-->

Gulungan Daun Lontar

- 17.26
advertise here

Oleh: Syahrial, S.T (Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Kelapa Kampit) Minggu, 26 September 2026, 17:20 WIB

Ilustrasi Pembacaan Gulungan Lontar (Sumber: ChatGPT)

Gulungan Daun Lontar

Gulungan daun lontar itu terjatuh dari cengkeraman Kira untuk kesekian kalinya. Kelinci kecil itu menghela napas panjang, lalu menyingkirkannya ke tumpukan gulungan lain di sudut liangnya—tumpukan yang makin hari makin tinggi, berisi cerita-cerita yang tak satu pun pernah ia selesaikan.

Kira suka sekali memulai cerita baru. Setiap kali melihat gulungan daun berisi kisah tentang negeri jauh, atau petualangan hewan-hewan pemberani, matanya berbinar dan ia langsung membacanya sambil duduk di bawah pohon ara. Tapi begitu cerita mulai rumit, atau tokohnya mengalami masalah yang berat, Kira selalu berhenti. "Nanti saja disambung," katanya, lalu gulungan itu berakhir di tumpukan.

"Kenapa tidak pernah ada yang selesai kamu baca, Kira?" tanya Bibi Owa suatu sore, sambil menunjuk tumpukan gulungan yang menggunung.

"Habis, kalau sendirian, aku suka bosan di tengah jalan," jawab Kira jujur. "Apalagi kalau ceritanya berat. Rasanya lebih enak mulai cerita baru yang seru dari awal."

***

Suatu pagi, Kira mendengar kabar tentang sekelompok hewan muda di seberang sungai yang menamakan diri mereka Klub Daun. Setiap hari Sabtu, mereka berkumpul di bawah pohon

beringin besar, membawa satu gulungan cerita yang sama, lalu menceritakan apa yang mereka rasakan setelah membacanya sepanjang minggu.

Karena penasaran, Kira memberanikan diri datang. Di sana ada Gading si anak gajah, Ceki si tokek kecil, dan beberapa hewan lain yang duduk melingkar. Pemimpin klub itu, seekor burung tua bernama Nirmala, membagikan satu gulungan daun yang sama kepada semua yang hadir.

"Minggu ini kita baca kisah 'Rusa yang Kehilangan Tanduknya'," kata Nirmala. "Bacalah pelan-pelan sepanjang minggu. Sabtu depan, ceritakan bagian mana yang paling membekas untukmu—boleh dengan kata-kata, boleh dengan gambar, boleh juga dengan nyanyian."

Kira ragu. "Bagaimana kalau aku bosan di tengah jalan seperti biasanya?"

Gading, si anak gajah, tertawa kecil. "Aku juga dulu begitu. Tapi coba saja dulu. Kalau bosan, kita bisa cerita ke yang lain, siapa tahu mereka justru sampai di bagian yang bikin semangat lagi."

***

Sepanjang minggu itu, Kira membawa gulungan "Rusa yang Kehilangan Tanduknya" ke mana-mana. Ia membacanya sedikit demi sedikit—kadang tiga baris sebelum tidur, kadang setengah halaman sambil menunggu air minum di sungai. Ada bagian yang membuatnya ingin berhenti, ketika sang Rusa merasa malu dan bersembunyi dari teman-temannya karena tanduknya patah. Rasanya terlalu berat, terlalu sedih untuk dibaca sendirian.

Malam Rabu, Kira hampir menyerah. Gulungan itu sudah tergeletak di sudut liang, hampir bergabung dengan tumpukan lama. "Ah, sudahlah," gumamnya sambil menguap. "Toh tidak ada yang tahu kalau aku berhenti di tengah jalan lagi."

Tapi begitu ia memejamkan mata, wajah Gading terbayang, mengucapkan kalimatnya lagi: coba saja dulu, kalau bosan, kita bisa cerita ke yang lain. Kira membuka mata, meraih kembali gulungan itu, dan membaca tiga baris lagi sebelum benar-benar tertidur. Esoknya ia membaca tiga baris lagi. Begitu seterusnya, sedikit demi sedikit, sampai akhirnya cerita itu mendekati bagian yang paling ia takutkan.

Kira ingat kata-kata Gading. Ia menuliskan perasaannya di secarik daun kecil: "Aku sedih membaca bagian Rusa bersembunyi. Rasanya seperti dia takut dianggap tidak berguna lagi."

Sabtu berikutnya, saat semua berkumpul lagi di bawah pohon beringin, satu per satu hewan membagikan apa yang mereka rasakan. Ceki si tokek bercerita sambil menggambar sang Rusa di atas batu pipih, lengkap dengan tanduk yang patah di satu sisi. "Aku gambar begini," katanya, "supaya ingat kalau kelihatan berbeda itu bukan berarti kelihatan buruk." Gading menceritakan bagaimana ia dulu juga pernah merasa berbeda dari gajah-gajah lain karena

telinganya lebih kecil, dan bagaimana ia sempat malu setiap kali berkumpul dengan gajah-gajah besar dari kawanan seberang bukit.

Nirmala mendengarkan semuanya sambil sesekali mengangguk. "Lihat," katanya kepada seluruh kelompok, "satu cerita yang sama, tapi setiap dari kalian menemukan bagian berbeda yang paling membekas. Itulah gunanya membaca sambil bercerita bersama—cerita yang sama bisa memberi makna berbeda untuk setiap orang, dan makna itu baru terasa penuh kalau dibagikan."

Ketika giliran Kira, ia membacakan tulisannya dengan suara bergetar. Ternyata, dua hewan lain mengaku merasakan hal yang persis sama saat membaca bagian itu. Untuk pertama kalinya, Kira merasa ceritanya bukan sekadar deretan kata di gulungan daun, melainkan sesuatu yang benar-benar hidup—dan ia tidak sendirian merasakannya.

Minggu-minggu berikutnya, Kira tetap datang. Ia menyelesaikan gulungan "Rusa yang Kehilangan Tanduknya" sampai akhir, lalu gulungan berikutnya, dan berikutnya lagi. Bukan karena ceritanya selalu ringan, tapi karena setiap kali ia merasa ingin berhenti, ada teman-teman di Klub Daun yang menunggunya untuk bercerita bersama pada hari Sabtu.

***

Bertahun-tahun kemudian, tumpukan gulungan yang belum selesai di liang Kira sudah tidak ada lagi. Yang ada justru rak kecil berisi gulungan-gulungan yang sudah ia baca tuntas, masing-masing dengan catatan kecil di ujungnya—perasaan yang pernah ia bagikan di bawah pohon beringin.

Suatu hari, seekor kelinci muda lain datang ke Klub Daun, membawa satu gulungan yang baru dibaca separuh jalan lalu ditinggalkan.

"Aku selalu bosan di tengah cerita kalau baca sendirian," katanya, mirip sekali dengan Kira dulu.

Kira tersenyum, lalu duduk di sampingnya. "Aku juga dulu begitu," katanya. "Ternyata bukan ceritanya yang terlalu berat. Kita saja yang belum menemukan teman yang tepat untuk membacanya bersama."

TAMAT

Terimakasih sudah memberikan masukan dan saran
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search

Catatan: