Oleh: Ummi Sulis (Guru SD Negeri 3 Pulau Besar) Minggu 11 Oktober 2026, 05:27 WIB
![]() |
| Ilustrasi Cerita (Sumber: Dokpri) |
Sore yang santai. Abi dan Ummi baru saja pulang dari sekolah, ada kegiatan KKG di Gugus. Abang dan Adek sudah rapi dan wangi. Mereka tampak asyik di depan tablet menonton film kartun kesukaan mereka.
"Abi gak jadi ngajak kita jalan-jalan, Bi? tanya Adek sesaat Abi muncul dari dapur.
"Masih capek, Dek, baru juga sampai rumah," kilah Abi.
"Hmmm, janjinya dibatalin sajakah?" tanya Adek lagi. "Terus, kami sudah rapi dan wangi ini, mubazir, dong?" sungut Adek
"Ya Allah, segitunya menagih janji?" Abi tertawa.
Ummi muncul dari dapur membawa kacang rebus dan seteko teh. Ummi menuangkan teh yang masih panas ke gelas kecil, kemudian duduk di sebelah Abi.
"Belajar apa tadi di sekolah?" tanya Ummi pada dua beradik itu.
"Belajar kebakaran jenggot, Mi," jawab Abang. Dia mulai mengupas kulit kacang dan memakan kacang-kacang itu dengan cekatan.
"Hah, maksudnya?" Ummi sedikit bingung.
"Halah, Abang mau bakar jenggot Abi, kan karena jalan-jalannya gak jadi," sewot Adek. Tampak wajah kesalnya semakin menjadi.
"Idih, nuduh. Aku kan memang bilang tadi belajar kebakaran jenggot. Kata itu yg diingat, gampang dan jenggotnya tiap hari dilihat, hahaha. Malah Adek sewot. Jadinya ya, Adek seperti kebakaran jenggot, pas dengan majas yang baru dipelajari tadi di sekolah." Abang tertawa. Kacang di mulutnya terlihat jelas. Hadeh, dasar anak-anak! Mulut penuh biji kacang tanah malah tertawa.
"Mana jenggotnya yang kebakar. Punya aja enggak, kok bisa bilang kebakar!" cibir Adek.
"Namanya majas, Dek, majas metafora kata Bu Guru. Seperti kiasan. Bukan makna yang sebenarnya." Abang kembali mengunyah kacang tanah.
"Makan yang bener, Bang, kacang-kacang di mulutmu hampir lari keluar." Ummi mengingatkan.
"Hehe, habis, Adek lucu. Kata kiasan jadi beneran." Abang kembali mengupas kulit kacang.
"Lama-lama habis sama Abang sendiri kacang rebusnya." Abi menyingkirkan piring agar tangan Abang tidak menjangkau.
"Ih, Abi pelit."
"Emang, janji jalan-jalan gak ditepati!" sungut Adek.
"Cie, yang lagi kebakaran jenggot ..." goda Abang. Tangannya langsung mengambil kacang yang dipegang Abi. "Hah, dapet!"
"Ah, licik. Ngambil pas orang lagi lengah." Abi langsung mengangkat piring sambil tertawa.
""Bi, kasihan Adek tuh. merajuk. Ajaklah orangnya jalan-jalan," kata Abang membujuk.
"Iya, deh, sebentar lagi, Abi istirahat sebentar." Abi berselonjor di kursi.
Mendengar kata iya, deh, Adek langsung tersenyum senang. Agar tidak ketahuan semringah wajahnya, Adek pura-pura mengambil teh hangat, meminumnya dengan bahagia. Abi dan Ummi hanya tersenyum menyaksikan si Bungsu ceria kembali.
Sekarang bukan hanya membahas kebakaran jenggot, kebakaran hutan dan lahan bahkan pemukiman seperti yang terjadi di pemukiman padat penduduk Desa Serdang, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan. Kejadian yang menghanguskan 400 rumah ini adalah kejadian luar biasa yang terjadi selama tahun 2026.
Semoga kemarau segera berakhir, sumber air kembali pulih, dan tidak ada lagi kejadian pilu akibat kata kebakaran, seperti kemaraunya hati Adek yang berlalu karena janji yang tertunaikan.
Terimakasih sudah memberikan masukan dan saran
EmoticonEmoticon