuka. Tuhan lebih sayang dengan dia. Wajahnya masih tersenyum saat jenazahnya tiba di rumah. Aku sudah ikhlaskan.”

Ridho pergi dengan ribuan doa yang mengiringi. Kepedihan yang ditinggalkan masih terasa sampai kini. Ridho, anakku! Kau bagai “Bintang di Surga”! Ibu menyayangimu!

Terimakasih sudah memberikan masukan dan saran
EmoticonEmoticon

This Newest Prev Post
 

Start typing and press Enter to search

Catatan: