Oleh: Askoni, S.Pd, (Guru SD Negeri 19 Toboali) Sabtu, 24 Oktober 2026, 05:14 WIB
![]() |
| Ilustrasi Pohon Serdang (Sumber: Meta.Ai) |
Ringkasan Tulisan ▼
Sebuah pohon menjulang tinggi menyerupai pohon pinang
berdiri di halaman sebuah rumah kayu yang sepi. Batangnya gagah, daunnya
rindang, dan dari tubuhnya tercium aroma wangi yang menenangkan jiwa. Namun, di
balik keindahan pohon itu, tersimpan kisah yang menyayat hati.
Konon, jika angin bertiup lembut pada sore hari, dari balik rimbun daunnya
terdengar bisikan ghaib yang pilu:
"Ayahku... pohon ini adalah kami, Putri Seroja
dan Dadang. Jika Ayah benar-benar menyayangi kami, jagalah pohon ini..."
Siapakah Putri Seroja dan Dadang? Mengapa nyawa mereka
menyatu dalam sebatang pohon misterius yang kelak dinamai pohon Serdang?
Alkisah, pada zaman dahulu kala, berdiri sebuah
kerajaan Melayu yang makmur dan tenteram. Kerajaan tersebut dipimpin oleh Raja
Arman dan Ratu Siti Maimunah. Baginda adalah sosok raja yang adil dan
bijaksana, sedangkan Sang Ratu terkenal sangat dermawan. Rakyat amat mencintai
mereka.
Namun, di balik kejayaan itu, duka menyelimuti istana.
Raja dan Ratu belum dikaruniai seorang anak pun. Usia mereka kian senja,
sementara takhta kerajaan belum memiliki penerus.
Pada suatu malam, Raja Arman duduk termenung di balai
istana. Langit malam tampak kelam, seakan memahami kegelisahan hatinya. Ratu
Siti Maimunah melangkah perlahan menghampiri suaminya.
"Wahai Kanda, mengapa Engkau terlihat begitu
gelisah?" sapa Sang Ratu lembut.
Raja Arman menghela napas panjang. "Wahai Dinda,
umur kita makin tua, tetapi kita belum juga dikaruniai anak. Bagaimana nasib
kerajaan ini tanpa seorang penerus?"
Mendengar hal itu, mata Ratu Siti Maimunah berkaca-kaca. "Maafkan hamba,
Kanda. Dinda belum bisa memberikan keturunan. Hamba merasa gagal menjadi
seorang istri."
Raja Arman segera merengkuh tubuh istrinya dengan penuh kehangatan.
"Dinda, jangan pernah berkata seperti itu. Ini semua adalah kehendak Yang
Mahakuasa. Bukankah kita telah berikhtiar bersama?"
Malam itu, Ratu tidur dalam kesedihan. Di dalam
tidurnya, ia mengalami sebuah mimpi aneh. Ia bertemu dengan seorang nenek tua
yang tampak kebingungan mencari buah kurma di halaman istana.
"Nenek, mengapa Nenek tampak bersedih?"
tanya Ratu di dalam mimpinya.
"Aku ingin membeli buah kurma, tetapi uangku
tidak cukup," ujar nenek itu lirih. "Kulihat di halaman rumahmu
banyak sekali buah kurma. Bolehkah aku meminta setangkai?"
Tanpa ragu, Ratu memetik setangkai kurma yang lebat dan menyerahkannya kepada nenek tua itu.
Nenek itu tersenyum gembira.
"Engkau orang yang sangat baik. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu dan
mengabulkan segala keinginanmu."
Sebelum pergi, nenek tua itu menyodorkan dua butir
buah kurma kepada Ratu. Ratu sempat ragu, tetapi sang nenek memaksa.
"Makanlah kurma ini pada malam hari sebelum tidur. Atas izin Allah,
keinginanmu akan terwujud."
Ratu hendak mengucapkan terima kasih, tetapi nenek itu berjalan sangat cepat
lalu menghilang. Ratu pun tersentak dan terbangun dari tidurnya.
Keesokan harinya, Ratu terperanjat saat menemukan dua butir buah kurma
benar-benar tergeletak di atas meja kamarnya. Dengan hati berdebar, Ratu
menyimpan kurma tersebut. Pada malam harinya, sebelum beradu tidur, Ratu
memakan kurma itu seraya berdoa dengan penuh kekhusyukan.
Beberapa waktu berlalu. Suatu pagi, Ratu merasa mual,
tubuhnya lemas, dan kepalanya pusing. Raja segera memanggil tabib istana.
Setelah memeriksa keadaan Ratu, tabib berlutut memberi hormat.
"Ampun Tuanku, berita bahagia untuk Kerajaan.
Baginda Ratu tengah mengandung," ujar tabib.
Raja Arman seakan tak percaya. "Wahai Tabib,
benarkah yang kauucapkan ini?"
"Benar, Tuanku. Hamba tidak berdusta," jawab tabib pasti.
Raja Arman bersujud syukur lalu memeluk istrinya rapat-rapat. Sukacita meliput
seluruh pelosok istana.
Sembilan bulan kemudian, Ratu melahirkan seorang bayi
perempuan yang amat jelita. Bayi itu diberi nama Putri Seroja. Kerajaan menggelar
pesta syukuran besar-besaran. Seluruh rakyat diundang tanpa terkecuali untuk
merayakan kebahagiaan tersebut.
Tahun demi tahun berganti. Putri Seroja tumbuh menjadi gadis yang tidak hanya
cantik jelita, tetapi juga berhati mulia dan tidak sombong. Ia senang bergaul
dengan rakyat biasa.
Suatu hari, saat berkunjung ke pasar Desa, pandangan Putri Seroja tertambat
pada seorang pemuda tampan yang sedang merangkai bunga. Pemuda itu bekerja
dengan tekun tanpa memedulikan keramaian di sekitarnya.
"Wahai Dayang, siapakah gerangan pemuda itu?" tanya Putri Seroja
berbisik.
"Beliau adalah Dadang, penjual bunga dari desa
seberang, Tuan Putri," jawab sang dayang.
Sejak hari itu, bayangan Dadang selalu hadir dalam
pikiran Sang Putri. Dengan bantuan dayangnya, Putri Seroja memberanikan diri
mengunjungi rumah sederhana milik Dadang di desa seberang.
"Waha Tuan Putri, ada gerangan apa Tuan Putri
sudi datang ke gubuk hamba yang hina ini?" tanya Dadang terkejut saat
melihat kehadiran sang putri raja.
"Aku hanya ingin berkenalan denganmu, Kang,"
jawab Putri Seroja malu-malu.
Seiring berjalannya waktu, benih-benih cinta tumbuh di
antara mereka. Hubungan mereka kian erat hingga pada suatu hari, Putri Seroja
berkata, "Wahai Kanda, hubungan kita sudah cukup lama. Maukah Kanda
melamarku?"
Dadang menunduk ragu. "Dinda, Engkau adalah
seorang putri raja, sedangkan aku hanyalah seorang penjual bunga. Mana mungkin
orang tuamu mau menerimaku?"
"Jika Kanda benar-benar mencintaiku, datanglah ke
istana dan lamarlah aku di hadapan Ayahanda," tegas Putri Seroja
meyakinkan.
Dengan keberanian yang didorong oleh rasa cinta,
Dadang melangkah ke istana. Di hadapan Raja Arman, ia menyampaikan niat
tulusnya.
"Wahai Baginda Raja, hamba Dadang, seorang
penjual bunga. Hamba datang untuk meminang Putri Seroja," ucap Dadang
mantap.
Mendengar hal itu, wajah Raja Arman memerah. Baginda
merasa martabat kerajaannya diinjak-injak.
"Berani sekali engkau, Anak Muda!" bentak
Raja Arman murka. "Putriku seorang bangsawan, sedangkan engkau hanyalah
penjual bunga miskin! Jangan bermimpi! Pergi dari sini sebelum kutebas
lehermu!"
Dadang pulang dengan hati hancur. Sementara itu, Putri
Seroja merasa sangat kecewa pada keputusan ayahnya. Ia mengurung diri di kamar
berhari-hari. Karena rasa rindu yang tak tertahankan, Putri Seroja akhirnya
nekat melarikan diri dari istana menuju rumah Dadang.
Mengetahui putrinya hilang, istana gempar. Raja Arman
menduga keras bahwa putrinya berada di rumah Dadang. Dengan emosi yang
membakar, Raja mengumpulkan para pengawal.
Sebelum Raja berangkat, Ratu menyentuh lengan suaminya
seraya berpesan, "Wahai Kanda, janganlah Engkau menuruti amarah hingga
melakukan hal di luar nalar yang akan membuatmu menyesal di kemudian
hari." Namun, pesan itu diabaikan oleh Raja.
Raja Arman dan para pengawalnya tiba di rumah Dadang.
Baginda melihat Putri Seroja sedang tertidur lelah di teras, sementara Dadang
duduk merangkai bunga di sampingnya.
"Anak muda jahat! Kau telah menculik
putriku!" teriak Raja Arman seraya menarik pedangnya.
Dadang terkejut lalu berdiri. "Ampun Baginda,
hamba tidak menculiknya. Tuan Putri sendiri yang datang kemari!"
Pertengkaran sengit tak terelakkan. Perkelahian pecah
ketika Raja memerintahkan pengawal menghabisi Dadang. Karena jumlah musuh yang
tidak seimbang, Dadang terdesak dan terluka parah.
Putri Seroja terbangun karena kegaduhan itu.
Mengabaikan histeris Sang Putri, Raja Arman yang telah gelap mata menghujamkan
pedangnya ke arah Dadang.
Melihat bahaya menghampiri kekasihnya, Putri Seroja
berlari dan memasrahkan tubuhnya menjadi perisai.
Zasss!
Pedang tajam itu menembus tubuh Putri Seroja. Darah
segar mengalir membasahi bumi.
"Dinda!" jerit Dadang sebelum akhirnya
rubuh.
Dengan sisa tenaga dan air mata yang mengalir deras,
Putri Seroja merangkul tubuh Dadang yang tak bernyawa. Ia menyeret tubuh
kekasihnya menuju tepi galian lubang besar di halaman rumah itu.
Sambil menatap ayahnya yang mematung syok, Putri
Seroja berteriak, "Ayahanda, maafkan aku... Aku tidak bisa hidup tanpa
orang yang kucintai. Aku memilih mati bersamanya!"
Putri Seroja melompat ke dalam lubang dalam kondisi
memeluk Dadang.
"Anakkuuuu!" jerit Raja Arman histeris.
Baginda bersimpuh di tepi lubang, memukuli tanah dengan penyesalan yang luar
biasa. Namun, semuanya sudah terlambat.
Tiba-tiba, dari dalam lubang galian itu, tumbuh sebuah
pohon ajaib yang menjulang tinggi menyerupai pohon pinang. Pohon itu
memancarkan aroma bunga yang sangat wangi. Dari arah pohon tersebut, terdengar
gema suara Putri Seroja dan Dadang:
"Ayahku... pohon ini adalah jelmaan kami, Putri
Seroja dan Dadang. Jika Ayah benar-benar menyayangi kami, jagalah pohon ini.
Terima kasih, Ayah. Maafkan kami..."
Raja Arman pulang ke istana dengan jiwa yang hancur.
Ketika mendengar kabar duka tersebut, Ratu Siti Maimunah pingsan dan jatuh
sakit sakaratulmaut karena terus meratapi kepergian putri tunggalnya.
Meski dalam keadaan sakit dan tua, Raja dan Ratu
senantiasa mendatangi halaman rumah itu untuk merawat pohon tersebut dengan
penuh kasih sayang. Untuk mengenang putrinya dan calon menantunya, Raja menamai
tumbuhan ajaib itu Pohon Serdang (singkatan dari nama Seroja dan Dadang).
Tak lama kemudian, Ratu meninggal dunia karena duka
yang mendalam. Disulut rasa bersalah dan kesedihan yang bertumpuk, Raja Arman
pun menghembuskan napas terakhirnya tidak lama setelahnya.
Untuk mengenang kisah cinta sejati Putri Seroja dan
Dadang, serta penyesalan mendalam Sang Raja, masyarakat setempat menamai
wilayah pemukiman di sekitar tempat tersebut sebagai Desa Serdang.
Informasi Sumber Cerita & Biodata Penulis
Narasumber: Tokoh Masyarakat, Ketua Adat, dan Kepala
Desa Serdang.
Daftar Pustaka: Askoni. (2023). Asal-usul Desa
Serdang. Bangka Belitung.
BIODATA PENULIS
Askoni lahir pada tanggal 8 Maret 1988 di Desa
Serdang, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Bangka Belitung.
Beliau merupakan putra dari pasangan Asikin dan Yana, serta anak ke-7 dari 8
bersaudara.
Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri 19
Toboali (2001), SMP Negeri 1 Toboali (2004), dan SMA Negeri 1 Toboali (2007).
Di antara delapan bersaudara, penulis dan seorang adiknya berhasil menamatkan
pendidikan hingga jenjang Sarjana (S1).
Perjalanan karier penulis penuh dengan ketekunan. Penulis pernah mengabdi sebagai penjaga sekolah di SD Negeri 19 Toboali selama 3 tahun, sembari mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris untuk siswa kelas 5. Atas dorongan Kepala Sekolah, penulis melanjutkan pendidikan pada program studi S-1 PGSD pada tahun 2015 dan resmi meraih gelar sarjana pada tahun 2020. Sejak tahun 2015, penulis aktif mengajar sebagai Guru Tidak Tetap (GTT) di SD Negeri 19 Toboali dan telah berpengalaman mengampu kelas 1, 2, serta 3.
Di luar aktivitas mengajar, penulis adalah sosok yang pekerja keras dan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Penulis bekerja sebagai petani, menjadi petugas TPS dalam pemilu, Pembina Pramuka, serta pelatih PBB (Pasukan Pengibar Bendera) yang berhasil mengantarkan timnya menjuarai lomba PBB tingkat desa dan kabupaten.
Penulis juga memiliki minat yang besar di bidang
olahraga. Beliau pernah menjuarai lomba lari maraton tingkat desa, aktif
bermain bola voli, serta membina tim voli desa. Dalam dunia pendidikan, penulis
aktif membimbing siswa dalam ajang O2SN cabang bulu tangkis dan voli, mengikuti
kegiatan KKG tingkat gugus, serta organisasi PGRI tingkat ranting dan
kecamatan.
Di bidang literasi, penulis pernah menulis cerita untuk lomba perpustakaan pada tahun 2020. Penulis memegang teguh prinsip bahwa menjadi guru adalah cita-cita mulia sejak kecil untuk mendidik dan mencerdaskan anak bangsa.
Terimakasih sudah memberikan masukan dan saran
EmoticonEmoticon