-->

People Come and Go: Tentang Hidup, Kehilangan, dan Waktu yang Kita Miliki

- 05.09
advertise here
Oleh: Amelia Fitriani (Penggiat Literasi Satupena Bangka - Belitung) Rabu, 7 Oktober 2026, 05:09 WIB

Ilustrasi Kepergian (Sumber: Dokpri)

The trouble is, you think you have time

Dalam perjalanan menuju Magelang untuk melayat seorang kerabat yang sangat dekat, ada banyak hal yang melintas di pikiran saya. 

Perjalanan kali ini bukan sekadar tentang mendatangi rumah duka, menyampaikan belasungkawa, atau memberikan penghormatan terakhir kepada seseorang yang pernah menjadi bagian penting dalam kehidupan keluarga. 

Ada sesuatu yang lebih dalam yang justru muncul di sepanjang perjalanan, yakni sebuah perenungan tentang kehidupan, kematian, dan betapa terbatasnya waktu yang kita miliki.

Kematian selalu punya cara sendiri untuk membuat manusia berhenti sejenak. Di tengah kehidupan yang begitu sibuk, kita sering kali lupa bahwa hidup bukan sesuatu yang bisa kita pastikan keberlangsungannya. 

Kita terbiasa membuat rencana untuk esok hari, menyusun target untuk tahun depan, mengejar sesuatu yang belum kita miliki, bahkan terkadang terlalu sibuk memikirkan masa depan sampai lupa benar-benar hadir di hari ini.

Kita hidup seolah-olah waktu selalu tersedia. Padahal, tidak ada yang benar-benar tahu berapa banyak waktu yang tersisa untuk kita, maupun orang-orang yang kita sayangi.

Ada sebuah ungkapan yang cukup populer: people come and go. Manusia datang dan pergi. Kita bertemu banyak orang dalam perjalanan hidup, membangun hubungan, berbagi cerita, menciptakan kenangan, lalu pada suatu titik harus menerima bahwa tidak semua orang akan terus bersama kita.

Namun, ada perbedaan besar antara seseorang yang pergi karena memilih jalan hidupnya sendiri dan seseorang yang pergi karena kematian. 

Pada kepergian yang pertama, mungkin masih ada kesempatan untuk bertemu kembali. Masih ada kemungkinan untuk memperbaiki hubungan, mengirim pesan, atau sekadar menanyakan kabar. 

Sementara kematian menutup kemungkinan-kemungkinan itu dengan cara yang tidak selalu bisa kita persiapkan. Dan di situlah kehilangan terasa begitu nyata.

Saya teringat pada buku _Four Thousand Weeks: Time Management for Mortals_ karya Oliver Burkeman. Dalam buku tersebut, Burkeman mengajak kita melihat kehidupan dari perspektif keterbatasan waktu. 

Ia menggunakan gambaran bahwa jika seseorang hidup sampai usia 80 tahun, ia hanya memiliki sekitar empat ribu minggu kehidupan.

Angka itu terasa sederhana, tetapi cukup untuk membuat kita berpikir ulang.

Selama ini, kita mungkin terlalu sibuk mencari cara untuk mengelola waktu agar lebih produktif. Membuat daftar pekerjaan, mengejar pencapaian, mengatur agenda, dan berusaha menyelesaikan sebanyak mungkin hal. 

Kita seolah percaya bahwa dengan pengelolaan waktu yang baik, kita bisa mendapatkan lebih banyak kehidupan.

Namun, barangkali persoalannya bukan tentang seberapa banyak hal yang bisa kita selesaikan, melainkan tentang apa yang sebenarnya layak mendapatkan waktu kita.

Sebab, pada akhirnya, kita tidak mungkin melakukan semuanya. Kita tidak mungkin berada di semua tempat, memenuhi semua keinginan, atau memiliki seluruh kesempatan. 

Hidup memiliki batas, dan menerima batas itu justru menjadi bagian penting dari memahami maknanya.

Menariknya, pelajaran tentang kehidupan justru banyak datang dari seseorang yang sedang bersiap menghadapi kematian.

Mungkin memang demikian. Kesadaran tentang kematian sering kali membuat kita melihat kehidupan dengan perspektif yang berbeda. 

Hal-hal yang sebelumnya terasa biasa menjadi lebih berarti. Percakapan sederhana, makan bersama, kehadiran seseorang di rumah, atau kesempatan untuk sekadar mendengar suara orang yang kita sayangi, bisa menjadi sesuatu yang sangat berharga ketika kesempatan itu tidak lagi tersedia.

Lalu, apa sebenarnya makna hidup?

Saya tidak yakin ada satu jawaban yang berlaku untuk semua orang. Setiap manusia memiliki perjalanan, pengalaman, dan cara masing-masing dalam menemukan makna kehidupannya. 

Bagi sebagian orang, makna hidup mungkin ditemukan melalui pencapaian. Bagi yang lain, melalui keluarga, pekerjaan, karya, pengabdian, atau hal-hal sederhana yang memberikan kebahagiaan.

Namun, perjalanan melayat kali ini membuat saya berpikir bahwa mungkin makna hidup tidak selalu harus ditemukan melalui sesuatu yang besar.

Barangkali makna hidup juga hadir dalam bagaimana kita menggunakan waktu yang tersedia. Bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang hadir di sekitar kita. 

Bagaimana kita memberikan perhatian, menyampaikan kasih sayang, memaafkan, dan menciptakan sesuatu yang tetap memiliki arti bahkan ketika kita tidak lagi berada di sana.

Sebab, kita tidak pernah benar-benar tahu kapan sebuah pertemuan menjadi pertemuan terakhir.

Kita juga tidak pernah tahu kapan seseorang yang hari ini masih bisa kita ajak berbincang, besok hanya bisa kita kenang melalui cerita.

Kematian memang mengambil kehadiran seseorang, tetapi ia juga meninggalkan pertanyaan bagi mereka yang masih hidup, sudahkah kita menjalani kehidupan dengan cukup sadar?

Saya rasa, mengingat kematian bukan berarti harus menjalani hidup dengan ketakutan. Justru sebaliknya, kesadaran bahwa kehidupan memiliki batas seharusnya membuat kita lebih berani menentukan apa yang penting dan melepaskan hal-hal yang tidak perlu terus-menerus kita kejar.

Tidak semua hal harus dimenangkan. Tidak semua perdebatan harus dimenangkan. Tidak semua ambisi harus dipenuhi. Dan tidak semua waktu harus dihabiskan untuk sesuatu yang pada akhirnya tidak memberikan makna bagi kehidupan kita.

Ada orang-orang yang datang dan pergi. Ada yang meninggalkan cerita, ada yang meninggalkan pelajaran, dan ada yang meninggalkan ruang kosong yang tidak pernah benar-benar bisa diisi oleh siapa pun.

Kita mungkin tidak memiliki kendali atas berapa lama seseorang akan tinggal dalam kehidupan kita. Namun, kita masih memiliki kesempatan untuk menentukan bagaimana kita memperlakukan mereka selama kesempatan itu ada.

Pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang berapa lama kita tinggal di dunia, tetapi juga tentang apa yang kita lakukan dengan waktu yang diberikan kepada kita.

Mungkin, itulah salah satu cara paling sederhana untuk memahami makna hidup, yakni belajar menghargai kehadiran sebelum berubah menjadi kehilangan, mencintai sebelum terlambat, dan menjalani hari ini tanpa terus-menerus menunda hal-hal yang sebenarnya berarti.

Sebab, kita semua sedang berjalan menuju akhir yang sama. Hanya saja, tidak seorang pun tahu kapan waktunya tiba. ***

Terimakasih sudah memberikan masukan dan saran
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search

Catatan: