Oleh: Yoga Hidayatullah, S.Pd (Guru PJOK SD Negeri 27 Toboali) Jum'at 16 Oktober 2026, 05:42 WIB
![]() |
| Ilustrasi Peluit Sakti (Sumber:MetaAi) |
Sopan santun adalah aturan dasar permainan kehidupan. Jika kita
ibaratkan sekolah seperti sebuah pertandingan sepak bola, maka setiap siswa
adalah pemain, guru adalah pelatih, dan aturan sopan santun adalah peraturan
yang harus dipatuhi agar permainan berjalan dengan baik.
Dulu, ketika bertemu guru, siswa terbiasa mengucapkan salam, permisi, menyapa, meminta izin, mengucapkan terima kasih, dan meminta maaf Namun sekarang, hal-hal sederhana tersebut perlahan mulai menghilang.
Ada yang
berjalan melewati guru tanpa menyapa, masuk ruangan tanpa permisi, bahkan
ketika dinasihati masih merasa biasa saja.
Padahal guru sudah berkali-kali mengingatkan.
Lalu, apakah ini salah guru?
Belum tentu.
Dalam permainan sepak bola, seorang pelatih sudah memberikan
arahan: “Jaga posisi! Oper bolanya! Jangan bermain sendiri!” Namun ketika
pertandingan berlangsung, pemain tetap harus menjalankan arahan tersebut. Kalau
pemain tidak mau mendengar, bukan berarti pelatih tidak pernah mengajarkan.
Begitu pula di sekolah. Guru sudah mengingatkan, mengajarkan,
memberi contoh, bahkan menegur. Tetapi sopan santun tidak akan tumbuh jika
siswa sendiri tidak mau membiasakannya.
Hal seperti ini yang mulai hilang :
“Assalamu'alaikum, Pak/Bu.” “Permisi” “Terima kasih.” “Maaf.”
“Boleh saya lewat?” “Izin, Pak/Bu.”
Kalimat-kalimat sederhana tersebut mungkin hanya membutuhkan
beberapa detik, tetapi menunjukkan bahwa kita menghargai orang lain.
Jika dalam sepak bola sebuah tim ingin kembali menang, mereka
harus memperbaiki permainan dari dasar. Sama dengan hal sopan santun kita mulai
dari hal kecil.
Masuk sekolah dengan salam. Bertemu guru dengan menyapa. Lewat di
depan orang lain dengan permisi. Melakukan kesalahan dengan meminta maaf.
Menerima bantuan dengan mengucapkan terima kasih. Mendengarkan ketika guru
berbicara.
Jangan sampai kita sibuk mengejar prestasi, tetapi lupa membangun
karakter. Siswa pintar belum tentu dia adalah pribadi baik. Siswa yang memiliki sopan santun akan membawa
kebaikan ke mana pun ia pergi.
PESAN UNTUK KITA SEMUA
Kalau permainan sopan santun kita sedang menurun, jangan saling
menyalahkan. Mari perbaiki permainan bersama.
Guru terus memberikan contoh. Orang tua terus memberikan teladan.
Siswa mulai membiasakan diri.
Karena pertandingan kehidupan tidak dimenangkan oleh pemain yang
paling hebat, tetapi oleh mereka yang mau mengikuti aturan, menghargai teman
satu tim, menghormati pelatih, dan terus memperbaiki diri.
Mari kita mulai lagi dari peluit pertama: SALAM, PERMISI, MAAF,
TERIMA KASIH, DAN HORMAT KEPADA SESAMA.
Sopan santun mungkin sederhana, tetapi kehilangan sopan santun bisa menghilangkan nilai dari sebuah pendidikan.
Terimakasih sudah memberikan masukan dan saran
EmoticonEmoticon