-->

Sekolah yang Menyembuhkan

- 05.36
advertise here
Oleh:Muhamad Ali Sodikin (Penggiat Gerakan Sekolah Menyenangkan/GSM) Kamis 22 Oktober 2026, 05:36 WIB

Ilustrasi Sekolah yang Menyembuhkan (Sumber:MetaAi)


Agak lama saya tidak menuangkan apa yg saya lihat, pikirkan, dan rasakan ke dalam sebuah tulisan. Mungkin karena akhir-akhir ini hidup terasa seperti kalender yang terlalu penuh.

Ada banyak hal yang dikerjakan, tetapi sedikit sekali yg sempat direnungkan. Kita sibuk menyelesaikan pekerjaan, sampai lupa bertanya: sebenarnya apa yg sedang terjadi pada diri kita?

Pagi ini saya mencoba menulis lagi. Setelah merampungkan dua buku dari trilogi Perjalanan Guru Meraki, entah mengapa pagi ini saya justru ingin menulis tentang sesuatu yg tidak tercatat dalam buku agenda sekolah.

Tentang guru.

Lebih tepatnya, tentang beban guru yang sering kali tidak terlihat. Saya pernah berada di beberapa ruang workshop Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), membersamai guru-guru dalam sebuah sesi. Duduk melingkar. 

Tidak ada meja besar yang menjadi pembatas. Tidak ada podium. Tidak ada presentasi yg harus selesai sekian slide.

Hanya manusia. Guru dengan guru dan kemudian, satu per satu cerita keluar. Awalnya biasa saja.

Tentang sekolah. Tentang pekerjaan. Tentang murid. Tentang harapan. Tentang dirinya, tentang hal-hal yg mungkin selama ini dianggap sepele.

Sampai tiba pada satu titik ketika suara seseorang mulai bergetar. Lalu berhenti. Menarik napas. Mencoba melanjutkan cerita. Tetapi air mata lebih dulu jatuh. Ada yang akhirnya menangis. 

Bukan tangisan yang dibuat-buat agar suasana menjadi dramatis. Justru sebaliknya. Tangisan itu terasa seperti sesuatu yg terlalu lama ditahan, lalu menemukan celah kecil untuk keluar.

Saya sering melihat kejadian semacam itu ketika membersamai guru-guru di beberapa sekolah dan semakin sering melihatnya, saya semakin berpikir:

Jangan-jangan selama ini kita terlalu cepat menyimpulkan bahwa seseorang baik-baik saja hanya karena ia masih bisa bekerja.

Guru masih masuk kelas.
Masih mengajar.
Masih tersenyum kepada murid.
Masih mengisi jurnal.
Masih mengikuti rapat.
Masih menjawab pesan WhatsApp.
Masih membuat administrasi.
Masih datang tepat waktu.

Dari luar, semuanya tampak normal. Tetapi manusia bukan laporan kehadiran. Ada sesuatu yg bisa tetap berjalan meskipun bagian dalam dirinya sedang kelelahan.

Saya kira selama ini kita terlalu mudah memahami kata beban sebagai sesuatu yg kelihatan.

Beban pekerjaan.
Beban administrasi.
Beban target.
Beban jam mengajar.
Beban tanggung jawab.

Padahal ada beban yg bentuknya tidak bisa difoto. Tidak masuk dalam daftar pekerjaan. Tidak ada kolomnya di aplikasi. Bahkan kadang tidak memiliki nama.

Misalnya, pekerjaan yg sebenarnya bukan pekerjaan utama seorang guru, tetapi sedikit demi sedikit menghabiskan energi yg seharusnya bisa diberikan kepada murid.

Satu pekerjaan tambahan.
Lalu pekerjaan lain.
Kemudian rapat.
Kemudian laporan.
Kemudian koordinasi.
Kemudian persoalan hubungan antar orang.
Kemudian tuntutan untuk selalu terlihat profesional.

Belum lagi persoalan kehidupan di rumah yg tidak otomatis hilang ketika seseorang memasuki gerbang sekolah.

Kita sering melihat guru sebagai profesi. Padahal di balik profesi itu ada manusia. Manusia membawa kehidupannya ke mana pun ia pergi. Mungkin itulah sebabnya beban guru sering seperti gunung es yang terlihat hanya bagian kecilnya.

Sementara bagian terbesarnya berada di bawah permukaan.

Kita melihat seorang guru tersenyum di depan kelas. Tetapi kita tidak tahu berapa kali ia menghela napas sebelum masuk kelas. Kita melihat ia berbicara dengan tenang kepada murid. 

Tetapi kita tidak tahu apakah beberapa menit sebelumnya ia sedang berusaha menenangkan dirinya sendiri. Kita melihat ia tetap bekerja. Tetapi kita tidak tahu berapa banyak energi yg sebenarnya sudah habis sebelum pekerjaan dimulai.

Barangkali yang paling melelahkan bukan selalu banyaknya pekerjaan. Tetapi perasaan bahwa semua itu harus dipikul sendirian.

Di sinilah saya mulai melihat kembali bahwa sekolah harusnya bukan hanya sebagai institusi pendidikan. Tetapi sebagai komunitas manusia.

Sebuah komunitas seharusnya bukan hanya tempat orang bekerja bersama. Ia seharusnya menjadi tempat orang merasa memiliki. Tempat seseorang merasa dilihat. Didengar. Diterima. Didukung dan ketika sedang tidak baik-baik saja, ia tidak harus berpura-pura baik-baik saja.

Dalam psikologi, kita mengenal pentingnya social support atau dukungan sosial. Dukungan dari orang lain bukan sekadar membuat seseorang merasa ditemani. Relasi sosial yg suportif dapat menjadi salah satu faktor protektif bagi kesejahteraan psikologis.

WHO bahkan menempatkan kesehatan mental di tempat kerja bukan semata sebagai urusan individu. Lingkungan kerja, kondisi kerja, dukungan sosial, stigma, diskriminasi, tuntutan pekerjaan, dan cara organisasi dikelola ikut berpengaruh terhadap kesehatan mental pekerja. 

WHO secara eksplisit menyebut bahwa pekerjaan dapat menjadi faktor pelindung bagi kesehatan mental, tetapi dalam kondisi tertentu juga dapat memperburuknya.

Jadi, ketika seorang guru berkata, “Capek.” Mungkin kita tidak perlu buru-buru menjawab, "Semua guru juga capek.”

Karena kalimat itu mungkin benar. Tetapi benar saja tidak selalu cukup. Kadang yg dibutuhkan seseorang bukan solusi. Kadang ia hanya membutuhkan seseorang yg berkata,

“Ya, saya dengar.”

Saya teringat kembali pada sesi dalam workshop itu. Mengapa seseorang bisa menangis ketika bercerita di depan orang-orang yg sebelumnya bahkan tidak terlalu dekat dengannya Mungkin karena selama ini ia tidak membutuhkan panggung. 

Ia membutuhkan ruang. Ruang untuk tidak menjadi guru selama beberapa menit. Ruang untuk menjadi manusia. Ruang untuk berkata,

“Saya sebenarnya sedang tidak baik2 saja.”

Tanpa takut dilabeli lemah.
Tanpa takut ceritanya menjadi bahan pembicaraan.
Tanpa takut dianggap tidak profesional.
Tanpa takut setelah menangis kemudian ada yg berkata, “Ah, ternyata dia tidak kuat.”

Justru di sinilah pentingnya rasa aman secara psikologis. Dalam sebuah kelompok, orang membutuhkan keyakinan bahwa ia dapat berbicara, bertanya, mengakui kesalahan, atau menunjukkan kerentanan tanpa dipermalukan atau dihukum secara sosial. Dan ini bukan berarti sekolah harus berubah menjadi ruang terapi.

Tidak.

Itu dua hal yang berbeda. Sekolah tidak menggantikan psikolog. Guru bukan psikolog. Teman bukan terapis. Circle time bukan ruang diagnosis. Tetapi sebuah komunitas dapat menjadi lingkungan yg lebih manusiawi. Ia dapat menjadi tempat pertama seseorang merasa tidak sendirian.

Saya teringat Bu Novi, co-founder GSM, pernah menyampaikan sebuah kalimat: “Kalau semua orang yg merasa punya beban psikologis harus ke psikolog, tidak akan cukup psikolog di dunia ini.”

Saya memahami kalimat itu bukan sebagai ajakan untuk menggantikan psikolog dengan komunitas.

Justru sebaliknya. Ia adalah pengingat bahwa kesehatan psikologis memiliki dimensi sosial. Tidak semua persoalan harus ditanggung sendirian sampai akhirnya menjadi krisis dan baru kemudian mencari pertolongan profesional. Ada ruang-ruang kecil yang bisa kita bangun jauh sebelum itu.

Ruang untuk mendengar. Ruang untuk berbicara. Ruang untuk saling menopang.

Dan ketika masalah memang membutuhkan bantuan profesional, komunitas justru seharusnya menjadi jembatan yang membantu seseorang mendapatkan bantuan, bukan menstigmatisasinya.

Saya juga mulai memahami mengapa saya kembali menulis pagi ini. Mungkin menulis memang bisa menjadi salah satu cara manusia merapikan isi kepalanya. Bukan karena setiap tulisan otomatis menjadi terapi. Bukan pula karena menulis dapat menggantikan psikoterapi.

Penelitian tentang expressive writing memang menunjukkan adanya manfaat tertentu dari menuangkan pengalaman dan emosi ke dalam tulisan, tetapi hasilnya tidak selalu seragam dan tidak boleh disederhanakan menjadi “menulis pasti menyembuhkan”.

Jadi mungkin lebih tepat jika saya mengatakan: menulis memberi saya ruang untuk menemui kembali apa yg selama ini hanya lewat di kepala.

Menulis membuat pengalaman yg tadinya hanya terasa menjadi sesuatu yang bisa dilihat. Kadang setelah ditulis, masalahnya tidak hilang. Tetapi saya bisa melihatnya dari jarak tertentu. Dan barangkali itu sudah cukup untuk memulai percakapan dengan diri sendiri.

Lalu saya membayangkan sekolah.

Bagaimana kalau sekolah tidak hanya bertanya,
“Bagaimana murid kita?”.

Tetapi juga,
“Bagaimana guru kita?”.

Bagaimana kalau ketika sekolah merancang ekosistem yg aman, nyaman, dan menyenangkan, pertanyaannya tidak berhenti pada murid?.

Sudahkah guru merasa aman?.
Sudahkah guru merasa didengar?.
Sudahkah guru merasa menjadi bagian dari komunitas?.
Sudahkah guru mempunyai ruang untuk bercerita?.
Sudahkah guru mempunyai seseorang yg bisa dipercaya ketika sedang tidak baik2 saja?.

Karena agak aneh jika kita meminta guru menciptakan ruang aman bagi murid sementara guru sendiri bekerja di ruang yg membuatnya merasa tidak aman.

Kita meminta guru mengajarkan regulasi emosi kepada murid, tetapi lingkungan kerjanya justru membuat ia harus terus-menerus menekan emosinya.

Kita berbicara tentang well-being murid, tetapi lupa bahwa orang dewasa yg menemani murid juga membutuhkan well-being.

Bagaimana mungkin seseorang terus menjadi tempat berteduh jika dirinya sendiri tidak pernah diberi kesempatan berteduh?

Saya memberanikan membayangkan sekolah yg berbeda.Bukan sekolah yang setiap orangnya selalu bahagia.

Itu terlalu utopis.

Bukan pula sekolah yang tidak memiliki konflik. Konflik akan selalu ada. Pekerjaan akan tetap banyak. Deadline akan tetap datang. Masalah tetap muncul.

Tetapi sekolah yg sehat mungkin bukan sekolah tanpa masalah. Melainkan sekolah yg membuat manusia tidak merasa harus menghadapi masalah sendirian.

Ada perbedaan besar di antara keduanya. Sekolah seperti itu membangun rasa memiliki. Ada solidaritas. Ada dukungan sosial. Ada makna bersama. Ada ruang untuk berbeda tanpa langsung diberi label.

Ada ruang untuk gagal tanpa dipermalukan. Ada ruang untuk mengatakan “saya belum bisa”. Ada ruang untuk berkata “saya sedang lelah”. Dan yang lebih penting: ada ruang untuk menjadi manusia.

Sebab komunitas yg sehat bukan komunitas yg membuat semua orang menjadi sama.
Ia justru memungkinkan orang tetap menjadi dirinya, sembari merasa menjadi bagian dari sesuatu yg lebih besar.

Sebaliknya, sekolah/komunitas bisa menjadi tempat yg melelahkan ketika yg tumbuh justru stigma, labeling, eksklusivitas, perundungan, diskriminasi, tekanan, atau konformitas yang membuat orang merasa harus terus menyesuaikan diri agar diterima.

Maka, membangun sekolah yg menyenangkan bukan perkara menempelkan poster bertuliskan “Sekolahku Rumah Keduaku.”

Rumah kedua itu harus terasa sebagai rumah.
Bukan hanya slogan rumah.

Dan mungkin inilah bagian yang paling penting.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa setiap guru yg menangis berarti mengalami gangguan psikologis.

Tidak.

Menangis adalah ekspresi manusiawi. Begitu pula lelah, kecewa, marah, takut, atau merasa kewalahan. Kita juga perlu berhati-hati agar tidak memediskan semua kesedihan.

Tetapi ketika seseorang berkali-kali menunjukkan penderitaan yg berat, fungsi hariannya terganggu, atau ia merasa tidak sanggup mengatasi apa yg dialaminya, komunitas perlu tahu kapan harus berhenti menjadi sekadar tempat mendengar dan mulai membantu menghubungkannya dengan bantuan profesional.

Itulah mengapa saya melihat keterampilan psikologis dasar menjadi penting bagi guru. Bukan agar guru berubah menjadi psikolog.
Tetapi agar guru memiliki kemampuan menjadi manusia yang lebih peka terhadap manusia lain.

Tahu kapan mendengarkan.
Tahu kapan bertanya.
Tahu kapan diam.
Tahu kapan tidak menghakimi.
Tahu kapan berkata, “Sepertinya ini sudah terlalu berat kalau kamu tanggung sendirian.”

Dan tahu kapan mengatakan, “Yuk, kita cari bantuan.”

Karena dukungan komunitas dan bantuan profesional bukan dua hal yg harus dipertentangkan.
Keduanya bisa saling melengkapi.

Saya kembali ke pagi ini. Ke meja. Ke tulisan yang awalnya hanya ingin menjadi tempat menuangkan pikiran. Ternyata saya malah kembali pada guru2 yg pernah duduk melingkar. Pada wajah2 yng mencoba tersenyum sebelum akhirnya menangis.

Pada cerita2 yg selama ini mungkin tidak pernah masuk dalam rapat. Pada beban yang tidak pernah tertulis dalam SK. Pada kelelahan yg tidak tercatat dalam absensi.

Dan saya semakin percaya: ada banyak hal yg tidak terlihat dalam diri seorang guru.

Barangkali itulah sekolah yg sebenarnya kita cita-citakan. Bukan sekolah yang hanya membuat murid tumbuh. Tetapi sekolah yang orang2 di dalamnya juga ikut bertumbuh.

Bukan sekolah yang hanya mengajarkan kehidupan.
Tetapi sekolah yg menjadi tempat manusia mengalami kehidupan dengan lebih manusiawi.
Bukan sekolah yang pura-pura semua orang baik-baik saja.

Tetapi sekolah yang cukup aman sehingga seseorang tidak perlu berpura-pura. Sebab sekolah sebagai komunitas seharusnya bukan sumber luka. Ia seharusnya menjadi salah satu tempat yang membantu manusia pulih, bertumbuh, dan menemukan kembali makna.

Tempat di mana guru bisa mengajar dengan hati karena hatinya juga punya tempat untuk beristirahat.

Dan mungkin, sebelum kita bertanya, “Apakah sekolah kita sudah aman, nyaman, dan menyenangkan bagi murid?”

Ada satu pertanyaan yg lebih sunyi, tetapi mungkin jauh lebih penting: “Apakah guru-guru  yang setiap hari menciptakan rasa aman bagi murid itu sendiri sudah merasa aman di sekolahnya?”

Karena sulit menjadi rumah bagi orang lain, jika kita sendiri tidak pernah merasa punya rumah.

Dan mungkin, sekolah yang paling menyenangkan bukanlah sekolah yg paling banyak membuat orang tertawa.

Melainkan sekolah/komunitas yg membuat orang merasa: “Di sini, saya tidak harus menghadapi semuanya sendirian.”

Terimakasih sudah memberikan masukan dan saran
EmoticonEmoticon

This Newest Prev Post
 

Start typing and press Enter to search

Catatan: