Oleh: Rusmin Sopian (Penggiat Literasi Kab. Bangka Selatan) Senin, 5 Oktober 2026, 19:29 WIB
![]() |
| Ilustrasi Perempuan Penjaga Tradisi (Sumber: MetaAi) |
Cahaya rembulan memucat bak kain kafan. Perempuan setengah baya itu tampak diliputi sebuah perasaan yang menandakan bahwa malam ini adalah gilirannya yang akan dijemput maut.
Burung liar sudah seminggu ini hinggap di pohon besar yang tak jauh dari rumahnya. Aroma kematian semerbak.
Dia tampaknya sadar bahwa kematian amat akrab dengan manusia.
"Kalau Ibu meninggal, kamu harus menggantikan ibu sebagai seorang penari. Kamu harus menari untuk menghibur warga yang butuh hiburan. Berikan mereka kebahagiaan walaupun cuma lewat tarian mu,” pesan Ibunya dengan suara lirih. Bahkan hampir tidak terdengar di telinganya.
Perempuan muda itu terdiam. Matanya memerah menahan kesedihan melihat ibunya yang tinggal tulang belulang.
Wajah Ibunya layu bagaikan daun kering yang dilahap cahaya matahari.
Dulu pesona kecantikan Ibunya tak tertandingi. Kemasyhuran namanya sebagai penari menembus hingga ke Kampung-kampung terluar.
Bahkan mampu menaklukkan hati para pembesar dari berbagai pelosok untuk blusukan ke Kampung demi melihat dirinya tampil di atas panggung.
Gerakan tubuhnya saat menari di atas panggung sangat luwes. Mempesona para penyaksi.Sementara tangan-tangan jahil berusaha menjamahnya atas nama saweran. Suara-suara nakal membisikkan hamparan harapan di telinganya.
Kini, semua itu hanya memori. Kenangan hidup. Sebagai catatan sejarah kehidupannya sebagai manusia. Hanya dalam tempo sejenak, sepertinya Ibunya akan kembali ke pangkuan Allah SWT, Sang Maha Pencipta.
Mata sedihnya menatap keluar jendela. Tatapannya menjalang ke arah sebuah pohon manggis yang rindang yang tumbuh di belakang rumah mereka. Seiring terhentinya nafas kehidupan sang Ibu. Narasi sakral pun menggema. " Innalilahi wa Innailaihi Rojiun " menggetarkan semesta.
"Ibumu adalah perempuan hebat. Penjaga tradisi dan budaya di Desa kita ini. Beliau adalah pewaris terakhir sebagai pelestari tarian di Desa kita," ungkap tokoh pemangku adat Desa.
Perempuan itu terdiam.
“Ibumu adalah perempuan perkasa. Bukan hanya sosok yang berperan di balik dapur dan rumah tangga, tetapi sebagai orang yang tak kenal lelah menjaga tarian yang merupakan adat budaya Desa kita yang telah diwariskan nenek moyang kita di Desa ini," lanjut Tokoh Pemangku Adat.
"Tapi Pak," sergah Perempuan muda itu.
"Ibumu adalah orang yang menjaga adat dan budaya kita tetap hidup. Ibumu rela mengorbankan kebahagian dirinya untuk melestarikan tarian yang menjadi budaya kita. Lanjutkan amanahnya biar adat dan budaya kita tetap hidup," saran Pemangku Adat Desa.
"Kamu itu sarjana. Masak jadi penari tradisional. Tarian tradisional itukan kuno," ucap seorang temannya.
"Tarian tradisional itu tidak relevan lagi di era modern ini. Kalah gengsi. Nggak populer lagi. Kamu ingin melestarikannya hanya karena pesan Ibumu. Apa kata dunia ," sambung seorang temannya yang lain.
Perempuan muda itu diam. Membisu. Mulutnya terkunci rapat.
Senja menyembunyikan pucuk-pucuk cemara. Pertanda sudah memasuki gerbang malam.
Sekumpulan camar menari diatas langit biru mengundang decak mata. Sejuta keindahan karunia Sang Maha Pencipta. Sementara diujung timur muncul senyum purnama berwajah memesona.
Di rumah ayahnya yang berarsitektur kuno, terdengar suara narasi seorang lelaki setengah baya. Dia adalah ayah dari perempuan muda itu. Suaranya berbalut nasehat penuh arif bijaksana.
"Kamu sudah dewasa. Sebagai orang tua, kami cuma bisa mendoakanmu," ucapnya tenang.
"Sebagai orang tua kami mendukung setiap keputusan mu. Kamu tahu mana yang baik dan mana yang buruk," sambung ayahnya.
Perempuan muda itu terdiam. Mematung.
Ingatannya memutar waktu. Beberapa tahun silam. Kembali ke masa lalu. Saat dirinya menyatakan ingin kuliah.
Dan dirinya teringat saat sang Ayah memutuskan untuk berpisah dengan Ibunya yang terlalu sibuk dengan urusan menari.
Cahaya rembulan menggairahkan. Kerlap kerlip bintang mengornanen malam. Perempuan penari itu mengguncangkan pentas hiburan di acara pernikahan anak Pak Kades.
Semua penonton memandang ke arahnya. Tangannya berayun-ayun. Kakinya menghentak.
