Oleh: Andi Zulkarnain (Guru SMP Negeri 1 Prambanan) Jum'at 30 Oktober 2026, 06:01 WIB
![]() |
| Suasana Stupa Prambana (Sumber:Dokpri) |
Jam makan siang itu, di sebuah warung sederhana berdinding bambu di pinggir jalan alternatif Klaten–Prambanan, aroma bumbu bakar dan sambal segar menari-nari bersama semilir angin.
Di hadapan saya terhidang sepiring nasi hangat dan ikan kali bakar, menu yang selalu menenangkan jiwa seperti pelukan hangat masa kecil.
Terdiskon oleh hiruk-pikuk kota, aneka iwak kali (ikan sungai) hasil tangkapan lokal tersaji menggugah selera: wader renyah, kutuk, urang, mujaer, lele, hingga pepes kepiting sungai (orang jawa bilang: yuyu) yang kaya rempah.
Dari sudut meja kayu warung ini, ujung stupa Candi Prambanan masih terlihat mengintip tipis. Namun, bayangannya tak lagi setegas dulu. Beberapa dekade lalu, panorama dari titik ini sungguh menawan dan lapang.
Kompleks candi berdiri gagah nan megah tanpa terhalang apa pun. Latar belakangnya adalah hamparan sawah hijau membentang, yang perlahan menguning saat musim panen tiba.
Dahulu, pemandangan itu senantiasa diwarnai derap langkah para petani yang membawa ani-ani dan tenggok, siap memetik bulir-bulir padi dengan penuh rasa syukur.
Tak jauh dari situ, aliran Sungai Opak mengalir jernih berkelok-kelok bak lukisan alam. Angin yang bertiup lembut dari lereng Situs Ratu Boko seolah membawa bisikan sejarah dan keagungan peradaban masa lalu, sebuah harmoni sempurna antara karya manusia dan kelestarian alam.
Kini, lanskap bersahaja itu perlahan berubah wajah. Deretan perumahan "siap huni" dan bangunan beton tumbuh subur bak jamur di musim hujan, dipagari baliho-baliho promosi properti berwarna mencolok.
Suara alami seperti cengkerama burung gereja, riak air sungai, serta nyanyian kodok dan jangkrik kini tenggelam oleh deru mesin bor, klakson kendaraan, dan deru truk pengangkut material bangunan.
Petak demi petak sawah dijual, diratakan dengan tanah, lalu dikalkulasi dingin dalam satuan meter persegi.
"Mas... Sekarang sawah di belakang warung ini sudah beralih fungsi jadi kompleks hunian,... Dulu kalau makan di sini, Candi Prambanan kelihatan utuh dari kaki sampai ujung stupanya," ujar pemilik warung sembari menuangkan teh hangat manis. "Lama-lama, mungkin cuma atap genteng tetangga yang kelihatan dari sini."
Ucapannya menyiratkan nostalgia sekaligus kepasrahan atas nama modernisasi.
Namun di balik riuk perubahan tersebut, dalam hati kecil saya masih menyimpan harapan agar warisan budaya peninggalan Wangsa Sanjaya ini tetap terjaga keutuhannya. Bukan hanya candinya yang dipugar dan dirawat, melainkan juga ruang hidup dan lanskap di sekitarnya.
Harapan agar Prambanan tak benar-benar tenggelam di balik rimba beton dan genteng perumahan.
Sebab, yang perlu kita rawat dan wariskan bukan sekadar struktur batu megalit yang bisu, melainkan juga lanskap jiwa, sebuah kesadaran kolektif bahwa sejarah, kelestarian alam, dan kenangan masa lalu tidak boleh habis dikubur oleh keserakahan zaman.
Terimakasih sudah memberikan masukan dan saran
EmoticonEmoticon