-->

Garda, Penjaga Sungai

- 05.23
advertise here

Oleh: Syahrial, S.T (Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Kelapa Kampit) Sabtu, 3 Oktober 2026, 05:23 WIB


Ilustrasi Menggunakan Chat-GPT 

Setiap pagi, Garda si berang-berang muda berangkat dari liangnya menuju dua arah yang berbeda. Satu arah menuju Bendungan Batu, tempat Raja Beruang dan para pembesar hutan biasa berkumpul. 

Satu arah lagi menuju Kampung Hilir, tempat ratusan hewan kecil tinggal di tepi sungai. Tapi hampir setiap hari, hanya satu arah yang benar-benar ia tempuh.

Garda baru saja diangkat menjadi Penjaga Sungai, menggantikan penjaga lama yang sudah pensiun. Tugasnya sederhana saja menurut aturan: menjaga agar air sungai mengalir adil untuk semua, dari hulu sampai hilir.

***

"Garda, hari ini kamu harus berjaga di dekat Bendungan Batu," titah salah satu penasihat Raja Beruang pada suatu pagi. "Raja ingin terlihat aman dan dihormati ketika para tamu dari hutan lain berkunjung."

Garda pun berjaga seharian di sana, berdiri gagah di depan bendungan sambil sesekali diperlihatkan kepada tamu-tamu penting sebagai bukti betapa amannya Bendungan Batu.

Sementara itu, jauh di Kampung Hilir, air sungai mulai surut karena bendungan menahan terlalu banyak air untuk kolam pribadi Raja Beruang. Katak-katak kecil kehilangan tempat berenang. Ikan-ikan harus berdesakan di genangan yang makin menyempit.

"Kami sudah lapor ke Penjaga Sungai tiga hari lalu," keluh seekor katak kepada tetangganya. "Tapi Garda belum juga datang memeriksa."

Kabar itu akhirnya sampai ke telinga Garda lewat seekor burung pipit yang terbang bolak-balik antara hulu dan hilir. "Mereka menunggumu, Garda," kata burung pipit itu. "Tapi mereka juga bilang, kalaupun kamu tidak datang, mereka sudah biasa tidak didengar."

Garda merasa tidak enak hati mendengarnya. Ia sempat berniat berangkat ke Kampung Hilir sore itu juga. Tapi belum sempat ia melangkah, salah satu penasihat Raja Beruang sudah memanggilnya lagi. 

"Garda, kembali ke Bendungan Batu. Raja mendapat keluhan dari beberapa penghuni hutan besar, dan kita perlu terlihat cepat menanganinya."

Garda menimbang sejenak. Keluhan di hilir sudah tiga hari belum ditangani, sementara keluhan di Bendungan Batu baru saja masuk. Tapi karena yang memanggil adalah penasihat raja, Garda akhirnya kembali berbalik arah, meninggalkan niatnya ke Kampung Hilir untuk hari itu.

***

Minggu-minggu berikutnya berjalan dengan pola yang sama. Setiap kali ada keributan di dekat Bendungan Batu (sekecil apa pun itu) Garda langsung dikerahkan ke sana. Sementara laporan dari Kampung Hilir, meski menumpuk, selalu ditangani belakangan, kadang baru diperiksa berhari-hari kemudian.

Lama-lama, warga Kampung Hilir berhenti melapor sama sekali. "Percuma," kata mereka. "Garda cuma datang kalau dipanggil penguasa, bukan kalau kami yang butuh." 

Bahkan ada yang mulai menghindar setiap kali melihat Garda lewat, bukan karena takut melanggar aturan, tapi karena malas berharap pada penjaga yang menurut mereka hanya berpihak pada atasan.

Suatu malam, Garda duduk sendirian di tepi sungai, mendengar suara air yang makin pelan mengalir ke hilir. Ia teringat kata-kata penjaga lama sebelum pensiun dulu: "Garda, seragammu sama saja dipakai di mana pun kamu berjaga. Tapi yang membedakan kamu dijaga rakyat atau ditakuti rakyat, adalah ke mana kakimu lebih sering melangkah."

Garda tersadar. Selama ini ia mengukur keberhasilannya dari seberapa sering Raja Beruang memujinya di depan tamu. Padahal, yang sebenarnya penting adalah seberapa cepat ia menolong Kampung Hilir ketika mereka membutuhkannya.

***

Esok paginya, ketika penasihat Raja Beruang kembali memintanya berjaga di Bendungan Batu untuk alasan yang tidak terlalu mendesak, Garda untuk pertama kalinya berani menjawab, "Maaf, hari ini aku harus memeriksa laporan dari Kampung Hilir dulu. Air di sana sudah surut berhari-hari, dan belum ada yang menolong mereka."

Penasihat itu terkejut, bahkan sempat mengancam akan melaporkan Garda kepada Raja Beruang. Tapi Garda tetap pergi ke hilir hari itu. Ia membuka sedikit pintu air di Bendungan Batu agar aliran sungai kembali adil, memeriksa langsung kondisi katak dan ikan yang mengeluh, mendengarkan satu per satu keluhan yang selama ini menumpuk, dan berjanji akan datang lebih cepat lain kali.

Ketika akhirnya dipanggil menghadap Raja Beruang untuk menjelaskan keputusannya, Garda menjawab dengan tenang, "Hamba tetap menjaga Bendungan Batu, Baginda. 

Tapi menjaga sungai berarti menjaga semua yang bergantung padanya, bukan hanya yang paling dekat dengan istana." Raja Beruang terdiam lama, lalu mengangguk pelan—bukan karena sepenuhnya setuju, tapi karena tidak punya alasan untuk membantahnya.

Sejak hari itu, Garda membuat aturan sendiri untuk dirinya: setiap laporan dari Kampung Hilir harus ia periksa paling lambat keesokan harinya, bukan ditunda sampai berminggu-minggu. Ia juga mengizinkan siapa saja mengawasi caranya bekerja, termasuk burung pipit yang biasa membawa kabar, supaya semua tahu ia benar-benar menjaga, bukan hanya terlihat menjaga.

Perlahan, warga Kampung Hilir mulai melapor lagi. Bukan karena takut, tapi karena mereka percaya laporan mereka akan benar-benar didengar.

"Seragam boleh sama," kata Garda suatu hari kepada seekor berang-berang muda yang baru mulai magang menjadi penjaga, "tapi penjaga yang dikenang rakyat adalah penjaga yang lebih sering melangkah ke tempat rakyat membutuhkannya, bukan ke tempat yang paling terlihat oleh penguasa."

TAMAT

Terimakasih sudah memberikan masukan dan saran
EmoticonEmoticon

This Newest Prev Post
 

Start typing and press Enter to search

Catatan: