Oleh: Rapi Pradipta (Penulis Buku Lawang Umah dan Nirmala/Plt Kepala Sekolah SD Negeri 4 Lepar) Sabtu 7 November 2026, 06:12 WIB
Setiap senja menguning seorang pria tua dengan dua gelas kopi duduk diteras rumah. Satu untuk dirinya, dan satu lagi entah untuk siapa.
Orang-orang yang lewat menyebutnya gila. Setelah 5 tahun lalu meninggal istrinya, ia masih sering duduk diteras, bercerita pada kursi kosong: tentang harga lada, tentang sumur yang mengering, hingga tentang penyesalannya.
Suatu hari, seorang pemuda datang membawa sepucuk surat.
“Pak, saya anak kecil itu. Anak yang dulu bapak titipkan di panti asuhan.”
“Panti asuhan?”
“Ibu bilang saya harus pulang sebelum beliau meninggal” ia melangkah mendekat memberikan sepucuk surat.
Pria tua itu gemertar. Ia membaca dengan seksama surat itu. Berulang: satu, dua, tiga, dan hingga kesekian kalinya. Lalu ia mempersilahkan pemuda itu masuk.
Malam ini rintik hujan kembali datanng dan untuk kesekian kalinya, pria tua itu lagi-lagi membuat kopi untuk kursi disebelahnya.
Pemuda itu memandang dengan penuh pertanyaan.
“Orang-orang bilang, bapak biasanya bikin dua gelas kopi setiap duduk diteras”
Pria tua itu hanya tersenyum tipis.
“Yang satu untuk ibumu. Semenjak ia meninggal, aku selalu berharap ia kembali suatu hari nanti.”
“Dan sekarang yang hadir justru kamu”
Pria tua itu berbisik. Nyaris tak terdengar.
“Maafkan aku nak. Ayahmu sudah meninggal 35 tahun yang lalu. Aku hanya orang yang dulu selalu mencintai ibumu, namun tak pernah berani melamarnya.”
Kopi di kursi sebelah mendingin tanpa pernah disentuh.
Terimakasih sudah memberikan masukan dan saran
EmoticonEmoticon