Sementara pinggulnya bergetar dengan sangat indah. Membuat para penonton makin terlarut dalam emosi jiwa yang menerawang kemana-mana.
Hamparan peluh membalur tubuhnya. Dan tepuk tangan dari penonton terus membahana. Ramaikan malam. Riuhkan semesta.
Jiwa-jiwa liar berusaha mendekat. Menjamah tubuhnya dengan saweran. Semua yang ada dalam diri sang penari menawarkan kenikmatan.
Memberikan sejuta kebahagiaan buat para penonton.
Diksi pujian terus disenandungkan para penonton untuk dirinya.
”Terus….terus…,” teriak para penonton dengan koor yang bergemuruh penuh kegairahan.
Cahaya rembulan mulai membangkrut. Di ruang tamu sebuah keluarga, suara penghuninya terus bergema. Mengalahkan suara pembaca berita di televisi.
”Dia penari,” teriak seorang lelaki setengah baya dengan nada intonasi suara yang meninggi.
”Apa haram, aku menikah dengan seorang penari?," tanya seorang anak muda dengan nada suara intonasi yang meninggi pula. Ini adalah intonasi tajam yang pertama kali disampaikannya kepada sang Bapak.
”Kita ini keluarga terhormat, Nak. Tolong, jangan kawini dia. Jangan rendahkan martabat keluarga besar kita. Masih banyak perempuan lain di kampung ini. Apa perlu Bapak mu ini mencarikan perempuan untukmu sebagai istri yang baik dan dari keluarga yang baik pula,” pinta Bapaknya.
Anak muda itu mengelus dadanya yang bidang. Tatapan matanya tajam menatap ke arah Bapaknya. Tatapan mata yang membersitkan kesedihan dalam hatinya sebagai seorang lelaki sejati yang pernah mengucapkan janji.
Tiupan angin laut senja itu membelai rambut perempuan penari itu. Hembusan angin laut senja itu juga membelai rambut lelaki muda yang tampak kusut.
Kicau camar yang terbang melayang di angkasa biru mengundang sejuta keindahan. Sementara hamparan keindahan pasir pantai makin menenggelamkan keduanya dalam emosi jiwa.
”Engkau tidak usah risau. Saya akan menikahi mu. Saya tak peduli dengan omongan orang. Saya ingin meraih kebahagiaan . Bersamamu, saya bahagia” ucapnya.
Perempuan penari itu terdiam. Matanya menatap ke arah pelangi. Sementara matahari mulai menidurkan diri. Menenggelamkan cahaya garangnya. Seiring hadirnya cahaya emas dari rembulan yang mulai datang dengan terbata-bata. Sementara linangan airmata mengalir dari kelopak matanya yang terlihat lembab.
Dari arah timur, bentangan cahaya purnama muncul dengan sejuta cahayanya yang mempesona. Orang-orang berduyun-duyun menuju kesebuah acara pesta kampung.
Malam ini kembali warga Kampung jiwanya terbahagia. Perempuan penari itu kembali tampil di panggung hiburan Kampung.
Jemari lentik perempuan penari itu berayun-ayun. Dadanya naik turun. Sepasang kakinya yang indah terus bergerak dan bergerak. Menapak panggung yang terbuat dari papan.
Mata muda anak muda itu tak berkedip menatap sang penari. Tubuhnya pun ikut bergoyang. Sementara jiwa mudanya terus bergejolak. Ingin diraihnya tangan perempuan penari itu. Tapi tak mampu. Dia hanya menatap perempuan penari itu dari jauh. Sementara para penonton disamping kiri kananya terus mendesis suara kagum.
”Penari itu sangat piawai dalam menari,” puji seorang penonton.
"Dia seperti Ibunya dulu. Penari terkenal," sahut penonton yang berkacamata.
”Dan dia juga sangat cantik,” celetuk penonton yang memakai sarung
”Sungguh berbahagialah lelaki yang mendapatkannya. Bahagia lahir batin,” sambung penonton yang bertopi.
Lelaki muda itu hanya bisa menelan ludah mendengar ocehan nakal para penonton. Telinganya tak tahan mendengar suara emosi jiwa penonton yang memuji pesona penari itu.
Dadanya bergemuruh layaknya genderang yang ditabuh untuk mengobarkan semangat perang. Hatinya teriris-iris. Luka pun menganga dalam jiwa mudanya. Dan tiba-tiba dia merasa matanya menggelap. Menggelap.
Di kejauhan terdengar syair lagu dari sebuah tape recorder sebuah mobil. Sangat syahdu menemani malam yang makin menyusut.
Penari,
Dikau bagaikan Dewi
Tetapi seolah ada sesuatu yang tersembunyi
Penari, mungkin kau telah tersiksa
Jalan pilihan mu telah membelenggu
Penari,
Kau boneka jelita
Pesona cerah tubuhmu terbalut sendu
Sadarlah jika bukan profesi
Impian bukanlah suatu obsesi
Penari.....
Toboali, 2026
Bionarasi: Rusmin Sopian adalah penulis dan penggiat literasi yang tinggal di Toboali Bangka Selatan. Suami Sulastri dan dua putrinya yang cantik serta Kakek dua orang cucu yang bernama Nayyara Aghnia Yuna dan Muhammad Arkhana Nofiandy saat ini berkehidupan di Toboali.
Terimakasih sudah memberikan masukan dan saran
EmoticonEmoticon