Oleh: Andi Zulkarnain (Guru SMP Negeri 1 Prambanan) Jum'at 30 Oktober 2026, 10:20 WIB
Setiap dua minggu sekali pada hari Jumat, yang berselang-seling dengan agenda Jumat Sehat berkeliling kampung, halaman sekolah mendadak berubah fungsi menjadi hamparan sajadah raksasa. Kegiatan inilah yang kami sebut sebagai Jumat Religi.
Bagi dunia pendidikan modern, sekolah sering kali diidentikkan sebagai pabrik pencetak kecerdasan kognitif. Anggapan ini tentu tidak keliru, tetapi sekolah sejatinya memiliki misi yang jauh lebih luhur: merawat nurani dan membentuk karakter.
Di sinilah rutinitas Salat Duha berjamaah hadir sebagai penyeimbang, menjadi sebuah oase penyejuk di tengah padatnya jadwal akademis.
Keterbatasan yang Melahirkan Kebersamaan
Kapasitas mushola sekolah yang kecil dan sempit mulanya menjadi tantangan tersendiri. Menampung seluruh warga sekolah dalam satu ruang ibadah yang terbatas tentu mustahil dilakukan. Namun, keterbatasan tidak lantas menyurutkan niat baik.
Lapangan upacara SMPN 1 Prambanan pun disulap menjadi tempat salat terbuka dengan menggelar deretan tikar secara gotong royong. Menariknya, salat di bawah langit terbuka beralaskan tikar sederhana justru menghadirkan nuansa kekhusyukan yang berbeda.
Dibawah pimpinan imam Bapak Mulyadi, S.Pd., M.Pd., hamparan saf-saf yang lurus di bawah terik matahari pagi yang hangat mengajarkan kesederhanaan dan kesetaraan.
Di atas tikar yang sama, berdiri bahu-membahu antara siswa kelas VII, VIII, IX, hingga para guru dan staf. Tidak ada sekat; yang ada hanyalah hamba-hamba yang bersimpuh di hadapan Sang Pencipta.
Getaran Asmaul Husna dan Teladan Sang Rasul
Usai salam penutup salat Duha, rangkaian ibadah dilanjutkan dengan pembacaan Asmaul Husna bersama-sama. Suasana perlahan menjadi semakin syahdu tatkala ratusan suara berpadu melantunkan gema nama-nama agung Allah di ruang terbuka. Momen reflektif ini kerap menghadirkan getaran tersendiri di lubuk hati—melembutkan jiwa siapa saja yang mengikutinya.
Puncak dari kegiatan Jumat Religi kali ini diisi dengan kultum singkat yang dibawakan oleh Rama, siswa kelas IXA. Dengan tenang dan penuh percaya diri, Rama menyampaikan pesan mendalam bertema "Rasulullah sebagai Suri Tauladan".
Kesempatan ini menjadi wadah experiential learning yang luar biasa bagi siswa untuk melatih keberanian public speaking, mengasah retorika dakwah, serta memikul tanggung jawab moral sebagai penggerak kebaikan di hadapan teman-teman sebayanya.
Investasi Jangka Panjang Dunia Pendidikan
Pendidikan karakter sering kali sulit diukur sekadar dengan angka di buku rapor. Ia adalah akumulasi dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang ditanamkan secara konsisten. Melalui Jumat Religi, SMPN 1 Prambanan berupaya memupuk keimanan dan ketakwaan secara praktis, bukan sekadar teori akademis di dalam kelas.
Ketika bel berbunyi dan para siswa kembali masuk ke kelas untuk mengikuti pelajaran seperti biasa, ada energi dan ketenangan baru yang terpancar dari wajah mereka. Pikiran yang tadinya mungkin penat, kini telah disegarkan kembali oleh siraman rohani.
Pada akhirnya, Jumat Religi mengajarkan bahwa pendidikan karakter terbaik adalah yang menyentuh ranah afektif secara langsung. Dari lapangan sekolah yang sederhana beralaskan tikar, tunas-tunas bangsa ini sedang dibimbing untuk menyeimbangkan kecerdasan akal dan kedalaman jiwa, demi menyongsong masa depan dengan fondasi moral yang kokoh.
Terimakasih sudah memberikan masukan dan saran
EmoticonEmoticon